Kamis, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 Februari 2020

Kamis, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 Februari 2020

Benarkah Hadis Azan untuk Bayi Hukumnya Lemah dan Palsu?

Jumat 10 Jan 2020 17:58 WIB

Rep: MgRol 127/ Red: Nashih Nashrullah

Melantunkan azan untuk bayi merujuk pada hadis yang sebenarnya sahih. Foto ilustrai mengasuh bayi.

Melantunkan azan untuk bayi merujuk pada hadis yang sebenarnya sahih. Foto ilustrai mengasuh bayi.

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Melantunkan azan untuk bayi merujuk pada hadis yang sebenarnya sahih.

REPUBLIKA.CO.ID, Melantunkan azan untuk bayi yang baru lahir, menjadi tradisi yang tak terlepaskan dari umat Islam. Tradisi tersebut bersumber pada sunah Rasulullah SAW. 

Baca Juga

Namun, belakangan, sunah tersebut dianggap keliru lantaran berangkat dari anggapan bahwa hadis yang menjadi landasan pelantunan azan bagi bayi tersebut dianggap lemah bahkan palsu. Benarkan hadis-hadis tentang melantunkan azan buat bayi tersebut adalah lemah?

Beberapa ulama Syafiiyah yang menganjurkan azan bagi bayi yang baru lahir, seperti Imam al-Nawawi berkata: 

يُسْتَحَبُّ أَنْ يُؤَذِّنَ مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فِي أُذُنِهِ وَكَانَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ رَحِمَهُ اللهُ إِذَا وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ أَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي الْيُسْرَى وَاسْتَحَبَّهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا 

“Dianjurkan azan di telinga anak yang lahir. Umar bin Abdul Aziz melakukan adzan di telinga kanan putranya dan iqamah di telinga kirinya 

[Mushannaf Abdir Razzaq No 7985]. Hal ini dianjurkan oleh sebagian ulama Syafiiyah” (Raudlah al-Thalibin 1/364).   

Demikian halnya dalam Madzhab Hanafiyah (Rad al-Mukhtar) dan Madzhab Hanabilah (Kasysyaf al-Qina’ 7/469) Beberapa hadis yang dijadikan dalil dalam masalah ini adalah dari Sahabat Abu Rafi’:  

 رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ  

“Saya melihat Rasulullah meng-adzani Hasan bin Ali saat Fatimah melahirkan, dengan adzan salat” (HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Tirmidzi, ia menilainya hasan sahih). Hadis tersebut juga dihukumi hasan menurut kitab Irwa’ al-Ghalil. 

Syekh Albani, dalam Silsilah Ahadits al-Dhaifah menyebutkan hadis yang terdapat dalam Sunan al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman bahwa, riwayat dari Ibnu Abbas lebih kuat dan menguatkan riwayat Abu Rafi’ di atas. Hadis tersebut dengan redaksi:   

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ يَوْمَ وُلِدَ وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى  

“Sesungguhnya Nabi meng-adzani Hasan bin Ali saat dilahirkan, dan Nabi meng-iqamati di telinga kirinya” (HR al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman). 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA