Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Al-Ghazali Berbicara Soal Prinsip Kelembutan dalam Agama

Rabu 04 Dec 2019 05:00 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Zikir dan munajat kepada Allah (ilustrasi).

Zikir dan munajat kepada Allah (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Kelembutan adalah prinsip penting dalam agama.

REPUBLIKA.CO.ID,  Rasulullah SAW memulai dakwah dari sisi akhlak. Akhlak hanya akan tumbuh dari dasar iman yang kuat. Iman jangan dipahami sebagai bentuk kekerasan. Iman itu lembut, santun, dan sopan. Oleh karena itu, Rasulullah SAW adalah orang yang paling memiliki rasa kasih sayang kepada makhluk.  

Baca Juga

Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk bersikap lemah lembut dan melarang kekerasan. Dalam sabdanya, ''Kelemahlembutan tidaklah ada pada sesuatu, kecuali menghiasinya dan tidak hilang dari sesuatu, kecuali merusaknya. Siapa yang tidak memiliki kelembutan maka tidak mendapat kebaikan (HR Muslim).  

Rasulullah SAW pernah berkata kepada salah seorang sahabatnya bahwa sesungguhnya terdapat dua sifat yang Allah SWT dan Rasulullah SAW cintai, yaitu sikap lemah lembut dan tidak tergesa-gesa. Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa sejelek-jeleknya pengembala adalah yang kasar. Karena itu, berhati-hatilah. Jangan sekali-kali kita menjadi orang yang kasar. Allah SWT tak akan pernah mengampuni seseorang bila ia tak memperbaiki hubungannya yang rusak dengan orang lain.  

Ketika Rasulullah SAW mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah SAW mengatakan, ''Wahai Mu'adz, di situ sudah ada orang yang beragama. Engkau harus menghormati mereka dan hormati agama mereka.'' Hadis ini adalah contoh nyata bagaimana Rasulullah SAW menekankan agar umatnya menjadi orang yang memiliki kasih sayang kepada sesama umat manusia, bersikap lemah lembut, dan membumikan bahwa Islam adalah agama rahmat bagi semesta. 

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan bahwa kita memberi penerangan kepada orang yang hendak diubah perbuatannya. Sebab, adakalanya seseorang melakukan suatu kemungkaran itu dengan alasan tidak tahu atau kebodohannya.

Sehingga, apabila setelah diberi tahu, mungkin sekali ia akan meninggalkannya. Kita dianjurkan untuk memberi nasihat yang baik. Kita memang dianjurkan untuk tegas, tetapi tetap harus menghindari kata-kata yang kasar (tidak sopan). Ini perlu dilakukan apabila dengan kelemahlembutan tidak membekas. 

Imam Ghazali memberikan batasan-batasan kesopanan yang harus dipenuhi oleh seseorang yang melakukan nahi munkar. Pertama adalah berilmu, ia mengetahui mana-mana kejadian atau peristiwa yang perlu di-amarmakruf-kan dan di-nahimunkar-kan. 

Kedua, hendaklah melarang orang yang melakukannya dengan niat semata-mata untuk agama dan memperoleh keridhaan Allah SWT. Ketiga, berbudi baik sehingga orang yang bertugas sedapat mungkin tetap menunjukkan sikap sopan, lemah lembut, dan ramah kepada siapa pun, terutama orang yang hendak diinsafkan kesalahannya. 

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA