Ahad 31 Jan 2021 06:03 WIB

Tantangan Pesantren dan NU di Era Digital

Keberadaan Pesantren dan NU di Era Digital menghadapi tantangan.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Subarkah
Sejumlah santri mengenakan masker dan menjaga jarak saat belajar mengaji d
Foto: ANTARA/Ampelsa
Sejumlah santri mengenakan masker dan menjaga jarak saat belajar mengaji d

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU, KH Abdul Ghaffar Rozin atau lebih dikenal dengan Gus Rozin mengatakan, digitalisasi sesungguhnya telah berjalan massif jauh sebelum munculnya Covid-19. Hanya saja, menurut dia, di era pandemi ini mendorong akselerasi transformasi digital di semua sektor kehidupan.

Karena itu, menurut Gus Rozin, terdapat berbagai tantangan bagi pesantren dan NU yang kini telah menapaki usianya yang ke-95.  “Digitalisasi telah melahirkan tantangan-tantangan bagi pesantren dan NU, serta tentu saja masyarakat Indonesia secara umum,” ujar Gus Rozin kepada Republika, Selasa (26/1).

Dalam bidang pendidikan, menurut dia, dampak pandemi telah menyebabkan operasional pendidikan nyaris terhenti. Menurut dia, dampak ini lah yang melahirkan tantangan bagaimana pesantren melakukan transformasi digital berbasis ICT.

“Model blended learning dan outcome based learning menjadi salah satu opsi yang dikembangkan di pesantren,” ucapnya.

Kemudian, dalam bidang ekonomi digitalisasi telah merestrukturisasi ekonomi lokal, nasional, dan global. Menurut dia, digitalisasi menghilangkan sekian sektor ekonomi sekaligus melahirkan sektor sektor dan struktur kerja baru.

“Jadi tantangan pesantren adalah bagaimana memitigasi dampak negatif ini memanfaatkan berbagai peluang peluang baru, sekaligus mendorong struktur ekonomi baru yang lebih merata dan berkeadilan,” katanya.

Dalam bidang kebudayaan, lanjut Gus Rozin, berbagai persoalan kehidupan baru dari dunia digital telah melahirkan cara baru manusia berkebudayaan. Menurut dia, komunikasi, interaksi sosial, bermasyarakat, gotong rotong, mendapatkan tantangan serius dari kebudayaan digital.

“Tantangan pesantren kemudian bagaimana memaknai kebudayaan bukan semata sebagai warisan masa lalu, namun bagaimana strategi ikut membentuk masa depan,” jelasnya.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, menurut Gus Rozin, pesantren dan NU harus tetap berpijak pada dasar strategi kebudayaannya. Pertama, kata dia, yaitu harus mempertahankan tradisi lama yang masih relevan dan masih lebih baik, serta empertahankan dan mengembangkan kearifan yang ada.

“Kontekstualisasi adalah kunci dari strategi pertama ini,” ujarnya.

Kedua, menurut Gus Rozin, untuk menghadapi berbagai tantangan pesantren dan NU juga harus melakukan adaptasi dan mengambil berbagai inovasi baru yang lebih baik. “Ketiga, ikut mendorong inovasi untuk menjawab berbagai tantangan zaman yang ada. Prinsipnya adalah man sanna sunnatan khasanatan,” kata Gus Rozin.

Gus Rozin menambahkan, tantangan zaman yang kompleks dan berlapis lapis tersebut juga menjadi tanggung jawab moral pesantren dan NU untuk ikut memberikan kontribusi dan solusinya. “Agar hal itu berjalan, tentu saja pesantren dan NU menyiapkan supporting sistemnya, yang mencakup aspek keagamaan, pendidikan, ekonomi, hingga pengembangan sains dan teknologi yang relevan,” jelasnya.

Muhyiddin

 

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi