Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

PBNU: Kami tak akan Pernah Jadi Corong Pemerintah Cina

Jumat 13 Dec 2019 14:19 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Teguh Firmansyah

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH Masduki Baidlowi.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH Masduki Baidlowi.

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
PBNU menegaskan memiliki cara sendiri dalam menyikapi persoalan Muslim Uighur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan bahwa organisasinya tidak akan menjadi corong Amerika, Barat dan Cina. PBNU juga menyampaikan tidak akan menari atas tabuhan gendang Amerika karena PBNU punya cara sendiri menyikapi persoalan etnis Uighur di Xinjiang, Cina.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH Masduki Baidlowi menyampaikan, ormas-ormas Islam seperti PBNU, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memang pernah diundang oleh Pemerintah Cina ke Xinjiang. Ormas Islam punya sikap yang jelas menyangkut saudara Muslim di Xinjiang.

"Kami punya sikap yang jelas mengenai saudara kami di Xinjiang, sikap kami tentu saja tidak sama dengan sikap orang-orang yang selama ini mengkritisi Cina terutama Amerika dan Barat," kata KH Masduki kepada Republika.co.id, Jumat (13/12).

Ia menyampaikan, banyak orang yang menjadikan Amerika dan Barat sebagai ukuran, jika ada orang yang tidak sama dengan tarian dan tabuhan gendang mereka lantas disebut mendukung Cina. PBNU juga menegaskan pihaknya tidak akan ikut menari atas tabuhan gendang Amerika dan Barat.  

KH Masduki mengatakan, PBNU tidak akan pernah menjadi corong siapa pun dalam konteks hubungan sebagai Muslim dengan warga Musim yang ada di Cina, khususnya di Xinjiang. "Jadi, kami tidak akan pernah menjadi corong Barat, tidak akan pernah menjadi corong Amerika, juga tidak akan pernah menjadi corong Pemerintah Cina," tegasnya.

Baca Juga

photo
Ruang pamer yang mendokumentasikan rangkaian teror aksi kekerasan di Kompleks Convention kota Urumqi, Xinjiang, Jumat (15/11).



Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi ini juga menyampaikan, ada hadis sahih yang mengatakan, umat Islam di manapun berada ibarat satu tubuh.

Kalau satu bagian tubuh terluka, sakit seluruh tubuhnya. Hadis itu, menurut KH Masduki, menjadi prinsip PBNU dalam menangani dan menyikapi saudara-saudara Muslim yang ada di Xinjiang.

Namun, ia menyampaikan, cara PBNU menghadapi sesuatu berbeda dengan cara orang-orang Barat menghadapinya. Kalau cara PBNU tidak sama dengan Amerika dan Barat, jangan lantas dituduh seperti yang disampaikan The Wall Street Journal.

"Kalau kami tidak sama dengan mereka (Amerika) janganlah kemudian dituduh sebagaimana yang tuduhan seperti di dalam tulisan The Wall Street Journal, seakan akan kami ini seperti terkena sogok, yang asalnya (kami) kritis lalu (menjadi) tidak kritis, itu tidak benar," jelasnya.



Menurut KH Masduki, tuduhan terhadap ormas Islam merupakan sebuah tuduhan yang sangat ceroboh dan kotor. Sekali lagi PBNU menegaskan tidak akan pernah menari atas tabuhan gendang Amerika dan Barat.

Ia menyampaikan, tentu PBNU ingin supaya Muslim di Xinjiang dipenuhi hak-hak dasarnya oleh Pemerintah Cina. PBNU tetap berprinsip hak-hak dasar terutama hak untuk ibadah mesti dipenuhi oleh Pemerintah Cina.

"Cuma seperti apa (PBNU) memperjuangkannya, mohon maaf kalau tidak sama dengan cara-cara yang dilakukan oleh pemerintah Barat," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA