Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Meresapi Makna Sakinah Mawaddah wa Rahmah dalam Rumah Tangga

Rabu 29 Jan 2020 05:00 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ani Nursalikah

Meresapi Makna Sakinah Mawaddah wa Rahmah dalam Rumah Tangga.

Meresapi Makna Sakinah Mawaddah wa Rahmah dalam Rumah Tangga.

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Suami istri harus berupaya menghadirkan sakinah, mawaddah dan rahmah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perjalanan biduk rumah tangga tak selalu berjalan mulus. Hubungan antara suami dengan istri sejatinya tak luput dari susah dan senang.

Kedua kondisi itu mewarnai perjalanan rumah tangga silih berganti. Lantas apa itu sakinah, mawaddah, dan rahmah?

Dalam buku Bagaimana Menyentuh Hati karya Abbas As-Siisiy dijelaskan, keterbukaan berlebih antara suami dengan istri bukan hal yang selalu dianggap terpuji. Apalagi bila terjadi benturan-benturan terhadap hubungan tersebut yang menyebabkan perasaan saling mencela.

Banyak perselisihan dapat bermula dari perasaan bersalah bila melampaui batas-batas kesopanan. Tetapi apabila perasaan tersebut sudah hilang, maka perselisihan akan berujung keras dan menjadi kasar.

Kekerasan dalam rumah tangga yang banyak terjadi seolah lumrah di masa kini. Ini merupakan bukti bagaimana manajemen hati dalam lingkup rumah tangga tak selalu dilakukan dengan baik.

KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun mengatakan, sebaik-baiknya seseorang pasti memiliki kekurangan. Namun dengan kekurangan itulah, kata beliau, manusia harus terus belajar bagaimana menambal hal-hal itu dengan sebaik-baiknya perbuatan, yaitu sabar.

Doa terhadap orang-orang yang menjalani rumah tangga pun kerap dihaturkan. Umumnya doa tersebut mengharapkan sepasang suami-istri itu dapat menjalani kehidupan yang sakinah (tenang), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang).

Namun, jika ditinjau dalam perspektif bahasa saja, beliau menjabarkan bagaimana terdapat isyarat yang begitu berharga yang perlu diperhatikan setiap umat. Kata sakinah yang dalam bahasa Arab berarti tenang, sesungguhnya dapat berubah pola katanya (wazan) ke bentuk kata dan arti yang lain, meski kata tersebut berasal dari padanan huruf yang satu.

“Sakinah itu artinya tenang, tapi begitu wazan-nya berubah menjadi kata benda, dia berubah jadi sikkiin (pisau). Pisau itu tajam, berbahaya kalau digunakan dengan sembrono, tapi bermanfaat kalau digunakan untuk memasak," ujarnya.

Untuk itu, setiap pasangan rumah tangga perlu memperhatikan dan memahami pasangannya masing-masing dengan baik. Sikap saling menghargai dan juga saling mengisi antarkekurangan yang ada, merupakan hal yang dianjurkan dalam agama.

Bukankah menikah adalah aktivitas dari menyempurnakan agama? Tak hanya itu, beliau juga mengimbau setiap umat yang hendak menikah memahami makna pernikahan secara baik.

Bahwa dalam pernikahan tak selalu berisi kesengsaraan dan juga tak selalu berisi kebahagiaan. Hanya saja manusia harus benar-benar berupaya menghadirkan mawaddah dan rahmah agar rumah yang diisi oleh pasangan sakinah dapat bermuara surga.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA