Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Anda Suka Dipuji Orang? Ini Bahayanya Menurut Imam Ghazali

Kamis 21 Nov 2019 20:53 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Bersalaman. Ilustrasi

Bersalaman. Ilustrasi

Foto: .
Suka dipuji orang bisa mendatangkan kesombongan.

REPUBLIKA.CO.ID,  Pujian memang terkadang mengasyikkan bagi sebagian orang, namun ternyata pada hakikatnya pujian adalah melenakan. Diceritakan, di samping Rasulullah SAW ada orang yang memuji-muji temannya. Lalu, Rasulullah mengingatkannya. 

Baca Juga

Kata beliau, ''Celaka kamu! Kamu telah memotong leher saudaramu itu. Kalau ia mendengar, ia tidak akan senang.'' Kemudian beliau melanjutkan, ''Kalaulah kamu harus memuji saudaramu, lakukanlah itu secara jujur dan objektif.'' (HR Bukhari-Muslim).

Hadis tadi mengingatkan kita agar tidak sembarang memuji atau memberikan pujian sekadar asal bapak senang (ABS). Pujian semacam itu selain tidak mendidik, juga sangat bertentangan dengan norma-norma agama. Pujian yang dilakukan secara berlebihan menjadi bagian dari bencana lidah (min afat al-lisan) yang sangat berbahaya.

Dalam buku Ihya 'Ulum al-Din, Imam Ghazali menyebutkan enam bahaya (keburukan) yang mungkin timbul dari budaya ABS itu. Dikatakan, empat keburukan kembali kepada orang yang memberikan pujian, dan dua keburukan lainnya kembali kepada orang yang dipuji.

Bagi pihak yang memuji, keburukan-keburukan itu berisi beberapa kemungkinan. Pertama, ia dapat melakukakan pujian secara berlebihan sehingga ia terjerumus dalam dusta. Kedua, ia memuji dengan berpura-pura menunjukkan rasa cinta dan simpati yang tinggi padahal sesungguhnya dalam hatinya tidak. 

Di sini, ia berbuat hipokrit dan hanya mencari muka. Ketiga, ia menyatakan sesuatu yang tidak didukung oleh fakta. Ia hanya membual dan bohong belaka. Keempat, ia telah membuat senang orang yang dipuji padahal ia orang jahat (fasik). Orang jahat, kata Ghazali, jangan dipuji biar senang, tetapi harus dikritik biar introspeksi.

Sedangkan bagi pihak yang dipuji terdapat dua keburukan yang bisa timbul. Pertama, ia bisa sombong (kibr) dan merasa besar sendiri ('ujub). Keduanya, kibr dan 'ujub merupakan penyakit hati yang mematikan.

Kedua, ia bisa lupa diri dan lengah karena mabuk pujian. Menurut Ghazali, orang yang merasa besar dan hebat, pasti ia lengah. Karena sudah hebat ia merasa tidak perlu bersusah payah dan bekerja keras. Kerja keras hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang merasa banyak kekurangan dalam dirinya.

Kata Ghazali, pujian boleh dilakukan asalkan dapat terhindar dari keburukan-keburukan. Bahkan, terkadang pujian itu diperlukan. Rasulullah SAW pernah memuji Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan sahabat-sahabat beliau yang lain. Namun, pujian beliau dilakukan dengan jujur dan penuh kearifan. Beliau juga sadar betul bahwa pujiannya tidak akan menjadikan para sahabatnya itu sombong.

Agar tidak mabuk karena pujian, seseorang perlu mengenali dirinya sendiri. Ia tentu lebih tahu dirinya sendiri ketimbang orang lain yang memuji. Dengan begitu, ia tidak akan lengah, karena sadar tidak semua pujian yang dialamatkan kepadanya sesuai dengan kenyataan.

Dikatakan, seorang telah memuji Imam Ali bin Abi Thalib. Lalu, katanya, ''Aku tidak sebagus yang kamu katakan.'' Dalam kesempatan lain, ketika banyak menerima pujian, beliau justru berdoa, ''Ya Allah, ampunilah aku atas perkataan mereka, dan jangan Engkau siksa aku gara-gara mereka. Berikanlah kepadaku kebaikan dari apa yang mereka sangkakan kepadaku.'' 

 

 

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA