Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Pesona Mediterania di Istana Montazah

Ahad 01 Dec 2019 22:12 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedomukti/ Red: Agung Sasongko

  Istana Montazah (Montazah Palace), tempat peristirahatan bagi keluarga Raja Farouk yang terletak di Kota Alexandria, Mesir, Senin (8/9).  (Republika/Agung Supriyanto)

Istana Montazah (Montazah Palace), tempat peristirahatan bagi keluarga Raja Farouk yang terletak di Kota Alexandria, Mesir, Senin (8/9). (Republika/Agung Supriyanto)

Istana Montazah padukan gaya arsitektur Usmani dan Eropa,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Iskandariah (Alexandria) merupakan kota terbesar kedua di seluruh Mesir. Lokasinya terletak di pesisir Laut Mediterania atau sekitar 200 kilometer arah baratlaut Kairo, ibu kota negara ter sebut.

Sejak terbentuk pada 331 sebelum Masehi (SM), Iskandariah telah berperan sebagai titik pertemuan (melting-pot) yang memadukan unsur-unsur kebudayaan Barat dan Timur. Nama kota ini merujuk pada so sok Iskandar Agung (Alexander the Great). Dialah sang raja Makedonia yang hidup pada 356-323 SM.

Figur yang pernah berguru pada filsuf Aristoteles itu dikenang sebagai seorang penakluk besar. Wilayah kekuasaannya membentang antara Semenanjung Balkan hingga India. Kini, Iskandariah tak ubahnya kotakota modern di Mesir. Salah satu karya arsitektur ikonik di wilayah tersebut adalah Istana Montazah.

Bangunan ini didirikan pada 1932. Awalnya, kompleks tersebut diperuntukkan keluarga Raja Farouk, yang menguasai Mesir antara tahun 1936-1952. Setelah itu, istana ini cenderung berfungsi sebagai destinasi wisata atau titik penyambutan bagi tamu-tamu negara.

Pembangunan kompleks Istana Montazah tidak serta-merta terjadi. Pada mulanya, di atas lahan lokasi tersebut sudah ada Istana Salamlek, yang dibangun sejak 1892 oleh Raja Khadiva Abbas II. Dialah penguasa terakhir dalam Dinasti Muhammad Ali. Kekuasaannya tak hanya meliputi Mesir, tetapi juga Sudan. Khadiwa Abbas II menjadikan Istana Salamlek sebagai tempat peristirahatan, khususnya pada musim berburu.

Memasuki abad ke-20, Mesir mengalami pergantian kepemimpinan. Raja Fuad I berkuasa sejak 1917. Ayah kandung Raja Farouk itu mengagumi keindahan Salamlek. Oleh karena itu, pada 1932, dia menambahkan pendirian bangunan baru di dekatnya, yakni Istana al-Haramlik serta kebun raya. Sejak saat itu, area tersebut secara keseluruhan disebut sebagai Istana Montazah.

Gaya arsitekturnya memadukan antara unsur-unsur budaya Utsmaniyyah (Turki) dan Italia, khususnya Florentina. Ada dua menara yang menjulang bersisian dekat bangunan utama. Salah satunya tampak lebih tinggi.

Ada nuansa kultur renaisans Eropa yang kental pada desain bagian bangunan itu. Warna krem mendominasi keseluruhan Istana Montazah. Alhasil, warna tersebut tampak amat serasi saat iguyursinar matahari pagi. Kebun dan taman di sekitarnya menambah kesan asri dan elegan.

Kekuasaan raja-raja di Mesir kandas. Negara itu mulai menjadi republik sejak 1953. Pada masa kepemimpinan Presiden Anwar Sadat, bangunan asli Istana Sa lamlek pun direnovasi untuk dijadikan sebagai salah satu kompleks istana kepresidenan. Fungsi ini terus bertahan hingga era Presiden Hosni Mubarak.

Meskipun statusnya resmi, bagian-bagian tertentu dari area Istana Montazah tetap terbuka bagi publik. Misalnya, kawasan Taman al-Montazah yang seluas 61 hektare (ha). Di sana, masyarakat umum dapat menikmati keindahan berbagai pepohonan dan bunga yang selalu terjaga keasriannya.

Selain itu, ada pula Museum al-Haramlik. Di dalamnya, pengunjung dapat menyerap in formasi tentang sejarah Mesir, khususnya sejak era Dinasti Muhammad Ali. Ada pula ga leri seni dan sastra. Masih dalam kompleks yang sama, terdapat hotel berbintang sebagai lokasi penginapan yang mengesankan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA