Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Pernikahan Jadi Beban Finansial Bagi Sejumlah Pria Muslim

Kamis 05 Dec 2019 09:43 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Ani Nursalikah

Pernikahan (ilustrasi).

Pernikahan (ilustrasi).

Foto: Republika/Tahta Aidilla/ca
Pernikahan mewah membuat sejumlah pria Muslim berutang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam ajaran Islam, seorang pria memiliki kewajiban membiayai istri dan anaknya baik secara finansial maupun hal lainnya. Pria tidak boleh meminta harta istrinya karena keuangan istri hanya milik wanita.

Seperti diwartakan Metro, Rabu (4/12), namun, istri dibolehkan membagi hartanya kepada suaminya. Hal ini dianggap adil karena laki-laki berhak atas warisan yang lebih tinggi dan menjadi pencari nafkah dalam keluarga.

Meski demikian, hal tersebut relaitf bergeser dalam masyarakat abad ke-21. Tingginya kondisi perekonomian membuat sebuah keluarga sulit bertahan dengan hanya satu pemasukan saja.

Begitu banyak rumah tangga menjalankan penawaran keuangan dari kedua pasangan. Namun, sebagian besar laki-laki diharapkan menutupi biaya kebutuhan sehari-hari.

Kalau sudah begitu, mengambil pinjaman dari keluarga dan kerabat hingga meminta bantuan kepada pasangan mereka meski dirasa memalukan pada akhirnya tetap dilakukan. Hal itu diperbuat guna menutupi kebutuhan ekonomi yang ada.

Kondisi ekonomi yang terhimpit bisa jadi disebabkan tingginya biaya pernikahan. Meskipun sebagian besar setuju pernikahan mewah telah menjadi norma budaya bukan norma agama, para lelaki Muslim sering menemukan diri mereka menyerah pada tekanan, yang mengakibatkan situasi keuangan yang berbahaya.

"Di pernikahan saya, kami menghabiskan sekitar 55 ribu poundsterling. Kami berdua merasa kesulitan keuangan dan mertuaku harus meminjam uang dari bank," kata seorang pria Muslim di Inggris, Numan (32 tahun)

Dia mengatakan, pernikahan besar tidak hanya membuat tekanan finansial selama pernikahan tetapi juga mempengaruhi setelahnya. Menurutnya, bagi orang-orang dengan pendapatan rata-rata hal tersebut menjadi tekanan besar.

"Itu tergantung pada orang ke orang. Jika Anda seorang imigran, maka Anda lebih buruk," katanya.

Hal serupa juga diungkapkan Zibran (26). Dia mengatakan, pernikahan memang tidak boleh menjadi beban keuangan pada pasangan sama sekali. Menurutnya, Islam tidak menganjurkan melaksanakan pesta pernikahan diluar kemampuan.

Dia mengatakan, keterbatasan ekonomi kerap kali membuat seseorang berani berutang mengambil pinjaman ketika ingin melaksanakan pernikahan sesuai tradisi, ritual dan nilai-nilai budaya. Meski berusaha tidak melaksanakan hal itu, namun keluarga terkadang memaksakan hal tersebut.

Dia kemudian bercerita bagaimana diri dan istrinya mencoba melaksanakan pesta pernikahan sesuai tradisi islami. Dia mengatakan, untuk melaksanakan hal itu maka beban finansial dibagi kepada keluarga dengan cara yang masuk akal.

"Seperti banyak orang lain di luar sana, saya memiliki mentalitas saya tidak akan jatuh ke dalam perangkap yang akan menyebabkan kerusakan finansial bagi saya. Namun demikian, pada akhirnya saya harus menyerah," katanya.

Riyad (35) juga mengutarakan hal yang sama. Dia mengungkapkan, ibunya harus mengeluarkan 10 ribu pounsterling untuk biaya pernikahan dirinya. Istrinya lantas juga meminjam jumlah uang yang sama karena keluarganya tidak puas dengan upacara sederhana.

Dia mengatakan, nominal itu masih belum cukup untuk menangani biaya tidak terduga, perawatan rumah tangga atau membeli hadiah untuk tamu. "Istri saya mendapat pinjaman dan kami sekarang membayar separuh untuk membayarnya sedangkan ibu saya mendapat pinjaman dari keluarga dan teman," katanya.

Ahsan (29) juga memiliki pendapat yang tidak berbeda. Dia mengatakan, pesta pernikahan merupakan kegiatan seremonial yang menguras tabungan miliknya.

Padahal, dia mengungkapkan, uang itu sudah dia tabung dan akan digunakan sebagai uang muka membeli rumah. Dia memaparkan, nominal tak kurang dari 7.000 poundsterling dihabiskan hanya untuk membayar mahar, bulan madu hingga gaun pengantin.

"Ini telah menghambat dan menunda rencana pembelian rumah. Untungnya, saya tidak harus meminjam, tetapi biaya pernikahan sangat konyol akhir-akhir ini sehingga ini adalah masalah yang sebenarnya," katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA