Rabu 25 Dec 2019 09:19 WIB

Ciri-Ciri Orang Bahagia yang Diisyaratkan Islam

Kebahagiaan hakiki meliputi orang-orang yang memiliki ketaatan kepada Allah SWT.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ratna Puspita
Ilustrasi ketaatan kepada Allah SWT. Kebahagiaan hakiki itu umumnya meliputi orang-orang yang memiliki ketaatan kepada Allah SWT.
Foto: Mgrol120
Ilustrasi ketaatan kepada Allah SWT. Kebahagiaan hakiki itu umumnya meliputi orang-orang yang memiliki ketaatan kepada Allah SWT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kebahagiaan bukanlah sebuah barang yang bisa dibeli, pun tak bisa disangka-sangka. Namun sejatinya dalam Islam, kebahagiaan hakiki itu umumnya meliputi orang-orang yang memiliki ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa tidur dengan tenang di tempat tidurnya, sehat badannya, memiliki jatah makan untuk hari itu, maka seakan-akan dia telah mendapatkan dunia dan semua kenikmatannya,”.

Baca Juga

Menurut ulama Aidh al-Qarni dalam bukunya La Tahzan dijabarkan, maksud dari hadits tersebut adalah jika seseorang telah mendapatkan makanan yang cukup dan tempat berlindung yang aman, maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna. Hal ini juga sesungguhnya terjadi bagi kebanyakan orang.

Isyarat tersebut juga pernah disampaikan Allah SWT dengan risalahnya kepada Rasulullah SAW. Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Maidah penggalan ayat 3 berbunyi: “Wa atmamtu alaikum ni’mati,”. Yang artinya: “Dan telah Aku sempurnakan nikmatku kepadamu (Muhammad),”.

Namun, nikmat apakah yang dikatakan sempurna oleh Allah SWT? Apakah nikmat tersebut berupa materi, makanan yang melimpah, istana-istana, jabatan yang tinggi, atau emas dan perak? Tentu saja tidak. Sebab sesungguhnya Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang sederhana.

Dalam berbagai literatur hadits pun diketahui, Rasulullah masih tidur di sebuah kamar yang beralaskan tanah dan beratapkan pelepah kurma. Rasul kerap mengganjal perutnya dengan dua buah batu guna menahan rasa lapar. Tak hanya itu, Rasulullah juga pernah berkeliling tiga hari untuk mendapatkan kurma yang dapat dimakan hanya sekadar menutupi rasa laparnya.

Dengan beragam hal itu, sejatinya Rasulullah bukanlah pribadi yang miskin harta. Rasul kerap memberikan hartanya kepada mereka yang membutuhkan, bahkan kerap mendahulukan kepentingan orang banyak dibandingkan dirinya. Namun begitu, Rasulullah tak merasa sengsara apalagi menderita dengan segala hal yang bisa dikategorikan sulit itu.

Lantas, apa sesungguhnya yang membuat kebahagiaan kerap meliputi Rasulullah SAW? Nikmat sempurna yang dikaruniakan Allah kepada beliau? Tentu saja iman dan takwa. Dengan iman dan takwa, seorang hamba akan merasa tenang, nyaman, dan bahagia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement