Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Puisi Rumi Sang Sufi: Kematian Terburuk adalah tanpa Cinta

Selasa 03 Dec 2019 04:40 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Jalaluddin ar-Rumi (ilustrasi).

Jalaluddin ar-Rumi (ilustrasi).

Foto: quantummethod.org
Rumi dalam puisinya menegaskan tentang pentingnya cinta ilahi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sosok sufi Jalaluddin Rumi tak lepas dari diskursus tasawuf. Namun sosok sufi ini justru sangat amat lekat dengan puisi, bagaimana sesungguhnya getaran puisi karyanya?  

Baca Juga

Rumi dalam berbagai karyanya pernah menyebut, cinta adalah sumber mata air baginya. Cinta Rumi kepada Allah SWT banyak diungkapkan melalui puisi-puisi yang dibuatnya. Seperti puisi yang satu ini, Rumi menulis: 

Kematian terburuk adalah tanpa Cinta

Kenapa kerang menggigil? Demi mutiara! 

Setiap dada tanpa Sang Kekasih adalah badan tanpa kepala

Puisi Rumi adalah ekspresi mengenai kekerdilan manusia tanpa Allah SWT. Kehampaan manusia apabila berjalan tanpa Allah dalam laku hidupnya. Kesepian, begitu Rumi kerap menulis, bagi hati dan jiwa yang ditinggal cahaya cinta. 

Rumi mengakui bahwa cinta tak pernah bisa selesai diulas. Puisi tentang cinta (Allah SWT) kadang membuatnya malu tiada terperi. Rumi mengungkapkannya dengan kata-kata: 

Apapun yang aku katakan untuk menjelaskan cinta, itu cuma membuatku dicekam rasa malu

Cinta adalah samudera yang kedalamannya tak dapat diukur

Apakah kau akan menghitung jumlah tetesan samudera? 

Di hadapan Sang Samudera, tujuh lautan bukanlah apa-apa

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA