Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Wakaf Bisa Hidupkan Pesantren yang Mati Suri

Ahad 10 Nov 2019 21:05 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Elba Damhuri

Ilustrasi Wakaf

Ilustrasi Wakaf

Foto: Foto : MgRol112
Wakaf bisa menjadi alternatif untuk menghidupkan pesantren yang mati suri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --- Banyak pesantren yang mengalami mati suri setelah wafatnya tokoh sentral pesantren. Di Kabupaten Kuningan misalnya dari 200 pesantren terdapat 20 pesantren yang mati suri.

Penyebab utamanya pun sama, yakni karena tak adanya penerus yang memimpin pesantren setelah wafat pemimpin sebelumnya. Wakaf pesantren pun dinilai sebagai salah satu solusi terbaik agar pesantren-pesantren yang mati suri bisa hidup kembali.

“Apakah wakaf menjadi alternatif? Itu salah satu alternatif, meski tidak sedikit pesantren yang berstatus wakaf juga mati suri karena mismanajemen. Tetapi wakaf salah satu pilihan (pintu masuk) pengelolaan pesantren yang baik. Tentunya wakafnya ke umat, tidak ke perseorangan,” tutur ustaz Sanwani, pengurus dan Kepala Humas Ponpes Husnul Khotimah Kuningan, Sabtu (9/11).

Menurut Sanwani, ada beberapa kunci yang bisa diterapkan pondok pesantren agar bisa terus eksis. Pertama, menjaga keikhlasan. Menurut Sanwani, pesantren bukan semata-mata mencari keuntungan jangka pendek. Namun juga keuntungan jangka panjang, yakni akhirat.

Pesantren sebagai tempat membangun membangun generasi Robbani,generasi yg menjadikan Allah sbg tujuan hidupnya. Selain itu, menurut Sanwani, manajemen pesantren tidak wijahiyyah atau figuritas melainkan dengan membangun sistem yang baik.

Yang dimaksud figuritas adalah mengandalkan sepenuhnya manajemen pada figur kiai sepuh atau sentralistik.  Pemimpin pesantren semestinya fokus membina santri dan tidak tergiur dengam politik dan jabatan-jabatan politik.

Sanwani menyatakan pemimpin pesantren tidak menyeret santri terlibat dalam politik  pesantren. Sanwani menilai idealnya sistem manajemen pesantren berdasarkan manajemen terbuka dimana semua umat yang mempunyai kualitas untuk mengelola pesantren dapat menjalankannya.

Inilah yang setidaknya dijalankan oleh Ponpes Husnul Khotimah. Pondok Pesantren Husnul Khotimah bisa dibilang sebagai pesantren modern yang memiliki santri terbanyak se-Kabupaten Kuningan.

Saat ini total santrinya mencapai 4.000 orang. Pembangunan pesantren Husnul Khotimah pun terus berkembang dengan pesat. Bahkan pesantren telah memiliki Sekolah Tinggi Ilmu Syariah, Klinik santri, konveksi, hingga membuka cabang Husnul Khotimah II di Pancalang, Kuningan.

Kemajuan Ponpes Husnul Khotimah tak lepas dari strategi perintis Ponpes Husnul Khotimah yang telah mencanangkan target pesantren dalam 50 tahun sejak berdirinya pesantren itu pada 2 Mei 1994.

“Kiai Sahal Suhana itu sudah memberikan arahan strategis Husnul Khotimah 50 tahun yang akan datang, sekarang usia Husnul baru 25 tahun dan sedikit demi sedikit kita bangun Husnul,” kata Ustaz Sanwani.

Menurut Sanwani, sebagaimana strategi perintis Husnul Khotimah menargetkan pada 2045 pesantren sudah memiliki empat cabang. Saat ini yayasan telah mendirikan Husnul Khotimah II yang letaknya berada di Kecamatan Pancalang.

Pesantren pun menargetkan dapat mendirikan Rumah Sakit Umum yang dapat melayani masyarakat tidak mampu. Kedepannya jelas Sanwani, Yayasan pun berencana untuk mendirikan Universitas serta memiliki badan usaha yang dapat menopang ekonomi Husnul Khotimah agar lebih mandiri.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA