Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Sukmawati dan Perlawanan Jawa

Perlawanan Jawa, Sukmawati, Modi: Sejarah Bukan Megalomania!

Ahad 17 Nov 2019 09:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Lasykar rakyat dalam pemberontakan petani dan ulama di Banten, tahun 1888.

Foto:
Perlawanan Jawa, Sukmawati, Modi: Sejarah Bukan Megalomania !

Terkait dunia perbanditan di Jawa pada era kolonial, sejarawan muda Solo, Heri Priyatmoko, selanjutnya mengatakan penyebab munculnya aksi ‘perbanditan’ di Jawa pada saat itu memang kebanyakan dipicu oleh munculnya praktik pemerintah kolonial yang sangat menindas rakyat kecil. Melihat tindakan itu maka rakyat pun meresponsnya dengan melakukan berbagai aksi kekerasan.

‘’Karena ditindas maka rakyat Jawa yang kebanyakan hidup dalam kemiskinan melakuan perlawanan atau gerakan balas dendam. Tindakan itu kemudian dilakukan dengan melakukan berbagai aksi kriminal yang ditujukan kepada orang kulit putih (Belanda), kroni dan birokrat yang menjadi kaki tangannya, dan para tuan tanah yang selama ini menindasnya. Jadi kekerasan adalah pilihan untuk melakukan perlawanan,’’ katanya.

photo
Keterangan foto: Lasykar Hizbullah dalam parade di Mabes TKR/BKR di Yogyakarta pada masa perang kemerdekaan. Pada waktu itu gambar, bendera, dan lencana bertuliskan 'Laillahailallah' akrab mereka pakai.

Namun, katanya, tak beda dengan masa sekarang, saat itu juga muncul aksi perbanditan yang muncul layaknya ‘Robin Hood’ yang suka membagi-bagikan harta kejahatan hasil rampokannya kepada rakyat kecil yang miskin. Tindakan kejahatan itu ditujukan kepada orang kaya darietnis Tionghoa, pribumi yang menjadi tuan tanah, maupun bangsawan yang suka menindas karena secara sewenang-wenang menarik pajak. Dan dalam hal ini kemudian di Jawa saat itu memang muncul berbagai sebutan soal pelaku aksi perbanditan, misalnya ‘kecu’, ‘begal’, 'maling aguno', atau 'maling sunthi'.

‘’Jadi memang jelas  para bandit ini melakukan aksi kriminal, tak hanya memaksa meminta harta saja, tapi mereka juga tak segan membunuh atau melukai  orang yang menjadi korbannya. Tindakan kekerasan mereka lakukan karena melihat si korbannya itu adalah orang yang selama ini berbuat lalim kepadanya,’’ tegas Priyatmoko.

Dengan demikian, lanjut dia, apa yang dikenang atau dipercaya bahwa situasi di Jawa pada masa lalu itu adalah wilayah yang penuh kedamaian dan ketenangan, maka ini tidaklah benar adanya. Kawasan Jawa, terus menerus mengalami pergolakan sosial.

‘’Maka apa yang seringkali disebut  Raffles bahwa Jawa sebagai wilayah yang subur dan damai adalah tak benar sama sekali. Raffles terlihat hanya melihat dari sisi permukaan saja. Dia hanya melihat Jawa yang subur dan indah. Dia tak mau melihat situasi sosial masyarakatnya yang saat itu penuh aksi kekerasan dan konflik sosial,’’ kata Priyatmoko.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA