Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Mengenali Rezeki Halal, Mudahkah?

Sabtu 23 Nov 2019 05:20 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Agung Sasongko

Rezeki/Ilustrasi

Rezeki/Ilustrasi

Foto: wordpress.com
Islam tak melarang umatnya untuk menjadi orang kaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah tuntutan zaman yang kian materialistis, filter terhadap rezeki halal patutnya tak luput dari prioritas seorang Muslim. Muasal rezeki perlu diseleksi un tuk menjaga kehalalan rezeki yang didapat dan kemudian di kon sumsi menjadi aliran darah dan gumpalan daging di tubuh.

Ustaz Oemar Mitha menyampaikan bahwa Rasulullah SAW merupakan pribadi yang sangat memperhatikan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tu buh nya. Perhatian itu bukan ha nya dari elemen gizi makanan dan minuman, tetapi juga rantaian sum ber yang menghantarkan ma kan an tersebut hingga ke pi ring makan.

"Contohnya, Rasul pernah mengorek kurma dari mulut Husain (cucu Rasulullah) karena takut sumber kurma itu belum diketahui alias syubhat. Mengapa? Karena kurma itu kalau sudah sampai perut, bisa jadi dagingnya Husain," kata Ustaz Oemar da lam kajian Hijrahfest, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (16/11).

Dia membeberkan bahwa Islam bukan hanya mengajarkan bagaimana tata cara atau adab seorang umat dalam agama. Le bih dari itu, Islam juga mengajar kan bagaimana unsur kehati-ha tian dalam rezeki yang didapat.

Anjuran untuk bekerja keras memang diajarkan dalam agama. Hal itu terbukti bagaimana seorang hamba dituntut untuk bangun pagi usai melaksanakan shalat subuh dan menyebar men cari rezeki. Namun, iktikad mencari rezeki juga tak lepas dari beragam peraturan.

Rezeki di sini dikelompokkan dalam hal yang benar-benar kru sial. Hanya rezeki halal yang bo leh dikonsumsi umat Islam. Meski begitu, dia juga mengajak kepada seluruh Muslim agar berhati-hati terhadap godaan-godaan setan ter hadap proses manusia mencari rezeki.

Dia mencontohkan, asbabun nuzul Alquran surah al-An'am yang salah satunya adalah anjur an agar umat Islam tak memakan bangkai menjadi catatan sejarah godaan setan. Ketika anjuran ter sebut tiba, kaum musyrik justru mem buat narasi yang berusaha meyakinkan para sahabat Rasul agar kembali memakan bangkai. "Kata kaum musyrikun, 'Kalian (sahabat) ini aneh. Yang mema ti kan hewan ini kan atas kuasa Allah, mengapa diharamkan di makan?'" kata dia.

Mendengar itu, para sahabat hampir-hampir kembali untuk memakan bangkai sebelum akhir nya turun ayat 121 dalam surah al-An'am. Ayat itu menegaskan bahwa bangkai hukumnya haram untuk dikonsumsi kecuali bangkai ikan dan belalang.

Usut punya usut, kata Ustaz Oemar, mayoritas kaum musyrikin merupakan produsen daging bangkai. Ketika seruan meninggalkan bangkai untuk dikonsumsi disebarkan ke umat Islam, berbagai intrik dan narasi menyesatkan mereka lancarkan.

Rezeki halal yang dikonsumsi manusia bakal menjadikan akhlak dan kepribadian mulia, baik di lingkup sosial, bahkan mu lia di mata Allah SWT. Hal itu sebagaimana yang terjadi pada sahabat Nabi Muhammad SAW, Sa'ad bin Abi Waqash.

Sa'ad dikenal sebagai seorang sahabat Nabi yang doanya paling mustajab. Hal itu karena sikap kehati-hatiannya terhadap rezeki yang ia konsumsi sehari-hari. "Kalau Sa'ad bin Abi Waqash ini mau makan, dia tanya dulu ini makanan dari mana, siapa yang menanam sayurnya, bagaimana menanamnya, bagaimana dibeli pupuknya, dan lain-lain. Detail sekali," kata dia.

Keteladanan dari Sa'ad di apresiasi oleh Allah SWT. Doa Sa'ad selalu diijabah. Tiap kali Sa'ad berdoa maka Allah SWT selalu mengabulkan doanya, bah kan ketika doa tersebut belum se lesai diucapkan lewat lisannya.

Untuk itu, Ustaz Oemar meng ajak kepada setiap Muslim untuk meniru teladan Rasulullah dan para sahabat dalam mene lu suri sumber rezeki yang didapat, apa lag i jika rezeki tersebut akan dibe rikan kepada keluarga dan anak ke turunan."Ketaatan anak kita ter gantung bagaimana kita mem be rikan makanannya," ung kapnya.

Senada dengan hal itu, Ustaz Fatih Karim membeberkan ba gai mana contoh sistem halal ke rap diterapkan oleh negara-ne gara non-Muslim. Dia mencontohkan bagaimana Jepang mene rapkan unsur kehati-hatian me ngenai akad jual-beli.

"Saya beberapa waktu lalu ke Jepang. Waktu itu, saya ke stasiun kereta di sana dan beli minum. Sa king hausnya, saya langsung buka tutup botolnya sebelum me lakukan akad jual beli. Ternyata saya ditegur," kenang ustaz yang aktif dalam komunitas Hijrah ini.

Dia melanjutkan bahwa di Je pang, membuka kemasan makan an dan minuman sebelum mela ku kan transaksi dapat dikenai pasal pidana. Hal itu karena belum ada unsur kesepakatan jualbeli dan dipercaya dapat merugikan penjual.

Untungnya, kata Ustaz Fatih, ketika meminta maaf atas ketidaktahuannya itu, sang pedagang minuman di Jepang memaklumi. Dari peristiwa itu, dia mengaku ter pukau dengan semangat ke hati-hatian dari sistem perda gang an di Jepang."Dengan sistem seperti itu, penjual dan konsu mennya sama-sama dilindungi," kata dia.

Untuk itu, dia mengajak ke pada seluruh Muslim di mana pun berada agar memperhatikan setiap makanan dan minuman yang hendak dikonsumsi. Tak ha nya itu, setiap pakaian atau ba rang yang hendak digunakan pun harus dikenali sumber-sumber nya guna menghindari penggunaan barang haram dalam materialnya.

Di sisi lain, dia juga mengingatkan bahwa Islam tak melarang umatnya untuk menjadi orang kaya. Namun, Islam meng ajarkan petunjuk menghimpun harta yang diperoleh dengan ca ra-cara yang baik dan tak meru gi kan orang lain. Ke depan, dia mengimbau agar pergerakan ekonomi syariah dapat dibumikan di Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA