Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Maulid Nabi SAW dalam Gubahan Syair Indah 3 Ulama

Sabtu 09 Nov 2019 09:00 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

Kaligrafi Muhammad SAW. Ilustrasi

Kaligrafi Muhammad SAW. Ilustrasi

Foto: .
3 karya ulama memuat syair indah memuji Nabi SAW.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Para ulama terdahulu banyak yang menulis kitab berisi kisah dan pujian-pujian kepada baginda Nabi Muhammd SAW. Tiap bait pada kitab-kitab itu pun hingga kini banyak dilantunkan masyarakat Indonesia dalam berbagai kesempatan terutama saat memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Sebut saja beberapa di antaranya yakni Barzanji, Simtu ad-Durar, dan Burdah al-Bushiri. 

Baca Juga

Syair-syair pada kitab Barzanji sudah sangat populer bagi umat Muslim Indonesia. Barzanji bahkan tak hanya dibacakan saat peringatan Maulid Nabi, masyarakat banyak yang melantunkan bait-bait penuh sanjungan kepada Nabi Muhammad ini dalam sejumlah acara salah satunya yakni menyambut bayi yang baru lahir, sekaligus prosesi potong rambut.

Masyarakat menamainya dengan srakalan atau asrakalan dari kata asyraqa yang juga terdapat dalam bait kitab itu yakni asyraqal badru ‘alaina berarti telah hadir rembulan di tengah-tengah kita. Kitab Barzanji merupakan karya Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husain bin Abdul Karim (1690-1766 M). 

Syekh Ja’far merupakan ulama besar yang merupakan seorang qadi di Madinah. Syekh Ja’far mencurahkan rasa cintanya kepada Rasulullah dengan menulis syair-syair yang begitu indah hingga kemudian menjadi Barjanzi. 

Syekh Ja’far menempatkan Nabi Muhammad pada posisi sentral dalam kehidupan dunia. Tidak hanya bagi umatnya, tetapi juga bagi umat manusia seluruhnya. Bait-bait Barjanzi membawa pembacanya menyadari kebenaran berasal dari sumber yang satu yakni Alquran dan Muhammad SAW adalah Rasul yang paling mulia. 

Bait-bait Barjazi mengajak pembacanya menyelami samudra cinta, melepas rasa rindu kepada orang paling mulia yakni Nabi Muhammd SAW. Bahkan bedasarkan keterangan sejumlah ulama meyakini Nabi Muhammad menyaksikan saat seseorang membaca shalawat ketika mahallul qiyam. Karenanya pembaca Barzanji pun menyambut dengan marhaban, marhaban ya nural aini, marhaban marhaban jaddal husaini. Dan dilanjutakan sholatawat.

Ada juga kitab Simtu ad-Durar. Kitab ini berisi kisah hidup, akhlak, dan puji-pujian untuk baginda Rasulullah SAW. Kitab ini sangat popular dilantunkan umat Islam Indonesia. Jika maulid tiba, Simtu ad-Durar menggema di tiap wilayah. Penggubahnya yakni seorang sufi dari Hadramaut yang begitu mencintai Rasulullah SAW yaitu Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi. 

Di Solo saban tahunnya keturunan dari Habib Ali al-Habsyi beserta umat Muslim dari berbagai daerah melantunkan Simtu ad-Durar bertepatan dengan haul Habib Ali al-Habsyi. 

photo
Kawasan Raudhah dan koridor di depan Makam Rasulullah SAW kian padat menyusul makin banyaknya jamaah haji yang tiba di Madinah, Selasa (24/7). Para jamaah berebut mengunjungi tempat yang disebut penuh berkah tersebut.

Habib Ali al-Habsyi adalah seorang ulama yang wara yang lahir di sebuah desa kecil yaitu desa Qasam, Hadramaut pada Jum’at 24 Syawal 1259 hijriyah atau 1839 Masehi. 

Ayahnya yakni Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi juga seorang ulama besar yang kerap bedakwah ke berbagai kota. Sementara ibunya yaitu Alawiyyah binti Husain juga seorang pengajar. Setelah dewasa Habib Ali pun menjadi ulama besar yang kerap mendakwahkan Islam ke berbagai pelosok di Yaman. 

Ketika usianya mencapai 68 tahun tepatnya 26 Shafar 1327 hijriyah, Habib Ali meminta murid-muridnya mencatat paragraf awal dari maulid Simtu ad-Durar dan menyempurnakannya beberapa bulan setelah itu.

Simtu ad-Durar merupakan tanda kecintaannya terhadap baginda Nabi Muhammd SAW yang diwariskan kepada keturunannya serta untuk umat Islam. Simtu ad-Durar pun tersebar luas di seluruh Hadramaut hingga ke negara-negara lainnya termasuk ke Indonesia. 

Selain itu ada juga Burdah al-Bushiri. Seperti yang lainnya, Burdah al-Bushiri juga berisi syair pujian atau sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Burdah al-Bushiri kerap dilantunkan mayarakat Indonesia di banyak acara selain maulid nabi, bahkan Burdah al-Bushiri kerap dilantunkan sebelum berlangsungnya majelis ilmu. 

Lantunan syair indah Burdah al-Bushiri adalah mahakarya seolang ulama besar Mesir yakni Imam al-Bushiri (610-695 H) atau bernama lengkap Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri. 

Selain Burdah al-Bushiri, terdapat beberapa kitab berisi syair-syair pujian kepada Rasulullah yang ditulis olehnya seperti Qasidah al-Mudhariyah dan Qasidah al-Hamziyah. Pada Burdah al-Bushiri pembacanya tak hanya diajak untuk mempertebal kecintaan kepada Nabi Muhammad. 

Lebih dari itu, tiap bait syari Burdah al-Bushiri disusun begitu indah dengan sastra yang tinggi. Burdah al-Bushiri merupakan luapan cinta yang begitu besar dari seorang hamba kepada Nabi Muhammad SAW. 

Menurut beberapa keterangan, Qasidah al-Bushiri dibuat saat Imam Bushiri menderita sakit lumpuh. Ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Nabi  mengusah wajahnya serta mengenakan jubah ke tubuh Imam Bushiri. Dan saat terbangun Imam Bushiri pun sembuh dari sakit lumpuh yang dideritanya.  

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA