Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

'Tajsim' Versi Muslim non-Asy'ariyah Dan Hindu Hare Krishna

Jumat 18 Okt 2019 04:33 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Dewa Khrisna

Dewa Khrisna

Foto: Menachem Ali
Tasjim' Versi Muslim non-Asy'ariyah Dan Hindu Hare Krishna

Oleh: Menachem Ali, Dosen Philology Universitas Airlangga

Kaum Hindu Hare Krishna (ISKCON) juga mengenal nama الله (ALLAH) sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sebagaimana penjelasan AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada dalam uraiannya mengenai ayat suci Weda. Ayat suci yang termaktub dalam kitab Bhagavad-gita X.7 menyebutkan demikian:

etam vibhutim yogam ca
mama yo vetti tattvatah
so 'vikalpena yogena
yujyate natra samsayah

من يقر بان هذا المجد هو مجدي
وهذه القوة هي قوتي في الحقيقه
يكرس نفسه في خدمتي
هذا مما لا شك فيه

("Orang yang sungguh yakin tentang kemulian-Ku dan kekuatan batin-Ku ini menekuni bhakti yang murni dan tidak dicampur dengan hal-hal lain, kenyataan ini tidak dapat diragukan").

ان ذروة الكمال الروحي تتمثل بمعرفة الاله الشخصي الاسمي. وما لم ترسخ قناعة الفرد في مختلف غني ومقدرات المولى، لا يمكن له ان ينشغل في الخدمة المكرسة. يعلم البشر غالب ان الله كبير. لكنهم لا يعلمون بالتفصيل كم كبير هو الله.


("Puncak tertinggi kesempurnaan rohani adalah pengetahuan tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Kalau seseorang belum yakin dengan mantap tentang berbagai kehebatan Tuhan Yang Maha Esa, ia belum dapat menekuni bhakti. Pada umumnya orang mengetahui bahwa sesungguhnya ALLAH Mahabesar, tetapi mereka belum mengetahui secara terperinci bagaimana ALLAH sebagai Dia Yang Mahabesar"). Lihat AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Bhagavad-gita bil Lughah al-'Arabiyyah (Tel-Aviv: Dar Bhaktivedanta, 1972), hlm. 497

Srila Prabupada berkata: كم كبير هو الله (kam kabir huwa ALLAH), lit. "bagaimana Dia ALLAH sebagai Yang Mahabesar." Oleh karena itu, pengagungan nama ALLAH sebagai الاسم (Al-Ism), lit. "Sang Nama" bukanlah hak eksklusif hanya bagi umat Islam saja. Kaum Sikh, Yahudi dan Kristen juga menggunakan nama sakral tersebut sebagai "proper name" (nama diri-Nya). Namun, mereka menggunakan nama itu sesuai dengan kaidah gramatika bahasa Arab yang benar.

Komunitas Hindu Hare Krishna (ISKCON) memiliki kesamaan pandangan dengan komunitas Muslim Salaf(i), terutama berkaitan dengan konsep "tajsim." Menurut aqidah komunitas Hindu (ISCKON), Sri Krishna adalah sumber dari asul-usul penciptaan Brahma, Wishnu, dan Siwa. Hal ini sebagaimana teks berbahasa Sanskrit yang termaktub dalam kitab suci Bhagavad-gita X.8 Sri Krishna bersabda:

aham sarvasya prabhavo
mattah sarvam pravartate
iti matva bhajante mam
budha bhava-samanvitah

"Aku adalah sumber segala dunia spiritual dan dunia material. Segala sesuatu berasal dari-Ku. Orang bijak yang mengetahui hal ini tekun dalam bhakti kepada-Ku dan memuja-Ku dengan segenap hatinya."

Dalam kitab suci Weda, khususnya kitab Brahma Purana I.1.4 terdapat nas yang berbunyi demikian.

vande krishnam gunatitam param brahma acyutam yatah
avirbabhruvah prakriti brahma vishnu shivadayah

(“Hamba menyampaikan sembah sujud pada Sri Krishna, yg berada diluar pengaruh 3 sifat alam (sattvam, rajas, tamas). Sri Acyuta (Krishna) adalah Brahman Yang Paling Utama, dari Dialah muncul Brahma, Vishnu dan Siwa dan seluruh dunia”).

Selain itu, kitab suci Atharva-veda, khususnya bagian "Krisnopanishad" juga menyatakan hal yang sama, sebagaimana teks berbahasa Sanskrit yang berbunyi demikian.

om krishno vai sac-cid-ananda-ghanah
krishna adi purushah
krishnah purushottamah
krishno ha u karmadi mulam
krishnah saha sarvai-karyah
krishna kasham krid-adisha mukha-prabhu-pujyah
krishno nadis-tasmin-ajandantar bahye
yam-mangalam tal-labhate kriti

(”Warna Sri Krishna bagai awan menjelang hujan, karena itu Krishna diumpamakan bagai awan rohani yg penuh kekekalan, pengetahuan dan kebahagiaan. Dia adalah Kepribadian awal, dan Dia adalah asal mula dari segala aktivitas dan hanya Dia sebagai penguasa segala sesuatu. Sri Krishna adalah Tuhan sesembahan semua dewa yang terbaik. Dia adalah pengendali Brahma, Vishnu dan Siwa. Krishna tiada berawal. Kemujuran apa pun yang ada di dalam dan di luar alam semesta ini, hanya didapatkan pada Krishna sendiri").

Bahkan, disebutkan pula dalam kitab Sruti-Weda, khususnya kitab Gopaltapani Upanisad 1.3 disebutkan nas demikian.

Krishno vai paramam daivatam

("Sri Krishna adalah wujud Tuhan Yang Maha Esa").

Dalam pengajaran teologis komunitas Hindu Hare Krishna (ISKCON), Sang Maha Pencipta itu sebenarnya wujudnya personal (Arabic: "tajsim"), bukan impersonal. Itulah sebabnya Dia dikenal sebagai "Narayana." Konsep ini sebenarnya sepadan dengan aqidah kaum Muslim Salaf (i) yang juga mengajarkan bahwa ALLAH itu sebenarnya personal tetapi tidak seperti makhluk-Nya. Perbedaannya, kaum Hindu Hare Krishna membenarkan membuat "pratima" Sang Maha Pencipta, sedangkan kaum Muslim Salaf(i) tidak membenarkan membuat gambar atau patung Sang Maha Pencipta.

AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada menjelaskan mengenai hakekat Sri Krishna sebagaimana yang dijelaskan dalam komentar kitab Sri Isopanishad:

اما فراها برانا فتقول: نراينا هو الله، الشخص الامثل، ومنه اتى براهما ذو الرؤوس الاربعة؛ وكذلك منه صدر بالتالى ردرا العالم بكل شىء.

"Juga dinyatakan dalam kitab Varaha Purana: Narayana Dialah ALLAH. Brahma yang berkepala 4 terwujud dari Narayana. Begitu pula Rudra, yang kemudian mengetahui segala sesuatu." Lihat. AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Sri Isophanishad bil Lughah al-'Arabiyyah (Tel-Aviv: Dar Bhaktivedanta, 1972), hlm. 69

AC. Bhaktivedanta Swami Prabupada menjelaskan bahwa sebutan "Narayana" itu merujuk kepada wujud Krishna berlengan 4 yang berkuasa di planet-planet Vaikuntha. Lihat Bhagavad-gita Menurut Aslinya (Jakarta: Hanuman Sakti, 2000), hlm. 870. Itulah sebabnya Sri Krishna disapa sebagai "Narayan" karena Sri Krishna dinyatakan sebagai TUHAN yang berwujud yang memiliki 4 lengan, Tuhan berwujud (personal) ini tidak sama wujud hakikinya dengan tangan/lengan manusia atau pun tangan semua ciptaan-Nya.

Jangan bertanya mengenai كيفية (kaifiyah) tentang Dia. Komunitas Hindu (ISCKON) ini sangat tidak membenarkan adanya ta'wil (baca: anti-ta'wil) terhadap nas kitab suci, dan memahami nas apa adanya tanpa ta'wil. Bila Anda memahami TUHAN sebagai Tuhan yang tidak berwujud (impersonal), maka semestinya Anda tidak memahami Tuhan yang sebenarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA