Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Betelgeuse, Warisan Gemilang Islam yang Meredup

Selasa 18 Feb 2020 09:31 WIB

Red: Muhammad Hafil

Foto konstelasi Orion yang diambil ilmuwan Rogelio Bernal Andreo pada Oktober 2010. Betelgeuse nampak berwarna merah kekuningan pada bagian kiri bawah.

Foto konstelasi Orion yang diambil ilmuwan Rogelio Bernal Andreo pada Oktober 2010. Betelgeuse nampak berwarna merah kekuningan pada bagian kiri bawah.

Foto: Sumber: Wikimedia Commons
Nama Betelgeuse itu adalah saduran dari Bahasa Arab Ibt al-Jauza'.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fitriyan Zamzami/Wartawan Republika

"Dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi'ra" - Alquran, Surah An-Najm ayat 49

Bagi kita orang yang tinggal di katulistiwa, lebih sering dari pada tidak, langit malam dihiasi sekelompok bintang dengan susunan yang unik. Tiga bintang yang berbaris nyaris sejajar dikelilingi empat lainnya yang membentuk persegi empat tak beraturan.

Orang Yunani kuno menamai itu konstelasi Orion Sang Pemburu. Tiga bintang di tengah dibayangkan sebagai sabuk sang pemburu, dua di atasnya sebagai sambungan bahu, dan dua di bawah adalah landasan kaki-kaki. Dalam gambaran klasik, Orion dibayangkan sedang memegang kulit binatang atau perisai dengan tangan kiri, dan memegang pentungan dengan tangan kanan.

Nah, sejak akhir 2019 lalu, para ilmuwan dan pengamat bintang melihat bahwa bintang di bagian bahu kanan Orion mulai meredup dan saat ini tinggal 36 persen dari terang biasanya. Statusnya dari bintang ke-11 paling terang di langit malam merosot hingga ke urutan 23. Belum ada kesimpulan pasti pasal musabab keredupan itu.

Baca Juga

Sejauh ini, kemungkinan bahwa bintang raksasa yang ukurannya bisa meliputi hingga Jupiter dari pusat Tata Surya itu bakal segera meledak jadi supernova masih dikesampingkan. Jika ia jadi meledak, maka bisa dipastikan satu jejak gemilangnya capaian keilmuan peradaban Islam bakal hilang dari langit malam. Apa hal?

Begini, bintang yang dimaksudkan di atas, oleh komunitas ilmuwan dipanggil Betelgeuse, nama yang lebih awam dari nama lainnya, Alpha Orionis. Nama Betelgeuse itu adalah saduran dari Bahasa Arab, Ibt al-Jauza' alias "Ketiak Orion" atau Yad al-Jauza' yang artinya "Tangan Orion".

Dari seluruh bintang yang membentuk rasi Orion, kebanyakan oleh kalangan ilmuwan memang masih dipanggil dengan nama Arab-nya. Tiga bintang sejajar di tengah, misalnya, secara berurutan disebut al-Nitak, al-Nilam, dan Mintaka. Sedangkan di sisi kiri bawah, ada Saif, dari "Syaif al-Jabbar" yang artinya "Pedang Sang Raksasa".

Di kanan bawah, ada Rigel dari "Rijl al-Jabbar" atau "Kaki Sang Saksasa". Di bagian paling atas, ada Meissa dari "al-Maissan", artinya "Yang Cemerlang". Hanya satu bintang yang bukan dalam Bahasa Arab di Orion, yakni di sudut kanan atas dengan nama "Bellatrix". Itu pun menurut penulis sejarah perbintangan abad ke-19 Richard Hinckley Allen dilandasi nama dari Bahasa Arab-nya, Al Najid, Sang Penakluk.

photo
Ilustrasi dalam Kitab Suwar al-Kawakib karya al-Sufi pada abd ke-10. Sumber: Wikimedia Commons



Penamaan bintang tersebut memang salah satu tinggalan paling lestari dari para ilmuwan Arab, Persia, dan Mongol yang hidup pada masa keemasan Islam. Ia sangat memudahkan identifikasi bintang gemintang untuk keperluan penelitian astronomis maupun navigasi.

Manusia memang sudah mulai menamai benda-benda langit sejak lama sekali. Masing-masing peradaban juga memiliki konstelasi mereka sendiri-sendiri. Namun, menurut George Saliba, profesor Sains Islam dan Arab di Universitas Columbia, New York dalam tulisannya di worldlibrary.org, ilmuwan-ilmuwan Islam-lah yang meringkas dan menkodifikasi nama-nama itu.

Pada masa Yunani kuno misalnya, salah satu bintang pada rasi Ursa Mayor alias Bintang Biduk disebut "bintang yang berada pada titik ekor menyambung dengan badan". Sementara dalam tradisi Arab, bintang yang sama secara sederhana dinamai "Maghraz" dengan arti yang kurang lebih serupa.

Pada abad ke-10, ilmuwan Arab Abdul Rahman ibn Umar al-Sufi kemudian menulis "Kitāb Suwar al-Kawākib" alias "Buku tentang Konstelasi dan Posisi Gemintang". Dalam buku itu, selain mencantumkan bintang yang sudah dipetakan Ptolemy dalam "Almagest", al-Sufi mengimbuhi tradisi penamaan Arab serta menyertakan temuan-temuan baru.

Ia juga membenarkan garis bujur dan garis lintang yang keliru pada Almagest. Harmonisasi penamaan dan penetapan posisi bintang al-Sufi tersebut adalah salah satu tonggak ilmu astronomi, sampai-sampai saat ini namanya diabadikan jadi nama salah satu ceruk di bulan.

Sekitar tiga ratus tahun kemudian, karya al-Sufi itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Persia oleh ilmuwan agung lainnya, Nasiruddin al-Tusi. Dua ratus tahun kemudian, terjemahan itu disadur dan dilengkapi cucu Timur Lenk, Ulugh Begh dalam bukunya "Zij-i Sultani Gurgani" (Katalog Bintang Gemintang).

Buku Ulugh Begh tersebutlah yang kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Latin dan kemudian sampai di Eropa pada abad ke-17 dan mengabadikan capaian al-Sufi. Sejarawan Paul Kunitzsch mencatat, tak sedikit ilmuwan Renaisans yang mengakui hutang mereka pada al-Sufi. Di antaranya ilmuwan Peter Apian (1495‒1552) dan pembuat atlas langit ternama Johannes Bayer (1572‒1625).

Sementara dari jalur lain, ada buku karya Zakriya ibn Muhammad al-Qazwini (1203‒83), "Ajāʼib al-Makhlūqāt wa-Gharāʼib al-Mawjūdāt" (Keajaiban Penciptaan) yang juga berisi katalog bintang al-Sufi. Buku al-Qazwini itu diterjemahkan dalam Bahasa Jerman pada permulaan abad ke-19.

Dari kedua jalur itulah, buku Ulugh Begh dan al-Qazwini kemudian legasi al-Sufi dan nama-nama Arab dari bintang-gemintang terus dipakai ilmuwan Eropa dan lestari hingga kini. Semisalpun Betelgeuse wafat, masih ada banyak lainnya. Ada Acrab (Kalajengking) di rasi Scorpion, ada Algedi (Si Kambing) di rasi Capricornus, ada Ras Alghoul (Kepala Setan) di rasi Perseides, ada Algorab (Sang Gagak) di rasi Corvius, ada Cassiopea alias Kaff (Telapak), ada Aldebaran (Sang Pengikut) di rasi Taurus, ada Rigil Kentaurus (Kaki Centaur) yang merupakan bintang paling dekat dengan Tata Surya. Ada nama lain Sirius di Canis Major, Aschere, yang disadur dari nama bintang yang disebut Allah SWT dalam Surah An-Najm, ash-Syi'ra, bintang paling terang di langit malam. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA