Ahad 01 Mar 2020 19:44 WIB

Nasaruddin Umar: IBF 2020 Semakin Berkembang

Islamic Book Fair dinilai sebagai rekreasi intelektual dan spiritual.

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Yudha Manggala P Putra
Tampak suasana IBF 2020 Jumat (28/2)di JCC
Foto: dok Muhyidin
Tampak suasana IBF 2020 Jumat (28/2)di JCC

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar merasa bangga terhadap perkembangan Islamic Book Fair dari tahun ke tahun.

"Sebagai penasehat kegiatan ini saya melihat kualitas dan kuantitas baik pameran, acara dan pengunjung semakin berkembang," ujar dia kepada Republika, Ahad (1/3) usai acara bedak buku Geliat Islam di Amerika , JCC Senayan.

Bagi Nasaruddin, Islamic Book Fair 2020 kali ini merupakan sebuah rekreasi intelektual dan spiritual. Karena tak hanya buku-buku berkualitas yang dipamerkan di acara ini tetapi juga mampu meningkatkan sisi spiritualitas beragama setiap pembaca.

Di Indonesia, pameran ini merupakan yang terbesar terutama dalam memamerkan buku-buku Islam. Nasaruddin berharap pameran buku Islam ini akan terus berkembang dan semakin baik setiap tahunnya.

Nasaruddin yang juga mengisi acara untuk bedah buku sedikit menjelaskan mengenai buku yang ditulisnya. Dia juga mengundang Pejabat Politik Kedubes Amerika Serikat Fausto DeGuzman dan Peneliti dari Universitas Washington St Louis Prof Aria Nakissa.

"Kini di Amerika Serikat toleransi terhadap umat Islam semakin meningkat, namun ketika  ingin melepas anak-anak untuk menempuh pendidikan di AS, orang tua diharapkan tetap membekali ilmu agama dengan maksimal karena budaya yang berbeda dengan di Indonesia,"jelas dia.

Perbedaan geografis juga terasa untuk umat Islam ketika berada di AS. Misalnya ketika berpuasa, saat musim dingin berpuasa memang memiliki waktu lebih pendek namun ketika mudim panas waktu semakin panjang.

Nasaruddin mengingatkan agar orang tua tetap mengingatkan anaknya meski hanya sekadar membangunkan sahur. Tantangan umat Islam memang cukup besar ketika berada di negara minoritas muslim.

Peneliti asal Universitas Washington St Louis, Nakissa mengatakan untuk menjaga dan meningkatkan toleransi di AS dia selalu mengingatkan setiap pihak untuk menyelesaikan masalah dengan diplomasi.

"Perang hanya akan menjauhkan kita dari kedamaian dan itu tentu menjadi penyebab dari hilangnya toleransi antar agama, diplomasi merupakan jalur terbaik untuk menyelesaikan berbagai masalah,"jelas dia.

Selain itu dia juga mengingatkan agar hak asasi bukan hanya hak individu semata. Bagi setiap orang juga memiliki identitas baik keluarga, budaya dan agama, sudah sepatutnya setiap orang menghormati hak tersebut. Jika ada yang terganggu sedikit saja maka harapan untuk hidup harmonis tidak akan tercipta.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement