Senin 16 Mar 2020 20:54 WIB

ACT Kembali Santuni Guru di Pelosok

ACT menyalurkan bantuan biaya hidup kepada seorang guru melalui Program SGI

Logo Aksi Cepat Tanggap (ACT)(dok. ACT)
Foto: dok. ACT
Logo Aksi Cepat Tanggap (ACT)(dok. ACT)

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Provinsi Sulawesi Selatan kembali menyalurkan bantuan biaya hidup kepada seorang guru melalui Program Sahabat Guru Indonesia (SGI). Bantuan diberikan kepada Andi Ansar (48), sosok pengajar tangguh dari pelosok Maros Sulawesi Selatan.

Andi Ansar sudah 26 tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan sebagai guru honorer. “Pak Ansar adalah sosok yang layak menerima bantuan ini ditinjau dari segi dedikasi dan ketulusannya. Semoga bantuan ini bisa Pak Ansar gunakan sebagaimana mestinya," ucap Relawan MRI Kab. Maros, Rikal di Makassar, Senin (16/3).

Baca Juga

Rikal yang turut menyalurkan bantuan ini mengatakan bahwa bantuan telah diberikan kepada sosok yang tepat. Hal ini karena sejak Ansar menjadi guru honorer di MI Hidayatullah Tanete Bulu, Kelurahan Bontomanurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, nasibnya tidak banyak berubah.

Sarjana Pendidikan Islam ini hidup bersahaja bersama istri dan kelima anaknya di Desa Damai, Kecamatan Tanralili, Maros. Meski begitu, dia tidak pernah mengeluh dengan keadaan. Bahkan tiga unit motor yang dimilikinya telah hancur akibat medan berat sejauh 60 km ke sekolah, tetapi tidak pernah menghancurkan semangatnya mengabdi untuk pendidikan.

Jalan menuju sekolah yang terjal, berkerikil, curam, dan licin ketika musim hujan sudah jadi “makanan” sehari-hari. Ketika musim hujan tiba, dia berenang melintasi sungai untuk sampai ke tujuan. Ketika guru-guru lain di sekolahnya menyerah dengan keadaan semacam ini, guru bergaji Rp 250 ribu per triwulan ini tidak bergeming sedikit pun.

"Agar tak kelelahan, Pak Ansar terkadang menginap di rumah salah seorang guru di dekat sekolah," kata Rikal.

Padahal, kata Rikal, Ansar sebenarnya tidak tega meninggalkan istri dan kelima anaknya, namun dia terpaksa melakukannya untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan. Dia terus mengajar dengan segala keterbatasannya.

Dengan donasi dari para dermawan lewat ACT dan Kitabisa.com ini, Ansar bertekad untuk terus menginspirasi dan mengabdi di sekolahnya meski peluang ASN sudah tertutup baginya. Ansar menerima bantuan berupa uang tunai, perlengkapan penunjang mobilitas mengajar seperti laptop, sepatu, tas, jaket dan sembako.

"Kepada relawan, Pak Ansar mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada para dermawan yang telah membantunya dan juga mendoakan kesehatan kepada semua yang terlibat dalam pemberian bantuan ini," katanya.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement