Rabu 18 Aug 2021 10:02 WIB

Israel Perluas Kendali atas Masjid Ibrahim

Kendali atas Masjid Ibrahim diperluas Israel.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
Pasukan Israel berjaga di sekitar Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat, Palestina.
Foto: WAFA
Pasukan Israel berjaga di sekitar Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat, Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID,HEBRON -- Di tengah protes yang dilakukan oleh warga Palestina, Israel memulai proyek renovasinya. Proyek ini diprediksi akan mengakibatkan penyitaan situs keagamaan yang dibagi antara orang Yahudi dan Muslim.

Dalam sebuah aksi pertahanan, ribuan jamaah berkumpul melakukan shalat Jumat di Masjid Ibrahimi, Hebron, yang diduduki Israel pada 13 Agustus.

Baca Juga

Meski umat Muslim menamai masjid ini dengan nama Nabi Ibrahim, orang Yahudi menyebutnya sebagai Makam Para Leluhur. Orang-orang dari kedua agama Ibrahim ini percaya tokoh agama seperti Ishak, Yakub, Sarah, Rebecca dan Leah dimakamkan di sebuah tempat, jauh di bawah situs suci itu.

Dilansir di TRT World, Rabu (18/8), penduduk Muslim di kota itu khawatir langkah renovasi yang dilakukan Israel dapat berubah menjadi upaya mengambil kendali penuh atas situs tersebut, serta menghapus sifat Islam dan sejarah masjid tersebut.

Kementerian Wakaf Palestina mengatakan tujuan dari proyek ini adalah untuk "Yahudisasi" masjid, dan memfasilitasi intrusi pemukim ke dalamnya.

"Keputusan itu merupakan serangan terhadap kepemilikan Muslim atas Masjid Ibrahimi dan wakaf yang mengelilinginya, yang jumlahnya banyak di kota Hebron," kata Kementerian Wakaf dan Urusan Agama.

Pihak berwenang Israel sendiri memulai proyek pengerjaannya pada 10 Agustus. Mereka mengatakan tujuan proyek itu untuk membuatnya mudah diakses oleh para disabilitas dengan membangun lift dan jalan di kompleks tersebut.

Untuk membuat perubahan seperti itu, Perdana Menteri Naftali Benett disebut telah memberikan perintah persetujuan bulan Mei tahun lalu. Ia memberikan kekuasaan kepada COGAT, Koordinasi Kegiatan Pemerintah di Wilayah, untuk merebut tanah sebanyak mungkin.

Peristiwa itu lantas memicu trauma masa lalu di antara warga Palestina. Pada 1994, seorang pemukim Israel kelahiran AS masuk ke masjid Ibrahimi dengan senapan serbu Galil dan menewaskan sedikitnya 29 jamaah Muslim yang sedang melaksanakan shalat Jumat Ramadhan, dengan lebih dari seratus juga terluka.

"Goldstein (pelaku) biasa datang setiap malam dan berdoa di makam Yakoob. Kami sekarang tahu mengawasi kami dan membuat rencana. Pemerintah Israel ingin mengeluarkan kami dari masjid,” ujar penjaga masjid selama lebih dari 30 tahun, Hakam Tahboob.

Pembantaian itu lantas menyebabkan pemisahan yang signifikan di masjid. Satu sisi digunakan untuk jamaah Muslim, sementara sisi yang lain untuk orang Yahudi.

Di bawah kesepakatan pada 1997, Israel dan Otoritas Palestina sepakat kotamadya Palestina akan memiliki keputusan akhir dalam proyek-proyek tersebut. Namun, keberatan yang disampaikan pemerintah kota terhadap apa yang disebut proyek renovasi ini tampaknya tidak didengarkan.

Rumah bagi sekitar 160.000 Muslim Palestina dan sekitar 600 pemukim Yahudi, Hebron, telah lama menjadi titik panas kekerasan di Wilayah Palestina yang diduduki. Menurut Doctors Without Borders, sejak awal 2021 terjadi peningkatan kekerasan yang diatur oleh pemukim Yahudi, yang dilindungi oleh lebih dari 2.000 tentara Israel. Kelompok itu memperkirakan jumlah warga Palestina di kota itu sekitar 35.000.

Tentara Israel juga menyerang jamaah Palestina dengan bom suara setelah mereka melakukan shalat Jumat di Masjid Ibrahimi. Protes diperkirakan akan berlanjut selama proyek yang menurut Kementerian Pertahanan Israel memakan waktu enam bulan.

Badan Warisan Dunia UNESCO pada Juli 2017 telah mengakui kota tua Hebron, termasuk Masjid Ibrahimi, sebagai situs warisan dunia Palestina.  

Sumber:

https://www.trtworld.com/magazine/israel-extends-control-over-hebron-s-key-ibrahimi-mosque-49256

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement