Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Sukmawati dan Perlawanan Jawa

Perlawanan Jawa, Sukmawati, Modi: Sejarah Bukan Megalomania!

Ahad 17 Nov 2019 09:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Lasykar rakyat dalam pemberontakan petani dan ulama di Banten, tahun 1888.

Foto:
Perlawanan Jawa, Sukmawati, Modi: Sejarah Bukan Megalomania !

Maka, kemudian menjadi lucu bila ada yang mengatakan:" Tak ada lagi perlawanan terhadap kolonial setelah Perang Diponegoro usai" Dan soal ini pun pernah dijawab dalam sebuah perbincangan dengan pakar sejarah dari UNS Solo, Prof DR Hermanu Joebagio.

''Setelah perang Jawa usai elit dan bangsawan Jawa memang benar-benar takluk total kepada Belanda. Saat itu secara resmi (mulai tahun 1830) Jawa dijajah secara langsung oleh pemerintah kolonial. Ini beda dengan sebelumnya karena kerajaan Jawa dijajah oleh sebuah kongsi dagang yang namanya VOC. Perlawanan dari kaum bangsawan dan raja benar-benar mati total,'' katanya.

Mengapa demikian? Hermanu mengatakan mulai saat itu kekuasaan raja di Jawa dipreteli habis-habisan. Raja dan Istana hanya sebagai lambang kebudayaan. Kekuasaan birokrasi dan politik di jalankan oleh pemerintah kolonial melalui mahapatih (wakil raja).

Selain itu, padamnya perlawanan elit melalui perang besar seperti Pangeran Diponegoro karena Belanda kemudian secara sistematis memutus hubungan elit kerajaan dengan pesantren. Para pangeran dan bangsawan dilarang belajar di pesantren seperti tradisi sebelumnya. Mereka harus mendapat pendidikan ala barat. Cerita kisah Bagus Burhan (Ronggowarsito) yang belajar di sebuah pesantren di Ponorogo, atau juga kisah pangeran Diponegoro yang belajar di pesantren Mlangi tak bisa dilakukan lagi.

Hal lainnya, adalah para bangsawan juga dilarang menikah dengan putri atau anak kyai dari pesantren yang kala itu lazim dilakukan. Para bangsawan hanya dibolehkan kawin-mawin antarsesama bangsawan. Menikah dengan orang dari pesantren pun hanya tinggal kenangan.

"Jadi disinilah penyebab tidak adanya perlawanan atau perang besar dari elit kerajaan di Jawa. Segala hubungan antara kerajaan dengan pesantren diputus total. Saat itu stigma mulai muncul bahwa pesantren, kiai, atau orang Islam itu radikal karena menjadi sumber perlawanan,'' katanya.

Yang paling unik adalah pihak mana yang membangkitkan lagi sosok Diponegoro untuk menyemangati perjuangan kemerdekaan. Faktanya sangat jelas semangat perlawanan dan sosok Diponegoro kembali bangkit semenjak masa awal berdirinya Sarekat Dagang Islam (menjelma menjadi Sarekat Islam) yang kemudian dipimpin oleh gurunya Soekarno, yakni HOS Cokroaminoto. Sosok pangeran Mataram yang wafat pada 1850 ini, ternyata hanya selang lima puluh tahun, tiba-tiba muncul dalam berbagai poster kegiatan Sarekat Islam. Dan semangat mereka pun sama yakni semangat melakukan perlawanan 'jihad' kepada kaum kolonial.

photo
Keterangan foto: Lasykar rakyat tengah berada di stasiun Kroya sewaktu zaman perjuangan kemerdekaan. Jasa mereka besar tapi buku sejarah tak pernah mencatatnya.  Foto ini ditemukan sebagai koleksi museum di Belanda, bukan museum di Indonesia. Ini sebagai bukti bahwa penulisan dan pemahaman sejarah Indonesia masih terkena wabah glorifikasi dan megalomania orang-orang yang disebut sebagai tokoh besar. (foto: Gahetna.nl).


Bahkan dalam sosok Kartosuwiryo yang kontroversial -- ini juga disinggung Sukmawati-- juga punya jasa besar. Budayawan Ridwan Saidi dengan terang mengatakan bila Kartosuwiryo itu salah satu dari 31 orang memberikan pidato pada kongres Pemuda 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Dia mewakili Jong Islametin Bond. Soekarno tidak datang pada konggres itu. Yang jadi bintang konggres tersebut adalah Moh Yamin asal Sumatra Barat dan putri keraton Solo, Siti Sundari.

Juga soal memperjuangkan kemerdekaan. Semua tahu pencetus semangat Indonesia Merdeka adalah para pelajar Indonesia yang pada awal dekade 1920-an belajar di Belanda. Mereka adalah para mahasiswa yang bergabung dalam Perhimpunan Indonesia. Tokohnya jelas ada yakni Tan Malaka dan Moh Hatta. Beda dengan di Belanda, kata 'Indonesia Merdeka' belum disebut-sebut. Jadi merekalah yang membentuk identitas Indonesia sebagai nama pengganti dari Hindia Belanda.

photo
Keterangan Foto: Tan Malaka asal Ranah Minangkabau ini merupakan bapak bangsa. Dialah orang pertama yang mencetuskan secara nyata 'menuju Indonesia Merdeka'. Ini dilakukan kala dia kuliah di Belanda. Sebelum itu kata Indonesia Merdeka belum ada yang mengatakannya dan jadi identitas politik.

Uniknya lagi pada paruh  akhir tahun 1949 (tepatnya 7 Agustus 1949), ketika hendak melakukan pendirian Negara Islam Indonesia (NII) di Jawa Barat yang kala itu daerah tersebut ditinggalkan pasukan Siliwangi hijrah ke Jogja, antara Kartosuwiryo dan Panglima Besar Jendral Sudirman terlibat dalam surat menyurat yang intens. Dan sebagai kurirnya adalah orang kepercayaan Sudirman yang bernama Soeharto yang kemudian jadi presiden menggantikan Soekarno.

Nah, atas semua fakta itu maka buanglah sejarah yang terlalu terjebak dalam megalomania. Marilah ke depan mulai menulis soal jasa orang biasa yang disebut Bung Karno disebut kaum Marhaen tersebut. Bila perlu para elit sudilah sejenak berpaling dan berkaca kepada nasib anak turun Jawaharlal Nehru yang kini terlempar dari elit kekuasaan. Padahal selama ini elit wangsa Nehru ini mendominasi posisi puncak elit politik India. Mereka kini tak dipercaya rakyat karena dianggap jumawa meski sudah berkampanye, makan roti gandum kasar, dan tinggal digubug kaum papa India setiap menjelang pemilihan umum. Kepercayaan tak pulih. Rakyat India lebih suka pada sosok orang biasa dan tak jumawa asal Gujarat, yakni Narendra Modi.

Maka belajarlah para sejarah. Negara ini didirikan oleh banyak orang. Jasa mereka meski banyak yang tak tercatat dalam buku sejarah, telulur disekujur masa dan haribaan ibu pertiwi. Tak ada yang bisa ingkar!

photo
Keterangan foto: Rahul Gandhi bersama rakyat miskin India dalam sebuah kampanye. Meski melakukan pecitraan mati-matian dengan tidur dan makan di gubuk orang miskin, rakyat India tetap memilih Narendra Modi sebagai pemenang pemilu. Mereka bosan dengan elit India yang selama ni dikuasi oleh wangsa Jawaharlal Nehru yang juga salah satu tokoh pendiri India.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA