Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Jejak Spirit Buya Hamka Muda dalam Balutan Novel

Jumat 17 Jan 2020 22:19 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

 Jejak Spirit Buya Hamka Muda dalam Balutan Novel . Foto: Buya Hamka dan istrinya Siti Raham

Jejak Spirit Buya Hamka Muda dalam Balutan Novel . Foto: Buya Hamka dan istrinya Siti Raham

Foto: Repro buku Kenang-Kenangan Hidup Jlid III
Para pembaca novel akan disuguhkan dengan beragam pemikiran Buya Hamka.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Haji Abdul Karim Amrullah atau biasa dikenal sebagai Buya Hamka merupakan tokoh yang identik dengan aspek dakwah. Dakwah Buya Hamka boleh dibilang berbeda dari ulama-ulama pada masanya. Dakwahnya lintas batas, berwarna, dan juga lembut bagai sastra yang menyentuh jiwa.

Baca Juga

Buya Hamka lahir di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 1908. Beliau merupakan tokoh penting Muhammadiyah, terjun dalam dunia politik bersama Masyumi, menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengukir prestasi dengan menulis Tafsir Al-Azhar, hingga menulis ratusan novel dan buku.

Tak hanya itu, Buya Hamka juga dikenal sebagai seorang jurnalis yang begitu aktif. Memberi sumbangsih penting dalam dunia jurnalistik Indonesia, dan kerap memberi warna baru bagi nilai-nilai kebangsaan di Tanah Air.

Pengalaman serta jejak hidup Buya Hamka setidaknya ditulis secara apik oleh Novelis yang juga seorang pendakwah, Ustaz Akmal Nasery Basral. Novel berjudul Setangkai Pena di Taman Pujangga yang rencananya akan diterbitkan bersama Republika Penerbit itu menceritakan masa-masa hidup Buya Hamka ketika kecil, hingga usianya mencapai 30 tahun.

“Masa kecil, remaja, hingga dewasa Buya Hamka ini memiliki kompleksitas yang menarik dan inspiratif. Ada warna-warni yang hadir dalam masa-masa itu bagi beliau,” kata Ustaz Akmal saat ditemui Republika, di Kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) Menara 165, Jakarta, Jumat (17/1).

Ustaz Akmal menceritakan, pengalaman masa kecil Buya Hamka terdiri dari ragam corak lingkungan yang menyertainya. Ayahnya, Abdul Karim Amrullah atau yang kerap disapa Haji Rasul, merupakan seorang ulama besar di Ranah Minang. Sang ayah dikenal sebagai sosok ulama yang cukup serius dan tegas, aktivitasnya itu membuat Haji Rasul tak memiliki banyak waktu untuk bersama-sama menemani Buya Hamka kecil.

Minimnya kesempatan Buya Hamka kecil bersama sang ayah membuat masa kecil beliau justru lebih banyak ditemani oleh paman-paman dari garis ibunya. Dari paman-pamannya inilah, dunia kanak-kanak Buya Hamka tak melulu diisi seputar bahasan berat soal agama.

Memasuki usia 12 tahun, Buya Hamka dihadapkan kepada sebuah realita hidup. Ayah dan ibunya memutuskan bercerai dan meniti rumah tangga masing-masing. Setelah perceraian tersebut, sang ibu memutuskan menikah lagi atas perjodohan dari keluarganya dan tinggal bersama suami barunya itu di Deli, Sumatra Utara.

Tak mau tinggal bersama ayah tiru, Buya Hamka memutuskan untuk tinggal menetap di Padang Panjang bersama ayahya—yang kelak di kemudian hari juga memutuskan untuk menikahi gadis lain. Situasi dan kondisi yang mengharuskannya menjadi anak broken home, membuat hati Malik makin sensitif.

“Usai perceraian orang tuanya, Malik ini jadi semakin sensitif. Beliau juga dikenal sebagai anak yang jahil, tapi bukan jahat. Jadi kalau sekolah pun, kadang-kadang suka bolos,” katanya.

Para pamannya yang tak selalu serius dalam menjalani hidup layaknya sang ayah, membuat Malik ingin membuka diri dari dunia yang jauh dari pandangannya. Dari paman-pamannya inilah, Buya Hamka dikenali dengan dunia silat dan kuda pacu.
Di Ranah Minang kala itu, gelaran kuda pacu kerap dijadikan festival rakyat yang sangat populer. Karena begitu menggemari kuda pacu, Buya Hamka pun kerap menjajal diri menjadi seorang joki untuk mencari uang sendiri.

“Bayangin, anak ulama besar jadi joki. Ayahnya cukup marah karena Malik (panggilan Buya Hamka kecil), ikut-ikutan jadi joki,” ujarnya.

Pada fase ini pula, meski nampak kegalauan yang cukup besar pada diri, tak sedikit rasa kecewa yang memicunya untuk melarikan diri. Buya Hamka memang melarikan diri, namun nyatanya, pelarian tersebut justru membawanya ke dalam tumpukan buku dan ilmu pengetahuan.

Alih-alih berfokus pada kegalauannya, Buya Hamka justru lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan umum. Di sana, kata Ustaz Akmal, Buya Hamka melahap seluruh buku-buku umum. Baik itu yang berjenis sastra maupun buku formal seputar apapun mengenai nasional dan internasional.

Dari sinilah kemudian dunia baca dan tulis Buya Hamka semakin terbuka. Karirnya di dunia jurnalistik pun terbuka, menyusul kemudian sejumlah petualangan hidup—yang ia sebut dengan bahasa kenang-kenangan hidup—ke beragam aktivitas dan organisasi.
Keisalaman dan Kebangsaan Buya Hamka.

Ustaz Akmal menjabarkan, dalam novel itu, para pembaca akan disuguhkan beragam pemikiran Buya Hamka yang berwarna. Dari seorang anak kecil, remaja, dan dewasa dengan segala latar belakang hidup yang ada, tak menjadikan Buya Hamka lupa mengenai prinsip dasar dan konsep ketuhanan.

Melalui Muhammadiyah, perjalanan hidupnya menapaki banyak sejarah. Beliau menjalin hubungan yang cukup baik dengan seorang pengusaha muallaf beretnis Cina, Abdul Karim Oei Tjeng Hien, sekaligus bersahabat dengan tokoh nasionalis bernama Soekarno.

Cita-cita kebangsaan dan keindonesiaan dari sikapnya ini tak lepas dari pengaruh KH Agus Salim. Jauh sebelum berkenalan dengan kedua tokoh tadi, Buya Hamka pada usianya yang ke-18 tahun saat menunaikan ibadah haji, bertemu dengan KH Agus Salim untuk pertama kali.

Melalui KH Agus Salim, ide dan gagasan mengenai Indonesia sebagai sebuah bangsa inilah yang menggugah semangat beliau. Sehingga begitu pulang ke Indonesia, beliau mulai menerjunkan dirinya ke dalam berbagai aktivitas sosial, dakwah, dan politik.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA