Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Hubungan Antara Tari Sufi Sema Ala Rumi dan Hukum Alam

Kamis 21 Nov 2019 03:15 WIB

Red: Nashih Nashrullah

 Jamaah melakukan Tarian Sufi (Darvis Whirling Dance) di Rumi Cafe di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (5/6) malam.

Jamaah melakukan Tarian Sufi (Darvis Whirling Dance) di Rumi Cafe di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (5/6) malam.

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Tari sema merupakan tari sufi dari berbagai perpaduan tradisi dan budaya.

REPUBLIKA.CO.ID, Tari Sema (Sufi) adalah sebuah tarian yang merupakan salah satu inspirasi peninggalan Maulana Jalaluddin Rumi. Pakar dan pemerhati Jalaluddin Rumi dari Monash University Australia, Profesor Zaki Saritoprak, mengatakan, tari sema sejatinya adalah paduan warna dari tradisi, sejarah, kepercayaan, dan budaya Turki. 

Baca Juga

Menurut Saritoprak, Rumi berpandangan bahwa kondisi dasar semua yang ada di dunia ini adalah berputar. Tidak ada satu benda dan makhluk yang tidak berputar. Keadaan ini dikarenakan perputaran elektron, proton, dan neutron dalam atom yang merupakan partikel terkecil penyusun semua benda atau makhluk. 

Dalam pemikiran Rumi, lanjut Saritoprak, perputaran partikel tersebut sama halnya dengan perputaran jalan hidup manusia dan perputaran bumi. “Manusia mengalami perputaran, dari tidak ada, ada, kemudian kembali ke tiada,” ujar Saritoprak. 

Manusia yang memiliki akal dan kecerdasan membuatnya berbeda dan lebih utama dari ciptaan Allah yang lain. Tarian Sema yang didominasi gerakan berputar-putar, kata Saritoprak, mengajak akal untuk menyatu dengan perputaran keseluruhan ciptaan. 

Prosesi Sema menggambarkan perjalanan spiritual manusia dengan menggunakan akal dan cinta dalam menggapai ‘kesempurnaan’,” jelas Saritoprak. 

Mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, menambahkan, hal yang lebih penting dari simbolisasi tari sema adalah nilai-nilai cinta dan kedamaian yang diajarkan Rumi melalui tariannya.  

Komaruddin berpendapat, kesempurnaan manusia dalam pemikiran Rumi bisa digapai dengan meraih kebenaran yang didukung dengan menumbuhkan cinta dan mengesampingkan ego dalam perjalanan spiritual seseorang.  

Manusia yang telah mencapai kematangan tersebut, lanjut Komaruddin, siap untuk melayani seluruh ciptaan, seluruh makhluk, tanpa membedakan kepercayaan, ras, derajat, dan asal bangsa. “Pesan cinta dan kedamaian inilah yang sesungguhnya ingin disebarkan Rumi melalui simbolisasi Tarian Semanya,” imbuh Komaruddin.

Dia melanjutkan, wajah cinta dan kedamaian yang diajarkan Rumi sebenarnya merupakan perwujudan nyata atas nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah SAW. “Jadi tidak benar kalau ada yang beranggapan kalau wajah Islam adalah wajah teroris yang penuh dengan kekerasan. Islam itu sangat dekat dengan kedamaian dan cinta, seperti yang ditunjukkan Rumi melalui Tarian Semanya,” tandas Komaruddin.

Kecintaan Rumi terhadap Allah SWT sangat besar sekali. Kecintaan tersebut ia barengi dengan kerinduan untuk menyingkap berbagai misteri-misteri tentang diri-Nya. 

Cendikiawan Muslim dan ulama terkenal Turki, Fethullah Gullen, dalam sambutannya pada buku Fundamentalsof Rumi’s Thought karya Sefik Cans, menuturkan, inti ajaran Rumi adalah menghambakan diri dengan cara menyatukan cintanya kepada cinta Allah SWT.

Rumi, kata Gullen, membingkai cinta dan kasih sayang terhadap Allah SWT dalam kekhusyuan ibadah yang ia lakukan dan juga di tengah keramaian suasana manakala ia sedang melakukan aktifitas di masyarakat.

Di dalam kekhusuan ibadah yang dikerjakan, akhirnya Rumi menemukan konsep penyatuan diri (unifikasi) dengan Allah SWT yang bias didapatkan manakala seseorang berusaha untuk membatasi dirinya untuk melakukan komunikasi dengan selain komunikasi yang ia jalin bersama Allah SWT. “Di saat-saat itulah seseorang akan merasakan hatinya terbakar oleh api kecintaan terhadap Allah SWT,” tulis Gullen.

Setiap orang yang terbakar oleh api cinta-Nya akan merasakan luapan hati yang berat. Akan tetapi, menurut Gullen, Rumi tidak pernah menunjukkan rasa ketidaksukaannya. 

Justru ia merasakan hal tersebut merupakan salah satu prestasi kasih sayang yang ia bingkai bersama-Nya dan mencegahnya untuk berkeluh-kesah dalam melakukan ibadah yang ia rajut bersama kesetiaannya.

Bagi Rumi, mereka yang mengaku mencintai Allah SWT hendaklah mengiringi perasaan cinta dengan keinginan untuk senantiasa melakukan ibadah kepada-Nya. Hal itu merupakan salah satu wahana untuk bisa dekat dan menyatu dengan Allah SWT.

Di samping itu, Rumi juga mengajarkan, Muslim hendaknya berusaha untuk selalu menghiasi diri dengan kemuliaan-kemuliaan sikap dalam hidup, seperti sederhana dalam mengkonsumsi makanan, minum, tidur, dan memberikan orientasi dengan kesadaran penuh terhadap firman-firman-Nya.

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA