Kamis 17 Jun 2021 02:53 WIB

Mimpi Jerman tak Impor Imam dari Luar Negeri

Jerman telah meluncurkan sekolah calon imam.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Agung Sasongko
Umat Muslim di Distrik Reinickendorf, Berlin, Jerman, melaksanakan shalat Jumat di ruang terbuka di jalanan setelah masjid mereka dibakar, Jumat (16/3).
Foto:

Salah seorang mahasiswa Islam, Ender Cetin merasa senang dengan berdirinya sekolah tinggi Islam Jerman pertama itu. "Kami adalah Muslim Jerman, kami adalah bagian integral dari masyarakat dan kami sekarang memiliki kesempatan untuk menjadi imam 'buatan Jerman'", kata pria yang sudah bekerja sebagai imam sukarelawan di pusat penahanan pemuda di Berlin itu, seperti dikutip dari laman The Local, Rabu (16/6).

 Selama ini sebagian besar imam di Jerman telah dilatih di luar negeri, terutama di Turki dan mereka juga dibayar oleh negara asal mereka. Sekitar setengah dari 2.000 hingga 2.500 imam di Jerman disediakan oleh kelompok payung Islam-Turki DITIB, cabang Kepresidenan Urusan Agama di Ankara yang mengelola 986 komunitas masjid di Jerman. Sisanya datang terutama dari Afrika Utara, Albania dan bekas Yugoslavia.

Para pemimpin agama ini cenderung datang ke Jerman selama empat atau lima tahun. Beberapa datang dengan visa turis, dan hanya tahu sedikit tentang budaya dan adat setempat. "Imam-imam ini tidak berbicara bahasa anak muda, yang seringkali bahkan tidak mengerti bahasa Turki dengan baik," kata Cetin, yang lahir di Berlin dari imigran Turki. 

Menurut Cetin, penting bagi para imam untuk berhubungan dengan realitas masyarakat multikultural di mana orang Kristen, Yahudi, ateis, dan Muslim hidup berdampingan. "Apalagi banyak dari para pemimpin juga pejabat negara Turki yang mengejar agenda politik di Jerman," katanya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement