Selasa 26 Nov 2019 17:55 WIB

Pakar: Digitalisasi Bisa Jadi Solusi Kemandirian Guru Ngaji

Guru ngaji bisa diberdayakan melalui sistem digitalisasi.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah
Guru mengaji mengajarkan muridnya, ilustrasi
Guru mengaji mengajarkan muridnya, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Di tengah perkembangan zaman, keberadaan guru ngaji masih sangat relevan. Hanya saja, guru ngaji diimbau untuk bersiap dengan adanya digitalisasi dalam dakwah.

Peneliti dari Lembaga Pengkajian Hadis El-Bukhari Institute, Masrur Irsyadi, mengatakan, kebutuhan masyarakat terhadap guru ngaji saat ini sangat tinggi terlebih dengan berkembangnya digitalisasi. Digitalisasi dinilai merupakan suatu tantangan yang prospektif bila dimaknai dengan baik.

Baca Juga

“Digitalisasi ini prospektif sekali, harus bersiap (guru ngaji) memang,” kata Masrur saat ditemui Republika.co.id, di Jakarta, Selasa (26/11).

Digitalisasi dinilai mampu menjadi jawaban atas beragam kendala bagi guru ngaji. Seperti pendapatan, jadwal mengajar, hingga kepastian pekerjaan yang tak selamanya ada. 

Menurutnya, terjadi ketimpangan suplai dengan kebutuhan antara ketersediaan guru ngaji dengan beberapa kalangan masyarakat yang mencari guru ngaji.

Umumnya di daerah kelas menengah ke atas, kata dia, permintaan terhadap guru ngaji cukup tinggi meski data tersebut secara riil belum dapat diakumulatifkan. Hanya saja, permintaan atas guru ngaji dalam kelas menengah ini dibarengi dengan sejumlah persyaratan.

"Misalnya kapasitas guru ngajinya seperti apa, ideologi, dan juga akhlaknya. Ini penting, karena kalangan ini umumnya lebih kritis,” kata Masrur.

Di sisi lain, wilayah tradisional masih mengandalkan pengajian ala rumahan. Di mana guru ngaji umumnya digaji dengan besaran gaji yang relatif rendah dengan rata-rata Rp 500 ribu per bulan. Hal ini disebabkan rendahnya besaran iuaran siswa ngaji yang berada di level Rp 50 ribu-Rp 100 ribu per bulan per siswa.

Rendahnya tarif iuran ngaji ini pada akhirnya dinilai menimbulkan tren baru pengajian yang menjamur dalam satu dekade terakhir, yakni guru ngaji privat. Guru ngaji privat dinilai lebih prospektif dibandingkan guru ngaji rumahan yang mana tarif iuran disesuaikan sesuai akad kesepakatan di awal.

“Kalau privat, biasanya Rp 100 ribu per sekali pertemuan. Kalau anak murid privatnya banyak, maka lumayan (penghasilan guru ngaji),” ungkapnya.

Bertumbuhnya tren pengajian privat ini pun, kata dia, telah ditangkap oleh sejumlah lembaga profesional yang mencarikan murid lewat basis media sosial. Hanya saja, umumnya lembaga-lembaga tersebut menerapkan sejumlah standar khusus bagi guru ngaji yang akan direkrut.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement