Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Mungkinkah Agama dan Negara Bersatu? Ini Pandangan M Natsir

Selasa 19 Nov 2019 17:51 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Pengadilan agama/ilustrasi

Pengadilan agama/ilustrasi

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Natsir menilai korelasi kuat antara agama dan negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Hubungan antara Islam dan negara selalu menjadi tema menarik dalam berbagai diskusi. Tak terkecuali bagi tokoh Masyumi Muhammad Natsir. Pemikiran Natsir terkait agama dan negara sebagaimana tertuang dalam artikel berjudul "Persatuan Agama dan Negara", sebagaimana diterbitkan dalam Panji Islam awal 1940-an. 

Baca Juga

Tulisan tersebut merupakan bantahan atas pandangan Sukarno di media yang sama tentang hubungan agama dan negara.    

Natsir  tetap konsisten dengan pandangan 'persatuan negara dan agama'. Natsir punya alasan, bahwa untuk menegakkan ajaran-ajaran Islam diperlukan dukungan kekuatan politik atau kekuasaan, dan kekuatan politik yang paling efektif untuk itu adalah negara yang berasaskan Islam. Hanya orang Islam saja duduk di kekuasaan, bagi Natsir, tidak cukup.

Sejarah memang mencatat, dalam kekuasaan kaum Kemalis, secara sistematis Islam di Turki ditindas dan dipinggirkan. Turki, menurut Natsir, memang telah merdeka! ''Akan tetapi tidaklah ada kemerdekaan bagi Islam di tanah Turki yang merdeka itu, walaupun yang memegang kekuasaan adalah putera-putera Turki yang mengaku beragama Islam. Tidak ada kemerdekaan bagi Islam dalam Turki Merdeka, meskipun orang sembahyang di masjid tidak dihentikan,'' tambahnya.

Menurut Natsir, itu terjadi karena yang memegang kekuasaan di Turki bukan orang yang Islam dalam semangat dan Islam dalam filsafat hidupnya. Kenyataannya, bukan Islam sejati yang kemudian hidup di Turki, seperti dijanjikan Kemal, tapi tergantinya tradisi-tradisi Islam dengan tradisi Barat. Sekolah-sekolah agama (madrasah) dibubarkan dan diganti sekolah umum. Minuman keras dan dansa-dansi merebak di kalangan Kemalis.  

 

 

 

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA