Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Titipkan Anak ke Orang Tua, Bagaimana Pandangan Agama?

Selasa 15 Oct 2019 17:44 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi sekeluarga mengaji, mengaji sekeluarga, mengaji bersama, ngaji bersama

Ilustrasi sekeluarga mengaji, mengaji sekeluarga, mengaji bersama, ngaji bersama

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Menitipkan anak kepada orang tua tak sesuai pendidikan Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Seorang anak akan dibesarkan dengan sentuhan orang tua. Itu fitrah. Ada hikmah tersimpan di balik ketentuan itu. Sayangnya, justru sebagian orang memilih “menitipkan” buah hati ke kakek-nenek atau bahkan lembaga penitipan anak.  

Baca Juga

Ketua Yayasan Dinamika Umat Ustaz Hasan Basri Tanjung mengatakan, saat kedua orang tua apalagi ibu lebih memilih karier ketimbang mendidik anak, sangat berisiko.

Merugi pula bila perempuan cerdas tetapi justru kecerdasannya itu tak disalurkan kepada anaknya. Memang karena alasan darurat ekonomi, Islam tidak melarang ibu berkarier. Tapi, ingat ibu adalah madrasah pertama bagi anak. “Mestinya jangan dilewatkan begitu saja,” katanya sebagaimana dikutip dari arsip Harian Republika, Selasa (15/10). 

Dosen Universitas Islam Djuanda (Unida) Bogor ini pun berbagi saran. Karena, bagaimanapun kewajiban orang tua terhadap anak harus ditunaikan. Maka, minimal selalu sempatkan diri menemani anak sarapan dan mengantarkannya ke sekolah.

Bila kedua orang tua bekerja, atur jadwal. Hindari berangkat dan pulang di waktu yang sama. Misal, keduanya berangkat suubuh dan pulang larut malam. Sebisa mungkin luangkan waktu untuk mendidik, mengawasi, dan memberikan perhatian kepada anak. Orang tua harus membagi waktu secara proporsional. 

Ia mengomentari “penitipan” anak kepada kakek-nenek atau pengasuh. Ini sah-sah saja. Tapi ingat, kata Hasan, kasih sayang kedua orang tua tak tergantikan. Perhatian berlebih kakek-nenek, justru lebih identik dengan memanjakan. Ini dianggap kurang baik. Tak sedikit anak bermasalah lantaran kurang perhatian dari orang tua. Karenanya, tuntunan mendidik anak haruslah orang tua. Perhatikan seruan Luqman al-Hakim, “wahai anakku” dan bukan “wahai cucuku”. 

Akibatnya, anak akan kehilangan keteladanan dan panutan dari orang tua. Bahkan, akan kehilangan arah dan pegangan hidup. Lantas, ia akan mencari contoh dari orang lain. Biasanya, lingkungan terdekat, seperti sahabat atau sekolah. Bila baik maka baik, tetapi jika buruk, akan membawa efek negatif bagi anak.

Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia Ustaz Nurul Huda Haem mengatakan, karier dan kesibukan orang tua masa kini bukan menjadi alasan untuk melepaskan tanggung jawab pendidikan anaknya di rumah.

Jika dibandingkan dengan Rasulullah SAW dahulu, orang tua saat ini jauh lebih banyak memiliki waktu luang. Dahulu Rasulullah harus berdagang, berdakwah, dan memimpin perang, tetapi tetap mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.

Sebenarnya, yang dibutuhkan orang tua saat ini adalah bagaimana menjangkar emosi anak. Sebab, selama ini orang tua merasa jauh dengan anak karena alasan sibuk.

Orang tua perlu mencontoh Rasul bagaimana dekat dengan anak. Rasul menjangkar emosi kedua cucunya, Hasan dan Husein, dengan permainan engker, seperti kuda-kudaan yang naik ke punggung Rasulullah.

Bahkan, saat Rasulullah sujud, Hasan menganggap sang kakek mengajak bermain sehingga melompat ke punggung Rasul. Rasulullah pun memperlama sujudnya hingga Hasan turun.

Saat yang sama, orang tua membutuhkan waktu dengan mendekatkan diri kepada anak secara emosi. Anak memiliki hak untuk mendapatkan langsung pendidikan dari orang tuanya.

Menurut sosok yang akrab di sapa Gus Enha ini, hal tersebut hanya masalah cara bagaimana orang tua menguasai ilmu parenting. Saat ini, banyak alat untuk dimanfaatkan orang tua.

Orang tua dapat meluangkan waktu dengan menelepon atau peralatan lain. Hal terpenting adalah anak mendapatkan mentalitas kuat bahwa dirinya dekat dengan kedua orang tuanya.

Tetapi , ujar Gus Enha, jika orang tua tetap memilih untuk menitipkan anak, harus siap dengan konsekuensinya. Kakek nenek atau pengasuh lainnya tidak memiliki pola yang sama dengan cara mendidik kedua orang tuanya. Malah, justru saat orang tua tidak nyaman dengan sikap anaknya, kerap mendapat jawaban tak enak dari anak.

“Seperti, ia mengeluh saya tidak mendapatkan pendidikan seperti itu biasanya, kakek neneknya tidak mengajarkan apa yang diinginkan orang tuanya,” ujarnya. Dengan alasan seperti itu orang tua jangan memprotes orang yang dititipinya.

Solusi yang baik bagi orang tua yang sibuk bekerja adalah dengan memperbaiki komunikasi pengasuhan anak. Pertama, orang tua harus menyediakan waktu luang khusus untuk anak. “Jangan menduakan anak dengan hal lain,” katanya. Terserah orang tua bisa memiliki waktu satu jam sehari atau satu hari dalam satu pekan.

Kedua, orang tua perlu mengafirmasi dirinya terhadap anak. Artinya, berbicara fokus terhadap anak dan hanya untuk anak. Ini penting sebelum menyetarakan emosi dengan anak.

Ketiga, menyetarakan emosi dengan anak. Sehingga, orang tua dapat menyelami perasaan si anak saat diajak berbicara. Keempat, memimpin komunikasi dengan tetap menyetarakan emosi. Jangan sampai anak merasa terus-menerus dinasihati, padahal ia sedang tidak ingin dinasihati.

Kelima, terminasi artinya hal yang dibicarakan oleh orang tua hanya pada satu masalah saja. Jangan sampai waktu yang sedikit menjadi waktu yang tidak berkualitas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA