Kamis 26 Dec 2019 08:40 WIB

Serangan Terhadap Muslim di Minnesota Meningkat

Polisi di Minnesota menyelidiki sejumlah insiden terkait serangan kepada Muslim.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Ani Nursalikah
Serangan Terhadap Muslim di Minnesota Meningkat. Komunitas Muslim di Minnesota.
Foto: minnesotanonprofits.org
Serangan Terhadap Muslim di Minnesota Meningkat. Komunitas Muslim di Minnesota.

REPUBLIKA.CO.ID, MINNESOTA -- Para pemimpin agama di negara bagian Minnesota, Amerika Serikat merasa khawatir dengan meningkatnya serangan yang menyasar komunitas Muslim beberapa waktu belakangan ini. Salah satunya insiden penusukan akhir pekan lalu di masjid Darul Iman St. Paul.

Direktur Hubungan Islam-Amerika Minnesota, Jaylani Hussein mengatakan sedikitnya ada 13 insiden besar yang dilaporkan dalam enam bulan terakhir. Sebanyak 75 sampai 80 kasus lainnya dilaporkan ke Hubungan Islam-Amerika Minnesota.

Baca Juga

"Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Belum pernah kami mengalami peningkatan (kasus serangan pada komunitas Muslim) sebanyak ini, jadi ini sangat memprihatinkan," kata Hussein seperti dilansir Iqna, Kamis (26/12).

photo
Anggota parlemen AS perwakilan negara bagian Minnesota dan Muslim kelahiran Somalia, Ilhan Omar.

Polisi pun sedang menyelidiki sejumlah motif kejahatan lainnya pasca-insiden vandalisme berupa pesan mengejek yang terjadi akhir pekan lalu di St Paul. Sementara bulan lalu, sebuah kamera pengawas merekam insiden ketika seorang pria menghancurkan pintu kaca sebuah masjid di Northeast Minneapolis.

 

Kepolisian mengatakan kasus itu juga masih dalam penyelidikan terkait adanya dugaan kejahatan rasial. Menurut Hussein, banyak serangan yang terjadi pada komunitas Muslim.

"Kami mendapati orang berjalan ke masjid datang dengan anjing besar, insiden yang mirip dengan perusakan seperti ini, kenyataannya itu berdampak pada kita semua. Itu berdampak pada komunitas saya dan itu juga berdampak pada komunitas anda," kata Hussein.

Hussein pun menarik perbandingan dengan kefanatikan agama lain yang terjadi di masa lalu, termasuk sentimen anti-Katolik dan anti-Semit terhadap generasi imigran sebelumnya. "Semua hal yang dikatakan orang, mereka telah mengatakan hal yang sama persis terhadap komunitas lain. Kita tidak bisa membiarkan sejarah terulang. Kita harus menyadari di negara ini, kita harus berbicara satu sama lain. Kita perlu menceritakan kisah bagaimana Amerika didasarkan pada identitas orang yang datang dari seluruh dunia, hidup bersama," kata Hussein.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement