Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Muhammadiyah: Alquran tak Memvonis Keberagaman Mazhab

Jumat 17 Jan 2020 08:38 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nashih Nashrullah

Sekjen PP Muhammadiyah, Abdul Muthi, menegaskan pentingnya memahami keberagaman.

Sekjen PP Muhammadiyah, Abdul Muthi, menegaskan pentingnya memahami keberagaman.

Foto: Thoudy Badai_Republika
Sekjen Muhammadiyah menegaskan pentingnya memahami keberagaman.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN – Keberagaman mutlak suatu keniscayaan. Karenanya, memelihara persatuan jadi komponen penting kehidupan manusia. 

Baca Juga

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, mengatakan, sejak awal Islam menekankan pentingnya koeksistensi umat manusia. Tentu, dengan beragam etnisnya, beragam bahasanya serta beragam pemikiran dan mazhab-mazhab yang ada tersebut.

Untuk itu, Mu'ti mengingatkan, Alquran tidak pernah memvonis. Malah ketika manusia sampai akhirnya tetap memiliki perbedaan karena pada waktunya nanti Allah SWT yang akan menjelaskan.

Jadi, kata Mu'ti, ketika Allah SWT sudah memberi tahu akan dijelaskan pada akhirnya, manusia di dunia jangan merasa paling benar. Apalagi, kemudian mengklaim dirinya yang paling baik di antara manusia lain.

"Dalam kaitan inilah maka menurut saya memelihara persatuan itu adalah bagian dari kita memelihara sunnatullah," kata Mu'ti di Dialog Kebangsaan Universitas Islam Indonesia (UII), awal pekan ini, Senin (13/1).     

Mu'ti menekankan, persatuan bukan penyeragaman yang mefsmaksa semua harus sama. Justru, dia melihat kekuatan ada saat keberagaman sebagai bangsa mendapat suatu afirmasi secara konstitusional.

Jadi, ketika bicara UUD 45, misal, bicara mengenai budaya dan kebudayaan Indonesia, penjelasannya puncak-puncak kebudayaan daerah. Tentu, lanjut Mu'ti, yang dimiliki suku-suku di Indonesia.

"Sehingga, sejak awal konstitusi kita itu tidak menegasikan dan tidak menihilkan perbedaan, tapi justru menjadi kekuatan kita sebagai pilar membangun keindonesiaan dengan segala keanekaragaman," ujar Mu'ti.

Dalam konteks itu, Mu'ti menggaris bawahi, seyogianya bisa memelihara persatuan dan keberagaman ketika ada koeksistensi. Artinya, semua kelompok diakui eksistensinya, mendapat pengakuan konstitusional dan lain-lain. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA