Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Hakikat Sabar Menurut Pengarang Kitab Kasidah Munfarijah

Jumat 13 Dec 2019 22:02 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Sabar merupakan salah satu keutamaan Muslim. Berdoa Ilustrasi

Sabar merupakan salah satu keutamaan Muslim. Berdoa Ilustrasi

Foto: Antara
Sabar memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri dalam kitab ini.

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, Kasidah Munfarijah. Kasidah ini merupakan salah satu amalan rutin yang sering dibacakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo Situbondo. Santri Sukorejo biasanya melantunkan kasidah ini setiap bakda Shubuh dan santri kerap menyebutnya “Istaddiyan”.  

Baca Juga

Salah satu santri Salafiyah Syafiiyah dan dosen Ma’had Aly Situbondo, Abd Wahid kemudian melakukan kajian secara mendalam terhadap kasidah tersebut. Hasil penelitiannya dituangkan dalam buku berjudul “Selama Datang Gundah!: Anotasi Kasidah Munfarijah" ini. Kasidah ini merupakan gubahan seorang sufi bernama Ibn Nahwi yang wafat pada 1119 Masehi. 

Di antara yang ditekankan dalam buku ini adalah soal sabar. Sabar adalah ketahanan psikis terhadap apa saja yang tidak diskukai tabiat manusia.

Menurut Abdul Wachid, kesabaran adalah melawan kehendak tabiatnya. Level berikutnya adalah kesabaran dengan tidak mencintai hal-hal yang bersifat duniawi.

Menurut wahid, kesabaran dalam bentuk ini kelak melahirkan sikap zuhud. Sedangkan level teratas adalah kesabaran menghadapi musibah, malapetaka, dan bencana. 

Wahid mejelaskan, jalan menuju kesabaran ini terjal dan sukar dilalui karena hadiah bagi yang berhasil melaluinya sangat berharga, yakni sikap ridha, pasrah, dan berprasangka baik kepada Allah.

Jadi, menurut Wahid, banyak yang salah sangka bahwa kesabaran adalah jalannya orang-orang yang frustasi. Sejatinya, kesabaran adalah tahap awal, tengah, dan akhir dari suatu usaha. Kesabaran justru jalan bagi mereka yang optimis.

Sedangkan orang yang kesabaran dan rasa syukurnya seimbang adalah hamba terbaik. Kendati demikian, ujian dan musibah selalu mengganggu keseimbangan keduanya. 

Musibah besar yang bertubi-tubi acapkali membuat manusia lupa nikmat Allah yang tidak kalah besar dan melimpah. Misalnya, seorang pemuda yang merasa dunia sudah tamat lantaran cintanya tidak berakhir di pelaminan. Pemuda itu lupa bahwa dirinya masih menghirup oksigen dengan lega dan menerima anugerah Tuhan lainnya.  

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA