Senin 06 Sep 2021 05:15 WIB

Hari Aksara, Momentum Penguatan Literasi Zakat

Baznas terus berjuang mengoptimalkan literasi zakat, termasuk program pendidikan

Pimpinan Baznas RI Nadratuzzaman Hosen mengatakan, bulan ini bisa menjadi momentum memperkuat literasi zakat.
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Pimpinan Baznas RI Nadratuzzaman Hosen mengatakan, bulan ini bisa menjadi momentum memperkuat literasi zakat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ir. M. Nadratuzzaman Hosen, MS, M.Ec, Ph.D, Pimpinan BAZNAS RI

Bulan ini bisa menjadi momentum memperkuat literasi zakat. Menurut kalender, Hari Aksara Internasional atau International Literacy Day (ILD) diperingati setiap tanggal 8 September. Ini pertama kali diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965, sebagai peringatan untuk menjaga urgensi melek huruf bagi umat manusia.

Baca Juga

Sejarah ILD ini, bermula pada Konferensi Pemberantasan Buta Huruf di Teheran, Iran, pada 8-19 September 1965. Kemudian setiap tahun, PBB mengampanyekan kepada masyarakat agar aktif meningkatkan literasi.

Sebab, menurut Wikipedia, 775 juta penduduk dewasa masih buta huruf, dua per tiga adalah wanita. Dan 60,7 juta anak-anak masih tidak bersekolah dan sisanya dikeluarkan atau putus pendidikan di tengah jalan.

 

Sementara itu, survei yang diselenggarakan Kementerian Agama, Pusat Kajian Strategis Baznas dan Badan Wakaf Indonesia, menunjukkan indeks literasi zakat mencapai 66,78, masuk kategori menengah (moderat). Dan skor indeks literasi wakaf baru 50,48, masuk kategori rendah. Baznas pun terus berjuang mengoptimalkan literasi zakat. Termasuk menggencarkan program pendidikan seperti beasiswa untuk 101 perguruan tinggi.

Kemudian mendakwahkan filosofi iqra’ (“bacalah”), istilah yang dipopulerkan Alquran (Al-‘Alaq: 1-5). Ini merupakan ayat dan surat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Iqra’ merupakan visi ilahiyah untuk mencerdaskan umat manusia dengan membaca. Kultur yang melahirkan ide dan gagasan-gagasan baru yang kreatif dan inovatif. Bahkan menurut para ahli pendidikan, 80-90 persen pengetahuan diperoleh dari membaca yang jadi prasyarat menciptakan masyarakat pembelajar.

Masyarakat pembelajar adalah pemegang kunci kemajuan bangsa. Salah satu syarat utama pembentukannya adalah melalui budaya gemar membaca. Karena, literasi berkorelasi positif dengan tingkat kesejahteraan, mengubah mustahik menjadi muzaki. Sehingga kemampuan literasi sebagai akses dan pengetahuan, menjadi modal pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Pada 2015, Forum Ekonomi Dunia, menyebutkan setiap bangsa wajib menguasai keterampilan Abad 21. Yakni literasi dasar, kompetensi dan karakter. Literasi dasar meliputi enam komponen baca tulis, berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi, keuangan serta literasi budaya dan kewarganegaraan.

Dengan menguasai keterampilan Abad 21, masyarakat diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman. Inilah yang mendorong Baznas terus berjuang mengoptimalkan literasi zakat sebagai bagian dari strategi mengubah mustahik menjadi muzaki.

Baznas ingin mendorong dan mendukung literasi digital di masyarakat, melalui kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Sehingga di era digital ini, masyarakat dapat berzakat, berinfak dan bersedekah melalui platform digital, sekaligus meningkatkan literasi digital di era teknologi informasi. Semoga terwujud.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement