Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Kajian Filologis Kitab Sahih Bukhari

Rabu 23 Oct 2019 04:43 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Kitab Sahih Bukhari

Kitab Sahih Bukhari

Foto: Menachem Ali
Kajian Filologis Kitab Sahih Bukhari

Oleh: Menachem Ali, Dosen Philology Universitas Airlangga.

Berdasarkan uji karbon C-14 terhadap manuskrip kuno kitab Sahih Bukhari yang tersimpan di British Library, School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, ternyata manuskrip tersebut diidentifikasi ditulis pada 1185-1186 M, atau ditulis pada Abad ke-12 M, sedangkan Imam Bukhari wafat 256 H/870 M, atau Abad ke-9 M.

Jadi, ada jarak sekitar 300 tahun antara manuskrip Shahih Bukhari yang tersimpan di British Library ini dengan periode kehidupan Imam Bukhari. Maka pasti ada manuskrip lain yang lebih tua. Menariknya, manuskrip Shahih Bukhari ini memuat teks hadits dengan disertai tanda harakat (syakl). Ini menjadi sebuah indikasi kuat bahwa tradisi penggunaan tanda baca/harakat (syakl) pada teks hadits Shahih Bukhari telah populer bertahan minimal selama 300 tahun sejak era Imam Bukhari.

Manuskrip kitab Sahih Bukhari yang tersimpan di British Library ini memang bukan manuskrip asli tulisan Imam Bukhari, tetapi hanya merupakan manuskrip salinan. Indikasi manuskrip ini disalin atau ditulis ulang dapat diidentifikasi melalui bukti internal teks, karena pada awal teksnya tertulis frase اخبرنا البخاري (akhbarana Al-Bukhari) yang ditulis di awal periwayatan hadits. Jadi manuskrip ini memang tidak ditulis langsung oleh Imam Bukhari.

Namun yang lebih menarik, ortografi penulisan الا ملكه (illa mulkahu) sebagaimana yang termaktub dalam manuskrip ini justru menjadi penting sebagai bukti tekstual tentang popularitas mayoritas bacaan yang shahih selama rentang waktu 300 tahun sejak era Imam Bukhari. Selain itu, manuskrip kuno kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di Toroudant Library, Marocco, berdasarkan identifikasi kolofonnya tertulis pada tahun 490 H (1097 M), atau ditulis pada Abad ke-11 M, sedangkan Imam Bukhari wafat 256 H (870 M), atau Abad ke 9 M. Jadi, ada jarak sekitar 227 tahun antara manuskrip Shahih Bukhari yang tersimpan di Torudant Library ini dengan periode kehidupan Imam Bukhari. Maka pasti juga ada manuskrip Shahih Bukhari yang lebih tua lagi dibanding manuskrip ini.

Menariknya, manuskrip Shahih Bukhari ini memuat teks hadits dengan disertai tanda harakat (syakl). Ini menjadi sebuah indikasi kuat bahwa tradisi penggunaan tanda baca/ harakat (syakl) pada teks hadits Shahih Bukhari telah populer bertahan minimal selama 227 tahun sejak era Imam Bukhari. Manuskrip kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di Toroudant Library ini memang bukan manuskrip asli tulisan Imam Bukhari, tetapi hanya merupakan manuskrip salinan.

Namun yang lebih menarik, ortografi penulisan الا ملكه (illa mulkahu) sebagaimana yang termaktub dalam manuskrip ini justru menjadi penting sebagai bukti tekstual tentang popularitas mayoritas bacaan yang shahih selama rentang waktu 227 tahun sejak era Imam Bukhari.

Sementara itu, manuskrip kuno kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di museum Murad Molla Kutuphanesi, Turkey dengan nomor registrasi berkode CD 4241, ternyata merupakan manuskrip yang usianya jauh lebih tua dibanding manuskrip kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di British Library (London) dan manuskrip kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di Toroudant Library (Marocco). Manuskrip kitab Shahih Bukhari koleksi museum Murad Molla Kutuphanesi ini diidentifikasi ditulis pada tahun 900-an M., atau Abad ke-9 M., sedangkan Imam Bukhari wafat pada tahun 870 M. Jadi ada jarak hanya sekitar 30 tahun antara manuskrip kitab Shahih Bukhari koleksi museum Murad Molla Kutuphanesi ini dengan periode kehidupan Imam Bukhari. Dengan demikian, manuskrip ini adalah naskah terkuno yang hanya berjarak sekitar 30 tahun dengan periode Imam Bukhari sebagai sang otograf kitab Shahih-nya.

Menariknya, manuskrip koleksi museum Murad Molla Kutuphanesi ini ditulis dengan menggunakan tanda harakat (syakl) yang tidak sempurna, dan pada teks hadits-nya ternyata tertulis frase ملكه (mulkahu). Ini sebagai fakta tekstual adanya popularitas bacaan yang ditransmisikan secara shahih dalam rentang waktu masa awal 30 tahun sejak periode kehidupan Imam Bukhari.

Berdasarkan ketiga manuskrip Shahih Bukhari tersebut, maka validitas ortografi penulisan (Arab: "kitabah") الا ملكه (illa m-l-k-h) sekaligus bacaan (Arab: "qiraah") illa mulkahu tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Itulah sebabnya, penerbitan Salafi ternyata juga mengakui keakuratan/keotentikan frase tersebut sebagai bagian dari tulisan asli Imam Bukhari sendiri. Ada 2 kitab cetakan Shahih Bukhari yang berasal dari penerbit Salafi yang sempat saya identifikasi, yakni:

1. Sahih Bukhari (Beirut, Lebanon: Dar Ibn Hazm, 1430 H/ 2009 M), hlm. 892

2. Sahih Bukhari (Riyadh, Saudi Arabia: Dar as-Salam, 1419 H/ 1999 M), hlm. 837

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA