Rabu 04 Nov 2020 13:39 WIB

Rahasia Dina Sukses Hafal Alquran 30 Juz dalam 9 Hari

Bagi Dina menghafal Alquran merupakan pegangan dalam hidup

Bagi Dina menghafal Alquran merupakan pegangan dalam hidup. Membaca Alquran (ilustrasi)
Foto: Muhammad Rizki Triyana (Republika TV)
Bagi Dina menghafal Alquran merupakan pegangan dalam hidup. Membaca Alquran (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  Janji Allah SWT akan mempermudah menghafal Alquran sudah banyak terbukti. Ini sebagaimana penegasakn surat Al-qamar ayat 22: 

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Baca Juga

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”   

Ialah Dina Rahmadyanti, hafizah Alquran 30 juz, yang mengkhatamkan hafalan Alqurannya dalam waktu sembilan hari. Ia mampu menghafal Alquran sampai empat juz per hari. Kelancaran hafalan Alquran Dina pun telah diuji dan mendapatkan sertifikat dengan predikat terbaik.

Dina, panggilan akrabnya, memang memiliki cita-cita sebagai hafizah Alquran. Bagi Dina, menghafal Alquran adalah bukti kecintaan dan kebaktiannya kepada kedua orang tua. Ia mengaku termotivasi dengan hadis Nabi yang memuliakan orang tua yang anaknya hafal Alquran. Dalam hadis disebutkan, orang tua yang anaknya hafal Alquran akan diberi hadiah berupa mahkota dari cahaya yang terang melebihi sinar matahari. (HR Hakim).

"Saya jarang bertemu orang tua. Untuk mengobati kerinduan kepada orang tua, saya lepaskan dengan membaca Alquran. Mudah-mudahan dengan hafalan Alquran ini, bisa memberi syafaat kepada orang tua dan mengumpulkan kami di surga," tutur Dina, sebagaimana dikutip dari dokumentasi Harian Republika.

Hafal Alquran adalah cita-cita terbesar orang tua Dina. Orang tua Dina sempat mendapatkan diskriminasi karena menyekolahkan anaknya ke pesantren. "Orang tua kadang dihina, kok anaknya dimasukkan ke pesantren. Apa tidak mau mengurus anak lagi? Pesantrennya pun jauh. Banyak yang bilang kalau orang tua hanya ingin buang anak ke sini," ujar Dina berkisah.

Keluarga Dina sebenarnya bukanlah orang berada. Kedua orang tuanya hanya menempati sebuah kios sekaligus membuka usaha fotokopi. Keduanya bekerja keras membanting tulang untuk menyekolahkan anaknya ke pesantren. Dina disekolahkan jauh-jauh di Pesantren Terpadu Insan Cendekia Boarding School (ICBS) di Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. Mereka percaya, ada berkah menghafal Alquran yang akan dibawa oleh anaknya jika bersekolah di sana.

"Orang tua tinggalnya jauh di Bekasi. Tiga tahun sekolah di sini, baru tiga kali bertemu. Yang pertama waktu mengantar sekolah ke sini, yang kedua waktu mengantar adik yang juga sekolah di sini. Dan, yang ketiga, baru beberapa bulan yang lalu," ujarnya gadis kelahiran Bekasi, 4 Maret 2001 ini.

Putri dari pasangan Rahmad Salmi (ayah) dan Yanti Novita (ibu) ini mengisahkan, ia sempat lulus seleksi untuk ikut program studi komparatif ke Malaysia yang digelar pihak sekolah. Namun, ia lebih memilih untuk bertemu orang tua dibanding ikut program tersebut. Itulah pertemuan ketiganya dengan orang tua. Baginya, bertemu kedua orang tua adalah momen paling mahal dalam hidupnya.

Ketika bersekolah di SMP IT ICBS Sumatra Barat, Dina berkesempatan mengikuti program Daurah Tahfizul Qur'an. Awalnya, ia mengaku tak bisa ikut karena tak memiliki dana. "Untuk ikut program Daurah Tahfidz bayarnya Rp 2 juta. Walau lulus seleksi, saya tidak bisa ikut. Tapi, besoknya saya dikabari tetap boleh ikut," katanya.

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement