Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Kenapa Pemimpin Muslim Gemar Membangun Masjid Megah?

Sabtu 11 Jan 2020 05:25 WIB

Rep: Febryan A./ Red: Ani Nursalikah

Kenapa Pemimpin Muslim Gemar Membangun Masjid Megah? Masjid Agung Sultan Qaboos

Kenapa Pemimpin Muslim Gemar Membangun Masjid Megah? Masjid Agung Sultan Qaboos

Foto: Wikipedia
Masjid megah dilihat sebagai pengukuhan atas kejayaan pemimpinnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada masa awal Islam, masjid adalah urusan sederhana, tanpa kubah dan menara. Seperti Nabi Muhammad yang menjadikan halaman rumahnya sebagai tempat shalat.

Namun, sebagaimana dilansir di The Economist, Jumat (10/1), para autokrat Arab sekarang melihat soal masjid secara berbeda. Banyak diantaranya yang ingin meninggalkan warisan bagi negaranya berupa masjid megah sebagai pengukuhan atas kejayaan kepemimpinannya.

Misalnya, mantan presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika yang telah digulingkan tahun lalu. Ia membangun Masjid Agung Aljazair dan berhasil mengalahkan masjid di Maroko sebagai masjid terbesar di Afrika. Berdiri di lahan seluas 40 hektare, pembangunannya menelan biaya satu miliar dolar AS (sekitar Rp 13,8 triliun).

Sultan Qaboos dari Oman juga mendirikan masjid megah yang dinamakan Masjid Agung Sultan Qaboos. Masjid ini memegang rekor chandelier (lampu gantung) terbesar di dunia hingga akhirnya dikalahkan oleh masjid di Uni Emirat Arab.

Baca Juga

photo
Masjid Besar Sheikh Zayed.

Masjid pemegang rekor chandelier terbesar itu adalah Masjid Sheikh Zayed. Berlokasi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Masjid itu didirikan oleh Zayed bin Sultan Al Nahyan pada 2007.

Hal serupa juga dilakukan di Mesir. Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi menghiasi ibu kota barunya, sekitar 45 kilometer timur Kairo, dengan masjid yang besar dan juga katedral terbesar di dunia Arab. Begitu pula dengan Iran. Para ayatollah di Teheran sedang mengerjakan masjid terbesar di dunia yang sekarang baru setengah dibangun. Material masjid itu disebut berbahan semen dan logam.

Sebenarnya, pembangunan masjid agung adalah tradisi lama. Beberapa dekade setelah meninggalnya nabi, para pemimpin Muslim mulai membangun masjid-masjid besar guna melegitimasi pemerintahan mereka.

Kekhalifahan Umayyah, sebuah dinasti Muslim awal yang simbolis, membangun masjid seperti istana dengan mosaik emas dan marmer berwarna. Pada abad ke-15, orang-orang Turki Utsmani mulai membuat menara-menara untuk mengalahkan menara gereja di wilayah yang baru ditaklukkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA