Ahad 05 Sep 2021 12:53 WIB

Legenda Sholawat Badar yang Terkenal Jelang Gestapu PKI

Sholawat Badar diciptakan KH. Ali Manshur Shiddiq pada 1962, terkenal jelang Gestapu

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Muhammad Subarkah
Penangkapan para pelaku pemberontakan PKI 1948. Dalam tragedi ini banyak sekali Kiai NU yang dibunuh PKI dengan sadis.
Foto: gahetna.nl
Penangkapan para pelaku pemberontakan PKI 1948. Dalam tragedi ini banyak sekali Kiai NU yang dibunuh PKI dengan sadis.

REPUBLIKA.CO.ID, Siapa tak kenal sholawat Badr. Di berbagai pehelatan dari pertemuan biasa sampai pertemuan penting, misalnya pelantikan presiden (pertama kali terdengar ketika Gus Dur terpilih jadi presiden di Gedung MPR Senayan) alunan sholat ini terdengar. Bahkan semakin hari semakin riuh dan kian menjadi hal lazim.

Sholawat itu berisi pujian kepada Nabi Muhammad dan para pejuang Islam dalam perang Badar, palagan pertama mempertahankan eksistensi Islam kala Madinah diserbu tentara Qurais. Jumlah pasukan antara kedua kubu itu sama sekali sangat tidak berimbang. Pasukan Islam hanya sekitar 300 orang sedangkan pasukan Qurais lebih dari 1.000 orang.

Peristwa itu sangat menentukan bagi eksistensi Islam. Sampai-sampau Rasullah SAW berdoa khusus agar Allah memberikan perlindungan karena bila saat itu kalah maka Islam akan lenyap dari muka bumi. Pasukan Islam kemudian memenangkan pertempuran, meski harus kehilangan banyak tokoh, seperti paman nabi, UBAIDAH bin Harits. Dia termasuk paman dari Rasululah SAW, saudara sepupu dari ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib.

photo
Kerangan foto:KH Makhrus Ali penulis stair shalwar Badr - (Istimewa)

 

 

Semangat perjuangan itulah yang dilekatkan dalam syair Sholawat Badr yang ditulis KH Ali Manshur Shiddiq. Sholawat itu kini membahana di mana-mana. Untuk itu wajar bila Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa  perhatian khusus. Dia memberikan penghargaan berupa piagam dan lencana tanda kehormatan Jer Basuki Mawa Beya Emas kepada KH. Ali Manshur Shiddiq, sebagai pencipta syair Sholawat Badar. Pemberian penghargaan bertepatan dengan Haul ke 51 KH. Ali Manshur Shiddiq pada 3 September 2021.

Khofifah menjelaskan, Sholawat Badar ini diciptakan KH. Ali Manshur Shiddiq pada 1962 pascadekrit 1959 dan semakin terkenal jelang meletusnya Gestapu di 1965. Dimana pada tahun tersebut situasi politik di Indonesia sedang tidak menentu. Pada peristiwa itu, Sholawat Badar sering dikumandangkan.

 

Tak hanya itu, kata Khofifah, pada 1998  di saat Indonesia mengalami krisis moneter yang cukup dalam, media elektronik termasuk televisi dan radio-radio juga ramai mengumandangkan Sholawat Badar. Begitu juga dengan para pekerja di perkantoran sudah secara reflek mengumandangkan Sholawat Badar. 

 

"Pada saat negara ini mengalami krisis moneter yang sangat dalam tahun 98-99, rasanya peneduh dan penenang dari suasana yang secara ekonomis kita mengalami krisis yang sangat dalam, adalah lantunan dari Sholawat Badar," kata Khofifah melalui siaran tertulis yang diterima Ahad (5/9).

 

Sholawat Badar, kata Khofifah, juga merupakan sholawat penyemangat bagi kader NU yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Syair-syair dan doa yang ada pada Sholawat tersebut dapat mendorong kegigihan perjuangan pada saat itu sembari mengharap syafaat Nabi Muhammad dan berkah dari Allah SWT. 

 

"Melalui Sholawat Badar ini pula, semangat perjuangan para santri dan kaum Nahdliyin dapat dikobarkan. Karena selama berjuang melawan pemberontakan waktu itu Sholawat inilah yang selalu dibaca," ujar Khofifah.

 

photo
Keterangan foto: Rakyat tuntut pembubaran PKI pada era pemerintahan Soekarno pada 1965. - (perpunas)

 

 

Khofifah menambahkan, atas karya masterpiece dan kepeloporan perjuangan KH. Ali Manshur Shiddiq itu, KH. Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU juga pernah memberi penghargaan Bintang NU pada Muktamar ke-29 NU di PP Krapyak Yogyakarta, pada 1989. Kemudian juga dikuatkan dengan Penghargaan Bidang Kebudayaan yang diberikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam Peringatan Harlah ke-92 NU pada 31 Januari 2018.

 

"Beliau adalah putra daerah asal Jatim yang punya reputasi internasional melalui Syair Sholawat Badar, sehingga  penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi dari Pemprov Jatim kepada beliau," kata dia. 

 

Khofifah melanjutkan, Pemprov Jatim melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim juga akan segera mengusulkan hasil karya KH. Ali Manshur Shiddiq ini sebagai warisan budaya tak benda ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. KH. Ali Manshur Shiddiq pernah tinggal di beberapa tempat yang berbeda di Jatim. Di ataranya Tuban, Banyuwangi, dan Mojokerto. 

 

"Ini semata-mata bentuk rasa terima kasih tak terhingga dari Pemerintah. Sebab, Shalawat ini merupakan sesuatu yang bisa menjadi bagian dari penyejuk dan penyiram kedamaian di saat bangsa ini mengalami kegelisahan," kata dia.

 

Khofifah berharap semua pihak meneladani perjuangan beliau. Ini penting, sebab perjuangan tidak harus dengan mengangkat senjata, tapi juga bisa dilakukan melalui syair lagu atau apapun yang dapat memberikan kontribusi positif terhadap bangsa dan negara. 

 

Gus Saiful Ali Mansur, perwakilan dari keluarga menyampaikan, penghargaan Jer Basuki Mawa Beya Emas ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Meskipun sebelumnya juga sudah mendapatkan penghormatan dari PBNU dan lain sebagainya.

 

Menurutnya, ketika pemerintah memberikan penghormatan ini adalah bentuk dukungan resmi kepada kebudayaan ataupun kepada nilai-nilai sholawat yang digunakan untuk memperjuangkan bangsa. "Kami mewakili keluarga mengucapkan terima kasih," kata dia.

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement