Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Wamenag Dorong Distribusi Guru Madrasah Hingga Perbatasan

Selasa 10 Des 2019 20:00 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Seorang guru sedang mengajar di madrasah (ilustrasi)

Seorang guru sedang mengajar di madrasah (ilustrasi)

Foto: Republika/Damanhuri Zuhri
Guru madrasah belum melayani pelosok perbatasan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 267 juta jiwa. Tapi dengan jumlah tenaga guru dan kependidikan yang ada saat ini, penduduk Indonesia masih belum terlayani seluruhnya. 

Baca Juga

"Saudara kita yang ada di pelosok-pelosok, yang ada di halaman depan kita atau di perbatasan, belum terlayani semuanya," kata Wakil Menteri Agama (Wamenag), KH Zainut Tauhid Sa'adi saat menyampaikan pidato pada Ekspose Kompetensi dan Profesionalitas Guru Madrasah Tahun 2019, di  Jakarta (10/12).  

Kiai Zainut mengatakan, memang sangat memprihatinkan tapi juga sangat bisa dipahami. Sebab pada umumnya guru-guru akan berpikir seribu kali kalau ditugaskan ke daerah-daerah yang terbelakang, terdepan dan pelosok.

Dia menegaskan, jadi yang sesungguhnya perlu dibangun adalah motivasi para guru. Supaya mereka benar-benar memiliki semangat pengabdian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai cita-cita proklamasi yang tertuang dalam konstitusi. 

"Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia," ujarnya. 

Tapi, Wamenag menyampaikan, cita-cita proklamasi belum sepenuhnya dirasakan seluruh warga bangsa Indonesia. Maka menjadi tugas yang sangat penting dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia guna mencerdaskan kehidupan bangsa.  

"Tugas itu terdapat di pundak kita semuanya para guru, bagaimana kita bisa memberikan kontribusi kita dalam rangka untuk menyiapkan generasi unggul di masa yang akan datang," jelasnya.  

Wamenag juga mengaku prihatin dengan skor Indonesia pada Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 yang diselenggarakan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). 

Sebab dalam survei tiga tahunan ini kemampuan siswa Indonesia berusia 15 tahun dalam membaca matematika dan sains di bawah rata-rata. "Ini menjadi satu catatan kita bahwa indeks pendidikan kita masih belum menggembirakan, kita semua memiliki tanggungjawab yang sama untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas seluruh guru madrasah yang ada," jelasnya.

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA