Jumat, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 Februari 2020

Jumat, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 Februari 2020

Wajah Toleransi Beragama Masyarakat Natuna, Lokasi Karantina

Sabtu 15 Feb 2020 04:10 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Karantina Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Kota Wuhan, China ke Natuna.

Karantina Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Kota Wuhan, China ke Natuna.

Foto: AP/Achmad Ibrahim
Masyarakat Natuna selama ini dikenal dengan toleransi beragamanya.

REPUBLIKA.CO.ID,  NATUNA—  Azan Ashar mengumandang di pelantar Kota Tua Penagi, sebuah kampung yang berada di seberang Lanud Raden Sadjad, Kota Ranai, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Baca Juga

Sebuah sepeda motor melaju pelan di depan klenteng merah, lalu parkir di depan surau bercat putih dan hijau. Dua orang pengendara dan orang yang diboncengi langsung bergegas masuk ke dalamnya.

Sementara dari arah berlawanan, seorang kakek mengenakan kopiah berjalan pelan di bawah untaian tali berhiaskan lampion merah, menuju surau, hendak menunaikan kewajibannya sebagai Muslim, shalat Ashar.

Begitulah pemandangan sehari-hari di Penagi, kota yang hanya berpenduduk sekitar 100 kepala keluarga di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Hiasan lampion merah perayaan tahun baru China menjuntai dari awal gerbang hingga ke ujung pelantar, batas akhir pemukiman.

Surau berdiri tepat di samping klenteng, di tengah kampung. Seperti warganya yang juga hidup berdampingan dengan damai di sana.

Menurut Lia, istri Ketua RT, jumlah warga Melayu Muslim dan keturunan Tionghoa di Penagi hampir imbang. Jumlah Melayu Muslim relatif sedikit lebih banyak.

Dulu, dia bercerita, jumlah warga keturunan Tionghoa di sana lebih banyak. Namun, kini, mereka pindah ke Ranai, ibu kota provinsi.

Semakin ke sini, warga semakin berbaur. Ada warga Tionghoa yang menikah dengan Melayu, ada juga menikah dengan pendatang dari Jawa dan lainnya. Warga tambah kompak.

Menurut dia, kehidupan di sana harmonis, tidak ada selisih paham yang dapat memicu kericuhan besar. Warga hidup berdampingan dan saling mendukung.

Bila ada kegiatan gotong royong, masyarakat saling bahu membahu. Bahkan setiap ada kegiatan keagamaan, mereka saling membantu. "Ketika umat Muslim merayakan Idul Fitri, kami membantu bersih-bersih. Kalau kami ada acara, mereka juga datang," kata Lia.

Cap Go Meh

Begitu pula dengan perayaan Cap Go Meh, atau hari ke-15 perayaan Tahun Baru Imlek. Tidak hanya warga keturunan Tionghoa yang merayakan, namun umat Muslim juga ikut bersuka cita.

"Semua ikut, kami ada panggung dan hadiah-hadiah," cerita Lia.

Biasanya, warga Tionghoa menyiapkan panggung yang berlokasi di dalam perkampungan pada setiap perayaan Cap Go Meh.

Kemudian, terdapat berbagai jenis hiburan, seperti organ tunggal dan barongsai, berikut dengan pembagian hadiah kejutan (door price). "Kita nyanyi-nyanyi, biasalah," kata Lia.

Hal itu dibenarkan Ridawati, penduduk Muslim. Dia mengatakan perayaan Cap Go Meh biasanya diadakan dengan meriah dan selalu dipadati warga, Melayu, Tionghoa dan warga pendatang lainnya. "Ada banyak hadiah, kami ikut. Enggak apa-apa," kata dia. Sayangnya, Cap Go Meh tahun ini belum bisa dirayakan meriah.

Cap Go Meh tahun ini yang jatuh pada 8 Februari, tidak bisa dirayakan meriah seperti tahun-tahun sebelumnya.

Warga Penagi kedatangangan tamu jauh, WNI dari berbagai daerah Indonesia baru tiba dari Wuhan, China, untuk mengikuti masa observasi untuk mengantisipasi penularan Covid-19 (Corona Virus Disease 2019).

Sebanyak 238 orang WNI itu diobservasi di Lanud Raden Sadjad yang lokasinya di seberang Kota Tua Penagi. Jaraknya hanya sekitar 2 Km.

photo
Kemeriahan festival cap go meh (ilustrasi)

Awalnya, saat WNI itu baru tiba dai Wuhan, warga setempat sempat ketakutan, khawatir tertular virus yang telah membunuh sekitar 1.000 orang itu di China dan di sejumlah negara lainnya. Apalagi mulai beredar kabar bohong (hoaks) di media massa membuat warga tambah cemas.

Bahkan, sejumlah warga sempat mengungsi ke daerah lain, takut terinfeksi Covid-19. Namun, seiring makin banyaknya informasi yang diterima masyarakat bahwa WNI yang diobservasi di sana dalam kondisi sehat, warga mulai terbuka, dan menerima kehadirannya. Warga yang awalnya meninggalkan Penagi, kembali ke kampungnya.

Apalagi, mereka turut mendengar suara-suara riang dari dalam hanggar tempat observasi, hampir setiap hari, setiap waktu senam pagi.

Mungkin sikap toleransi yang sudah lama tertanam, membuat mereka berlembut hati. Dari awalnya menolak, hingga akhirnya menerima dengan hati terbuka.

Bahkan warga rela memundurkan perayaan Cap Go Meh demi toleransi dengan saudara sebangsa yang sedang diobservasi. Padahal perayaan Cap Go Meh selalu dinanti warga Penagi dan sekitarnya.

Lia mengatakan rencananya perayaan Cap Go Meh akan diundur hingga Sabtu (15/2) atau mungkin sepekan setelahnya, Sabtu (22/2) karena WNI dari Wuhan dijadwalkan meninggalkan Natuna pada Sabtu (15/2), setelah masa observasi 14 hari selesai.

Pada malamnya, akan diselenggarakan syukuran dan apresiasi tim pemulangan WNI dari Wuhan dengan masyarakat Natuna.

Warga Natuna berharap tim pemulangan WNI tidak hanya membuat malam syukuran, tetapi juga mendukung perayaan Cap Go Meh.

"Kami harap pemerintah juga ikut membantu perayaan Cap Go Meh tahun ini biar lebih meriah," kata Ita, warga Penagi lainnya. Dia tidak menjelaskan bantuan apa yang dia dan masyarakat Penagi harapkan.

Warga Penagi pun bersiap merayakan Cap Go Meh yang sempat tertunda. Sebuah panggung sudah berdiri di sekitar klenteng, menyambut warga yang bersuka cita.

Setelah itu, warga akan kembali ke kehidupan sedia kala. Sejarah akan mencatat, Natuna, Penagi khususnya pernah menjadi tempat observasi mahasiswa dan warga Indonesia dari China dan semoga China juga tidak mempermasalahkan lagi Natuna dan perairan di sekitarnya sebagai wilayah dan zona ekonomi Indonesia.*

 

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA