Senin 06 Jan 2020 14:54 WIB

MUI: Masih Banyak yang tidak Menghargai Air Ciptaan Allah

Perilaku manusia tidak menghargai air sebagai ciptaan Allah SWT.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah
Perilaku manusia tidak menghargai air sebagai ciptaan Allah SWT. Foto ilustrasi banjir Jakarta
Foto: Thoudy Badai_Republika
Perilaku manusia tidak menghargai air sebagai ciptaan Allah SWT. Foto ilustrasi banjir Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup (LPLH) dan Sumber Daya Alam (SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui program eco masjid kampanye tentang cara memperlakukan air dengan semboyan simpan air, hemat air, dan jaga air. Melalui upaya memperlakukan air dengan baik diharapkan akan mengurangi risiko bencana alam saat musim hujan dan kemarau.   

Ketua LPLH dan SDA MUI, Hayu Susilo Prabowo, mengatakan yang pertama, simpan air artinya air hujan harus disimpan dengan sumur resapan, menanam pohon untuk menyerap air, panen air hujan, dan membuat embung desa. Tapi sekarang banyak yang membangun gedung dan jalan tanpa membuat sumur resapan. Sehingga airnya bergenang di atas tanah.  

Baca Juga

Sementara itu temperatur bumi naik sehingga memicu penguapan air menjadi lebih cepat. Di sisi lain, air tanah semakin berkurang. "Sehingga dampaknya di musim hujan intensitas hujan sangat tinggi, sementara di musim kemarau akan kekeringan. Jadi simpan air ini harus dilakukan bersama-sama masyarakat," kata Hayu kepada Republika.co.id, Senin (6/1). 

Dia melanjutkan, yang kedua, hemat air artinya manusia harus irit menggunakan air. Sebab bila penggunaan air tanah dilakukan secara berlebihan seperti yang terjadi di Jakarta, ketinggian tanah akan semakin menurun. Sehingga tidak heran kalau mudah terjadi banjir. "Jadi air tanah ini harus dihemat, air hujan bisa disimpan agar menjadi air tanah lagi," ujarnya.  

Dia menjelaskan, yang ketiga, jaga air artinya air dalam tanah, sungai, danau dan laut harus dijaga serta jangan sampai air ini tercemar. Maka orang-orang harus mengelola sampah dengan baik, jangan sampai sampah mencemari air. Bila sumber-sumber air tersebut bersih maka orang-orang bisa memanfaatkannya dengan bijak tanpa perlu harus menyedot air dalam tanah.   

Hayu juga mengingatkan, air dalam tanah harus irit penggunaannya. Sebab air dari atas tanah yang masuk ke dalam tanah memerlukan waktu berabad-abad untuk disaring tanah menjadi bersih dan layak kembali. Tapi sekarang air dalam tanah disedot seenaknya dan digunakan secara berlebihan.  

"Sekarang masih banyak orang yang tidak menghargai air, di dalam Islam air untuk kehidupan dan untuk bersuci atau syarat sah ibadah jadi air harus kita rawat bersama-sama kebersihannya," jelasnya.   

Hayu juga prihatin karena 60 persen masyarakat Jakarta tergantung pada air tanah, sementara 40 persen air tanah di Jakarta tercemar bakteri escherichia coli dan detergen. Jadi kondisi air tanah di Jakarta cukup parah. Bahkan Jakarta menjadi salah satu kota yang akan terancam kekurangan air.  

Dia juga menyarankan sebaiknya gedung-gedung di Jakarta bisa mengelola dan memanfaatkan air atau menggunakan air PAM. Mereka jangan mengambil air tanah secara berlebihan karena akan berdampak buruk di masa yang akan datang.  

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement