Rabu 16 Oct 2019 23:25 WIB

Bagi Seorang Mukmin, Sakit Bisa Jadi Kabar Gembira dari-Nya

Sakit menjadi penghapus dosa untuk mukmin.

Suasana di sebuah rumah sakit (ilustrasi)
Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Suasana di sebuah rumah sakit (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  *Feri Anugrah

Sesungguhnya Allah Mahaadil kepada setiap hamba-Nya dengan memberikan sehat dan sakit secara bergiliran. Ketika sehat, manusia bisa beraktivitas dan beribadah kepada Allah dengan baik. Namun, saat sakit itu datang menimpa diri sebagai bukti kita tidak sempurna, aktivitas dan ibadah pun agak terganggu.

Baca Juga

Meski demikian, bagi orang beriman, sehat ataupun sakit tidak menjadi halangan untuk tetap dekat dengan Allah. Ketika sehat, ia semakin bersyukur kepada Allah. Begitu juga ketika sakit tiba, syukur itu tetap tidak berubah. 

Sakit adalah bentuk lain dari cinta Allah kepada hamba- Nya. Karena dengan sakit itulah kita ternyata makin ingat kepada Allah, makin sadar bahwa diri kita benar-benar tidak berdaya tanpa pertolongan-Nya.

Itulah hikmah sakit yang memang harus segera disadari dan dinikmati karena segala takdir Allah adalah kebaikan yang akan mengantarkan kita kepada kesalehan diri. Namun, sakit akan menjadi sebab timbulnya dosa apabila disikapi dengan buruk sangka kepada Sang Khalik yang memberi sakit.

Sesungguhnya, jangankan kita sebagai manusia biasa, Rasulullah yang mulia saja pernah merasakan sakit. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh sahabat Ibn Mas'ud suatu ketika dirinya pernah masuk ke rumah Rasulullah yang ketika itu kebetulan beliau sedang sakit.

Kemudian, Ibn Mas'ud pun memegang tubuh Rasulullah yang mulia itu seraya ia berkata, Sungguh tubuhmu panas sekali. Rasulullah yang terbaring sakit pun menjawab, 'Memang, aku menderita panas dua kali lipat (yang diderita) orang-orang seperti engkau'. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Bersabar diri, segera mengingat Allah, ikhtiar/berobat, dan menyadari, manusia benar-benar lemah tanpa pertolongan-Nya adalah di antara sikap yang harus dilakukan manakala diri kita sakit. Mengeluh atau berburuk sangka kepada Allah hanyalah perbuatan yang akan menambah derita. Semua ini memang sangat berat, tetapi bukan berarti tidak bisa dipraktikkan.

Di samping itu, kita juga harus bergembira dengan sakitnya diri kita tidak berdaya. Apa sebab? Karena ternyata sakit adalah satu di antara cara Allah menghapus dosa-dosa kita yang terkadang kita sering tidak menyadarinya. Bahkan, kita malah menggerutu kepada Sang Khalik tanpa alasan.

Rasulullah pernah bersabda dalam hadis, Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotorankotoran besi (HR Muslim).

Kita sejatinya menambah rasa syukur kepada Allah karena ternyata takdir pilihan-Nya tidak ada yang sia-sia untuk manusia. Sakit pun menjadi kabar gembira untuk kita karena artinya dosa yang mengotori jiwa akan perlahan hilang sebagaimana hadis Rasulullah di atas.

Satu hikmah sakit saja kita dapat merenunginya dengan baik, rasanya sakit itu tidak akan jadi bahan keluh kesah. Kita memahami sehat itu mahal harganya dan menjaga kesehatan adalah salah bentuk ikhtiar yang diwajibkan.

Namun, ketika sakit itu datang, sebagai orang beriman, harus diterima dengan sabar dan tidak berhenti ikhtiar meminta diganti dengan kesembuhan oleh Yang Maha Menyembuhkan, Allah Yang Agung. Wallahu a'lam. 

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement