Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Apakah Penghuni Neraka Kekal Abadi di Dalamnya?

Selasa 19 Nov 2019 14:15 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Berdoa kepada Allah/ilustrasi

Berdoa kepada Allah/ilustrasi

Nasib penghuni neraka akan ditentukan Allah SWT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Apakah orang-orang penghuni neraka itu kekal abadi berada di dalamnya? Ulama kondang Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka, menjelaskannya di dalam buku tafsir al-Azhar. 

Baca Juga

Buya Hamka menjelaskan persoalan ini saat menafsirkan surahal-An'aam ayat 128. Di ujung surah tersebut, Allah SWT berfirman, "Nerakalah tempat-mu dalam keadaan kekal di dalamnya, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana dan Mengetahui".

Hamka menghubungkan ayat 128 surah al-An'am dengan surah Hud ayat 107 dan 108. Tiga ayat ini menimbulkan perbincangan ramai di kalangan ulama, karena terkait karunia dan azab Allah SWT. 

Perbincangan muncul karena puluhan ayat dalam Alquran menyebut akan adanya makhluk Allah SWT yang kekal di dalam neraka dan tidak akan dilepaskan. 

Saat memberi penjelasan tentang ayat 107 surah Hud, papar Hamka dalam bukunya, Rasulullah SAW bersabda bahwa ayat tersebut telah memberi keputusan atas banyaknya ayat Alquran yang membahas kekekalan di dalam neraka. Ayat tersebut juga menjelaskan soal apa yang dimaksud kekal. 

Ujung ayat 107 surah Hud itu, jelas Hamka, berarti bahwa Allah SWT Mahakuasa mengeluarkan orang yang dihukum kekal di dalam neraka, untuk kemudian dipindahkan ke surga. Mahakuasa pula bagi Allah untuk menghancurkan neraka. Kata fa'aalun pada ayat itu, memiliki arti sifat tertinggi, siapapun tidak bisa menghalanginya. 

Sedangkan di ujung ayat 108 surah Hud, disampaikan soal pemberian yang tidak putus-putus. Ibnu Jarir pun berkesimpulan, nikmat kepada penghuni surga itu tidak akan putus. Sementara, pada ayat 107 tidak ada ketegasan apakah azab untuk penghuni neraka itu terus-menerus atau berkurang. Tetapi kedua hal ini jaiz, boleh bagi Allah.

Hamka dalam kitab tafsirnya ini mengutip pendapat Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah sebagaimana tertuang dalam kitab Hadi al-Arwah. Ibn al-Qayyim menyimpulkan bahwa, neraka pada akhirnya akan ditutup. Penghuni neraka berada di dalamnya menurut kadar dosanya. Dan berapa lama mereka di sana, tergantung ketetapan Allah SWT.

Ada yang berada di neraka selama beberapa huqub (satu huqub 80 tahun), lalu neraka ini sendiri akan dihancurkan Allah SWT. Bagi Ibnu al-Qayyim, Allah memiliki sifat pokok yakni rahmat, kasih, dan Sayang. Kalaupun Allah memberi siksaan, bukan karena kebencian atau dendam. Apalagi tak ada manusia yang tak pernah berbuat kebaikan.

Hamka berpendapat, meski Allah menetapkan seseorang untuk mendapat azab di neraka dalam sekian waktu, Allah punya sifat Mahakuasa untuk mengurangi hukuman tersebut, kemudian dipindah ke surga. Karena, kasih sayang atau rahmat adalah sifat yang telah diwajibkan sendiri oleh Allah untuk-Nya.

Hamka menyadari, hal itu tentu membuat tenang orang-orang yang lemah imannya sehingga malah makin berbuat dosa karena berpikir pada akhirnya akan diampuni. Namun, orang yang beriman tidak akan berpikir begitu. 

Justru ketiga ayat tersebut, harusnya membuka pikiran, agar selalu berharap karunia ilahi, dijauhkan dari siksa neraka. "Tersinggung bara panas di dunia ini saja sudah tak terderitakan lagi sakitnya, betapa lagi kalau masuk neraka walaupun hanya satu menit saja," tulis Hamka.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA