Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Memburu Pahala Puasa Ayyamul Bidh

Rabu 11 Dec 2019 04:55 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah

Memburu Pahala Puasa Ayyamul Bidh. Foto ilustrasi umat Muslim berdoa saat berbuka puasa di masjid Bengali Sunni Jameh, Yangon, Myanmar.

Memburu Pahala Puasa Ayyamul Bidh. Foto ilustrasi umat Muslim berdoa saat berbuka puasa di masjid Bengali Sunni Jameh, Yangon, Myanmar.

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Puasa Ayyamul Bidh dilakukan di pertengahan Hijriyah berdasarkan kalender Qomariah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, umat Islam harus beriman dan terus meningkatkan ketakwaannya kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam meningkatkan keimanannya, umat Islam pun banyak yang berlomba-lomba mengerjakan puasa Ayyamul Bidh, yaitu puasa yang dilakukan setiap pertengahan bulan Hijriyah berdasarkan kalender Qomariah.

Puasa ini dilakukan hanya tiga hari setiap pertengahan bulan, yakni 13, 14, dan 15 di bulan Hijriyah, kecuali hari tasyrik pada 13 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadist Nabi SAW.

Dari Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda: “Hai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR Tirmidzi dan an Nasai).

Umat Islam banyak yang berburu pahala dari puasa Ayyamul Bidh lantaran pahala yang tersimpan di dalamnya. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda: “Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari no. 1979).

Dengan melakukan puasa Ayyamul Bidh, umat Islam memiliki kesempatan mendapatkan ganjaran seperti berpuasa selama setahun penuh. Tentu umat Islam tidak ingin melewatkan pahala sebesar itu.

Baca Juga

Niat Puasa Ayyamul Bidh

Ayyaamul bidh adalah bentuk jamak dari al-yaum yang berarti hari, sedangkan bidh artinya putih. Dalam kitab Umdatul Qari`Syarhu Shahihil Bukhari dijelaskan, puasa sunnah ini dinamai Ayyamul Bidh terkait dengan kisah Nabi Adam AS ketika diturunkan ke bumi.

Saat Nabi Adam diturunkan ke bumi seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari, sehingga menjadi hitam. Kemudian Allah memberikan wahyu untuk berpuasa selama tiga hari, yaitu tanggal 13, 14, dan 15.

Ketika hari pertama puasa, sepertiga badannya akhirnya menjadi putih. Hari kedua, sepertiganya menjadi putih dan hari ketiga, sepertiga sisanya menjadi putih. Namun, puasa ini berbeda dengan puasa mutih yang biasa dilakukan orang Jawa, yang hanya mengonsumsi nasi putih dan air putih.

Ayyaamul Bidh artinya adalah hari-hari putih di mana pada tiga hari tersebut terjadi bulan purnama dengan sinar warna putih. Pada Desember 2019 ini, puasa Ayyamul Bidh jatuh pada Selasa (10/12), Rabu (11/10), dan Kamis (12/10).

Bagi umat Islam yang ingin mengerjakan puasa sunnah ini bisa membaca niat sebagai berikut: Nawaitu sauma ayyaamal bidh sunnatan lillaahi ta'ala. Artinya: "Saya niat puasa pada hari-hari putih, sunnah karena Allah ta'ala."

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA