Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Gus Mus: Keberagaman Itu Fitri

Rabu 15 Jan 2020 09:26 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil

Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus  (berkopiah hitam), ketika menghadiri Dialog Kebangsaan di Universitas Islam  Indonesia (UII), Selasa (14/1).

Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus (berkopiah hitam), ketika menghadiri Dialog Kebangsaan di Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (14/1).

Foto: Republika/Wahyu Suryana
Gus Mus menilai keberagaman adalah suatu keniscayaan.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan, keberagaman merupakan keniscayaan yang sifatnya fitri. Sehingga, melawan keberagaman seperti melawan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

"Keberagaman ini adalah suatu keniscayaan, suatu yang fitri, yang fitri sifatnya, melawan ini ya melawan kehendaknyaTuhan, dan itu sia-sia," kata Gus Mus di Auditorium Abdulkahar Mudzakir Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (14/1).

Ia mengingatkan, keberagaman ini pernah dicoba dengan keseragaman pada era Presiden Soeharto dulu. Gus Mus menilai, mungkin ada niat baik dari sana seperti agar harmonis, tapi menggunakan cara-cara yang keliru yaitu menyeragamkan.

"Dikiranya kalau seragam itu harmonis, sampai menanam padi seragam, menjual cengkeh seragam, bahkan, mengecat rumah sendiri harus seragam dalamnya Sri Sultan, kuning kabeh (semua)," ujar Gus Mus.

Gus Mus melihat, terlalu sering dicekoki keseragama kala itu membuat kita hari ini tampak sulit untuk berbeda dan cepat marah saat ada sedikit saja perbedaan. Padahal, ia berpendapat, berbeda-beda itu indah sekali.

Yang diakui Gus Mus paling menyedihkan karena yang paling tahu Tuhan hendaki keberagaman tentu orang-orang beragama. Tapi, belakangan tindakan-tindakan yang tidak menghargai keberagaman banyak dilakukan orang-orang beragama.

Ia memberi satu contoh kecil, orang-orang hari ini bisa geger cuma karena perbedaan penulisan insya Allah atau insha Allah. Terlebih, yang membuat geger tidak jarang justru merupakan orang-orang yang merupakan pemuka agama.

"Kalau itu terus menjadi sesuatu yang membuat mereka istimewa,dan yang lain itu tidak istimewa, itu yang meregangkan persaudaraan kita," kata Gus Mus.

Menurut Gus Mus, salah satu kelemahan kita semua hari ini kurang bersyukur. Mulai dari tidak bersyukur diciptakan sebagai manusia lantaran tidak memiliki kesadaran kalau kita sudah mendapatkan anugerah Tuhan.

"Mensyukuri kemanusiaan itu adalah menjaga kemanusiaan, ketika tidak menjaga kemanusiaan karena kita tidak menyadari menjadi manusia itu adalah anugerah dari Allah," ujar Gus Mus.

Apalagi, lanjut Gus Mus, menurut Alquran kita dimuliakan oleh Allah sebagai manusia. Bahkan, kita tidak bersyukur hidup jauh dari zaman Rasulullah tapi masih bisa hidup mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA