Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Syahadat dalam Azan, Tangisan dan Tersungkurnya Bilal

Kamis 05 Dec 2019 08:16 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Bilal kerap merindukan Rasulullah saat melafalkan azan. Foto azan (ilustrasi).

Bilal kerap merindukan Rasulullah saat melafalkan azan. Foto azan (ilustrasi).

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Bilal kerap tersungkur saat melafalkan syahadat atas Rasulullah SAW.

REPUBLIKA.CO.ID, Terdapat kisah di balik usulan azan yang disampaikan oleh Sayidina Umar bin Khatab. Dalam literatur Islam diceritakan mengenai mimpi Sayidina Umar bin Khatab tentang kalimat-kalimat azan dalam tidurnya. 

Baca Juga

Lalu dalam mimpinya, Sayidina Umar bin Khatab mendatangi Rasulullah SAW dan kemudian beliau memerintahkan Sayidina Umar untuk mengajari Bilal bin Rabbah kata-kata tersebut. Dalam hadis riwayat Abu Daud, hal serupa juga dialami sahabat Rasululah lainnya, yakni Abdullah bin Zaid.

Mimpi yang dialami Sayidina Umar bin Khatab rupanya sangat serupa dengan yang dimimpikan oleh Abdullah bin Zaid.

Seiring berjalannya waktu, azan pun mulai dikenal di kalangan umat Muslim kala itu. Sehingga dengan sendirinya azan pun makin dikenal sebagai bagian dari budaya Islam yang sangat krusial.

Kendati demkian sepeninggal Rasulullah SAW, terdapat kisah mengharukan dari Bilal bin Rabbah. Di dalam literatur Islam diceritakan bagaimana rasa sedih atas kehilangan Rasulullah sangat membekas di hati umat Muslim, tak terkecuali Bilal.

Bilal bin Rabbah dikabarkan hanya mampu mengumandangkan azan sebanyak tiga kali usai meninggalnya Rasulullah. 

Hal itu lantaran beliau tak sanggup melanjutkan mengucap kalimat-kalimat azan pada lafadz: “Asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah,”. Yag artinya: “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,”.

Dalam melafalkan kalimat tersebut, Bilal kerap tersungkur dan menangis sehingga para jamaah yang mendengarnya pun ikut terbawa suasana. 

Tak hanya itu, saking sedihnya Bilal akan kepergian Rasulullah, beliau izin pamit pergi dari Madinah sebab kota tersebut dipenuhi dengan bayang-bayang dan kenangan Rasulullah di setiap sudutnya. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA