Ahad 28 Nov 2021 10:57 WIB

Kemenag Minta Mahasiswa PTKI Buat Karya Kekinian

Mahasiswa PTKI memiliki kelebihan memadukan sains dan agama.

Rep: Muhyiddin/ Red: Friska Yolandha
Anggota dewan Juri lomba cabang astronomi islam (kanan) melihat karya peserta dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo berupa teknologi peralatan untuk menentukan arah kiblat dan waktu shalat pada grand final Olimpiade Agama, Sains dan Riset (OASE) I tahun 2021 di gedung fakultas Saintek UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Aceh, Jumat (26/11/2021). OASE I tahun 2021 diikuti 184 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dan Swasta dari seluruh Indonesia yang mempertandingkan 23 cabang lomba dengan jumlah peserta sebanyak 2.955 orang.
Foto: Antara/Irwansyah Putra
Anggota dewan Juri lomba cabang astronomi islam (kanan) melihat karya peserta dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo berupa teknologi peralatan untuk menentukan arah kiblat dan waktu shalat pada grand final Olimpiade Agama, Sains dan Riset (OASE) I tahun 2021 di gedung fakultas Saintek UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Aceh, Jumat (26/11/2021). OASE I tahun 2021 diikuti 184 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dan Swasta dari seluruh Indonesia yang mempertandingkan 23 cabang lomba dengan jumlah peserta sebanyak 2.955 orang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani meminta kepada mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) untuk membuat karya yang kekinian. Hal ini disampaikan Ali Ramdhan saat melakukan kunjungan ke pameran karya mahasiswa PTKI dalam kegiatan Olimpiade Agama, Sains dan Riset (OASE) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) tahun 2021. 

"Karya kita harus kekinian pada satu sisi. Pada sisi lain untuk menjamin agar ilmu ini bermanfaat maka pendidikan agama tidak boleh dilepaskan dari pendidikan kita," ujar Ali saat mengunjungi booth pameran OASE PTKI 2021 di UIN Ar Raniry, Banda Aceh, Sabtu (27/11). 

Dia menjelaskan, mahasiswa PTKI memiliki kelebihan daripada mahasiswa di kampus-kampus lainnya. Karena, menurut dia, mahasiswa PTKI dapat memadukan antara sains dan agama. 

"Mahasiswa-mahasiswa kita adalah orang yang memahami teknologi dalam satu perspektif, dalam perspektif lain juga memahmi agama secara kuat," ucapnya.

 

Dia mengatakan, OASE PTKI 2021 ini juga merupakan hilirisasi dari ilmu pengetahuan yang dipelajari para mahasiswa PTKI di seluruh Indonesia. Karena itu, menurut dia, kegiatan ini harus  bisa digelar setiap tahunnya.

"Harusnya ada (setiap tahunnya). Karena forum ini adalah forim bertukar pikiran, berdialektika membangun gagasan bersama untuk merealiasikan sesuatu hal yang secaea teoritik pada dunia yang lebih nyata," kata Ali. 

OASE PTKI tahun ini adalah yang pertama dalam sejarah dan UIN Ar Raniry ditunjuk sebagai tuan rumah. Kepala Seksi Kemahasiswaan Subdit Sarana-Prasarana dan Kemahasiswaan Ditjen Pendis Kemenag, Amiruddin Kuba mengapresiasi sikap tuan rumah yang lebih memprioritaskan kualitas penyelenggaraan daripada mengejar gelar juara.

"Ini adalah sebuah sikap yang mencerminkan tanggung jawab dan visi jauh ke depan," katanya di area kompetisi offline Karya Inovasi di Gedung Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar Raniry.

Dalam Grand Final OASE PTKI 2021 itu digelar secara daring dan luring. Terdapat 11 cabang karya inovasi yang dilombakan secara luring, yakni Literasi dan Inovasi Teknologi, Nanoteknologi, Produk Halal dan Ketahanan Pangan, Iklim, Limbah, Lingkungan dan Sumberdaya Terbarukan.

Kemudian cabang Deteksi dan Mitigasi Bencana, Sosial Keagamaan, Media Pembelajaran, Astronomi Islam atau Ilmu Falak, Robotik dan Programming, dan Desain Arsitektur Islam.

Sementara itu, ada delapan bidang lomba yang digelar secara daring, yaitu Sains (Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi), Karya Inovasi, Debat Ilmiah, Pemilihan Dai Mahasiswa, Business Plan, Qiratul Kutub, Fahmil Quran, dan Bidang Story Telling.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement