Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Kahar Mudzakkir dan Sardjito: Door Het Geven Wordt Men Rijk

Jumat 08 Nov 2019 10:06 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Dr Sardjito General Hospital in Yogyakarta (photo file)

Dr Sardjito General Hospital in Yogyakarta (photo file)

Foto: seaorchid.org
Kahar Mudzakkir dan Sardjito: Teladan Sang Pahlawan

Oleh Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia

November 2019 merupakan waktu yang sangat membahagiakan bagi keluarga besar Universitas Islam Indonesia (UII). Apa pasal? Dua mantan rektor UII ditetapkan oleh Presiden Jokowi sebagai pahlawan nasional, setelah penantian yang cukup lama. Mereka adalah Prof KH Abdul Kahar Mudzakkir dan Prof Dr M Sardjito M.D., M.P.H. Kedua pahlawan ini telah meninggalkan jejaknya yang terekam indah dalam sejarah UII dan republik ini.

Pak Kahar, Penyemai Nilai

Pak Kahar, demikian kami memanggilnya, menjabat sebagai rektor UII sejak berdirinya pada 1945 sampai dengan 1960. Sebelumnya, sepulang dari Kairo, beliau telah mengabdikan dirinya menjadi direktur madrasah Mu'allimin Muhammadiyah, Yogyakarta. Pak Kahar juga merupakan anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan yang menggagas Piagam Jakarta, cikal bakal Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila.

Pak Kahar menjadi nakhoda UII, yang awalnya bernama Sekolah Tinggi Islam (STI), selama 15 tahun. STI adalah pionir pendidikan tinggi di Indonesia, yang didirikan sebelum Indonesia merdeka, di Jakarta pada 27 Rajab 1364 yang bertepatan dengan 8 Juli 1945. Masa-masa awal STI sangat menantang, ketika nilai mulai disemai. Pak Kahar mengawal ini dengan sangat serius.

photo
Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir

Hampir semua dosen UII pada saat itu adalah pejabat negara. Beberapa di antaranya Drs Mohammad Hatta, Mr Ali Boediardjo, Mr Moh Yamin, H Agus Salim, dan KH Mas Mansur. Kala itu, mata kuliah Kebudayaan dan Bahasa Jepang tidak diajarkan untuk menegaskan sikap UII yang antipenjajahan. Inilah nilai kebangsaan yang sejak awal melekat kuat di UII.

Ketika Belanda berupaya menduduki kembali Indonesia, ibu kota berpindah ke Yogyakarta pada awal 1946. UII tidak mempunyai pilihan lain, kecuali ikut pindah. Pak Kahar tetap mengawal UII dengan gigih. Ketika dibuka kembali di Yogyakarta, nilai integrasi ditegaskan: UII adalah tempat berpadunya ilmu pengetahuan dan ajaran agama.

Pengawalan nilai kebangsaan dibuktikan dengan bersatunya warga UII, dosen dan mahasiswa, dengan warga dalam mempertahankan kemerdekaan. Kampus diliburkan. Namun, untuk menjaga eksistensi UII, Pak Kahar masih memperingati hari lahir UII yang keempat pada 1949. Tidak di kampus, tetapi di Tegalayang, sebuah desa di sisi selatan Yogyakarta.

A. Kahar Muzakkir (duduk, kedua dari kiri). Sumber foto: Diplomasi Revolusi di Luar Negeri.

  • Keterangan Foto: Abdul Kahar Muzakkir (duduk, kedua dari kiri) melakukan  diplomasi pengakuan kemerdekaan di Mesir.

Beragam kerja sama dengan universitas kelas dunia, seperti McGill University, Columbia University, dan Cairo University (King Fuad I University) telah dijalin oleh Pak Kahar pada masa itu. Inilah nilai mondialitas yang disemai sejak UII masih berusia muda.

Pak Kahar meninggal pada 1973, ketika masih menjabat sebagai dekan Fakultas Hukum UII, yang dijabatnya mulai 1960. Bagi Pak Kahar, menjadi dekan selepas menjadi rektor tidak ada kaitannya dengan kemuliaan seseorang. Inilah nilai kolegialitas. Jabatan struktural di kampus adalah amanah, bukan anak tangga kemuliaan. Semasa hidupnya, Pak Kahar menjaga betul kemuliaan orang lain, termasuk dosen, karyawan, dan mahasiswa.

"Manusia seperti gigi-gigi sisir, " ungkap Pak Kahar dalam sebuah ceramah di depan Ikhwan di Singapura pada 1956. Intinya adalah persaudaraan, yang tak mungkin ada tanpa saling memuliakan. Lanjut Pak Kahar, "Selama kaum Muslimin mengamalkan persaudaraan, naiklah derajatnya menjadi umat manusia yang tinggi kebudayaannya. Bahkan bisa menjadi guru bagi seluruh dunia."

photo
Kampus UII Yogyakarta.

 

Pak Sardjito, Pelebat Manfaat

Pak Sardjito mengabdikan dirinya sebagai rektor UII mulai 1963 sampai dengan 1970. Sebelum di UII, beliau adalah rektor perintis Universitas Gadjah Mada pada 1949-1961. Sebelum kembali ke Indonesia pada 1916, Pak Sardjito sudah melanglang buana di daratan Eropa, termasuk menjadi dokter di Jerman. Beliau adalah sosok ilmuwan yang inovatif dan pemimpin yang tangguh. Beragam vaksin dan obat ditemukannya. Meski demikian, Pak Sardjito tidak ingin obat temuannya tersebut dijual mahal. "Obat ini untuk rakyat," katanya suatu ketika.

Pak Sardjito merupakan rektor ketiga UII. Meski hanya menjabat selama tujuh tahun, beragam gebrakan dibuatnya. Kehadiran UII di Bumi Pertiwi dilebatkan manfaatnya. UII membuka cabang di banyak kota, termasuk Cirebon, Gorontalo, Madiun, Bangil, dan Klaten. Dua cabang lain di Purbalingga dan Kediri juga disiapkan.

photo
Prof. Dr, M. Sardjito,MPH

Sampai beliau wafat di tengah periode amanah, UII mempunyai 22 fakultas yang tersebar di delapan kota, termasuk Purwokerto, Surakarta, dan Yogyakarta. Beragam fakultas eksakta dibuka pada saat itu, termasuk kedokteran, farmasi, teknik, dan peternakan. Ikhtiar ini melengkapi fakultas lain yang sebelumnya sudah ada: syariah, hukum, ekonomi, dan tarbiyah. Pada masa kepemimpinan Pak Sardjito, UII mendapatkan status "disamakan", status tertinggi untuk sebuah perguruan tinggi swasta.

Kampus-kampus cabang tersebut akhirnya dilepas oleh UII karena munculnya regulasi pemerintah pada saat itu, yang sangat memberatkan UII, meski negara pada saat itu belum mampu menyediakan kursi yang cukup untuk anak bangsa. Sebagian bergabung dengan kampus terdekat, seperti fakultas kedokteran yang bergabung dengan Universitas Sebelas Maret.

Meski demikian, kecintaan UII terhadap negara ini tidak berkurang. Kontribusi UII kepada bangsa diwujudkan dalam sumbangan pemikiran yang disampaikan kepada MPRS yang melangsungkan Sidang Istimewa pada 1966. Pak Sardjito merupakan anggota MPRS pada 1967 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968. Amanah tersebut diembannya bersamaan dengan menjadi rektor.

Pak Sardjito adalah sosok dengan dedikasi luar biasa, jujur, terbuka, dan tanpa pamrih. Selama menjadi rektor, beliau tidak mau menerima gaji dan uang sidang dari UII. Bagi beliau, "door het geven wordt men rijk", yang berarti "memberi membuat kita menjadi kaya". 

Teladan Bangsa

Pak Kahar dan Pak Sardjito merupakan dua anak bangsa sudah selayaknya diberi gelar pahlawan oleh bangsa ini. "Bangsa yang besar adalah bangsa menghargai jasa para pahlawannya", ungkap Bung Karno suatu ketika.

Kita belajar dari keduanya tentang kematangan dalam berpikir, ketekunan dalam bertindak, dan keikhlasan dalam menunaikan amanah. Ini adalah kombinasi yang terasa menjadi kemewahan yang sulit dijangkau pada masa kini. Keduanya telah menorehkan keteladanan dalam menyemai nilai, melebatkan manfaat, serta mencintai bangsa dan negara ini. Tidak hanya bagi warga UII, tetapi juga bagi bangsa Indonesia.

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA