Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Warisan Mehter Tahkimi untuk Musik Orkestra Eropa

Rabu 13 Nov 2019 15:09 WIB

Red: Agung Sasongko

Musik Mehter Tahkimi

Musik Mehter Tahkimi

Foto: Mehter.biz
Musik orkestra Eropa tahun 1760 M pertama kali menggunakan drum dan simbal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musik orkestra Eropa tahun 1760 M  pertama kali menggunakan drum dan simbal. Mirip seperti mehter tahkimi yang juga menggunakan boru (terompet), enam pasang zil (simbal), delapan dayul (drum), tiga pasang kös (timpani), dan drum (nekkare). Musik turun temurun ini kini dimainkan saat iring-iringan pertandingan bola di waktu liburan. Musik pengiring Eropa seperti pasukan drum Inggris dimainkan setiap festival Trooping of the Colour. 

Selama festival  itu, alunan  nada bergema  dari simbal yang beradu dan drum  yang dipukul. Suara musik itu berkumandang saat orchestra memainkan Simphoni ke-9 Beethoven. Zil atau simbal adalah instrument musik terpenting dalam mehter tahkimi. Meskipun mehter tahkimi sudah tidak ada, para pembuat simbal tidak menghilang. Mereka mulai mengembangkan pasar menuju Eropa dan Amerika.

Salah seorang pembuat simbal adalah Avedis, warga keturunan Armenia-Turki yang tinggal dan bekerja di istana Ottoman pada awal 1600-an. Menurut cerita, Avedis juga dikenal sebagai seorang alkemi atau ahli kimia. Avedis seorang pandai besi yang mampu membuat tembaga lebih kuat walau ukurannya lebih tipis sehingga ia dijuluki sultan "zildji". 

Pada 1623 M, Avedis tidak lagi bekerja membuatkan simbal untuk mehter sang sultan. Ia kemudian mendirikan  perusahaan sendiri di samping tetap membuat simbal untuk mehter tahkimi serta untuk gereja-gereja Armenia dan Yunani. Avedis juga memiliki formula rahasia bagaimana membuat simbal dari perunggu yang tipis. Formula itu kemudian ia wariskan pada putranya. 

Pascamehter tahkimi dibubarkan, Avedis kemudian membuat simbal untuk memenuhi kebutuhan marching band dan orkestra Barat. Keturunan Avedis kemudian berlayar ke Eropa untuk menunjukkan produk simbal buatannya pada pameran internasional. Simbal buatan Avedis bahkan memenangkan penghargaan di Paris, London, Wina, Bologna, dan Chicago.

Kini, dunia lebih mengenal karya alat musik Avedis lewat merek Zildjian. Dalam usinya yang hampir 400 tahun, Avedis Zildjian Company merupakan salah satu perusahaan tertua di dunia. Pada Desember 2010, Avedis Zildjian mengumumkan merger dengan perusahaan Vic Firth Inc, sebuah perusahaan alat musik asal Amerika Serikat yang didirikan oleh musisi Everett Firth. Meski sudah merger, kedua perusahaan itu tetap berjalan secara otonom. Mungkin, inilah salah satu warisan dari mehter tahkimi untuk dunia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA