Rabu 24 Jun 2020 22:25 WIB

Wasiat Ali Bin Abi Thalib untuk Masa Islam Hanya Sisa Nama

Ali bin Abi Thalib berwasiat untuk umat ketika masa Islam tinggal nama.

Ali bin Abi Thalib berwasiat untuk umat ketika masa Islam tinggal nama. Ali bin Abi Thalib ilustrasi.
Foto: NET
Ali bin Abi Thalib berwasiat untuk umat ketika masa Islam tinggal nama. Ali bin Abi Thalib ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, Ali bin Abi Thalib (khalifah keempat), memiliki keistimewaan. Ali, sederhana tapi tegas dan kaya ilmu. Sebutan Nabi SAW bahwa Ali gerbang ilmu, bukti pengakuan Rasulullah atas penguasaan ilmu Ali. Tak heran bila Ali juga dikenal ahli hukum dan mujtahid yang darinya selalu keluar pencerahan-pencerahan ilmiah dan spiritualitas.    

Ali menegaskan, "Akan datang kepada manusia suatu masa yang tidak tertinggal dari Alquran kecuali tulisannya dan dari Islam kecuali namanya. Pada masa itu masjid-masjid dimakmurkan bangunannya sedangkan ia sendiri kosong dari hidayah, orang-orang yang menghuni dan memakmurkannya adalah yang paling jahat di muka bumi. Fitnah bersumber dari mereka dan segala kesalahan kembali kepada mereka. Orang-orang korban fitnah dan telah bertaubat, akan dipaksa kembali dan orang-orang yang tertinggal di belakang (tidak ikut serta dalam kafilah fitnah) akan dirayu agar bergabung dengannya. Allah berfirman: 'Demi Dzat-Ku, akan Ku-kirim untuk mereka sebuah fitnah (cobaan) besar yang akan menjadikan orang-orang sabar bingung menentukan sikap.' Kita memohon kepada-Nya untuk mengampuni kealpaan yang membuat kita tergelincir."

Baca Juga

Agar tidak terjerumus dan terjebak dalam kubangan fitnah, kepada para sahabatnya Ali berpesan, "Ketika fitnah berkecamuk, jadikanlah dirimu seperti 'ibnu labun' (anak unta yang belum berumur dua tahun), karena ia masih belum memiliki punggung yang kuat untuk dapat ditunggangi dan tidak memiliki air susu untuk dapat diperah." Begitu pun pandangannya soal manusia yang lemah.

Di mata satu-satunya khalifah Islam yang bergelar "Imam" ini, orang lemah bukan mereka yang tak berdaya menghadapi lawan, tak berharta, atau tidak memiliki kedudukan. Tapi, "Orang yang paling lemah adalah mereka yang tidak dapat menjalin tali persahabatan dengan orang lain, dan lebih lemah darinya adalah orang yang mudah melepaskan persaudaraan dengan sahabatnya," ujar Ali, sebagaimana dinukil dalam Nahjul Balaghah. 

 

  

  

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement