Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Menjernihkan Hati

Rabu 16 Okt 2019 03:03 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: blog.science.gc.ca
Hati semakin sakit apabila prasangka negatif ikut pula menyertainya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bahagia

Nabi SAW bersabda, "Seorang hamba apabila melakukan suatu dosa maka akan ada titik hitam di hatinya. Apabila ia meninggalkannya, meminta ampun dan bertobat kepada Allah, hatinya bersih kembali. Apabila ia kembali berdosa, titik hitam itu akan kembali lagi hingga menutupi hatinya. Itulah yang disebut ran." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hati semakin sakit apabila prasangka negatif ikut pula menyertainya. Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, "Jauhilah prasangka karena prasangka itu sebohong-bohong pembicaraan. Janganlah kalian menjadi orang yang sensitif, jangan mengorek-ngorek kesalahan orang lain (memata-matai orang lain), janganlah saling bersaing, jangan saling mendengki, dan jangan pula saling mengkhianati. Dan, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR Imam Muslim).

Hadis ini memberikan beberapa pelajaran kepada kita. Pertama, rajin beribadah. Setiap manusia tak luput dari dosa dan melakukan kesalahan sehingga berpotensi untuk menambah dosa. Dosa kemarin belum tertebus, tetapi sudah ditambah yang baru. Giat bersedekah kepada orang yang membutuhkan termasuk salah satu jalan untuk menghilangkan. Sekaligus rajin untuk ikut majelis pengajian dan giat melakukan shalat.

Kedua, sering ingat kematian seakan-akan sebentar lagi ajal datang. Sedangkan, modal saat sudah masuk ke liang lahat hanya amal saleh selama di dunia. Ketiga, menghilangkan rasa benci. Pada saat persaudaraan menjadi bagian dalam jiwa maka setiap orang tak pernah membenci orang lain.

Sekaligus menjalin silaturahim dengan baik. Menolak silaturahim maka tak berkeinginan untuk membersihkan hati sebab ada kebencian. Rasa benci apabila masuk ke hati maka kebencian itu akan menutupi hati tadi sehingga tampak dalam perilaku.

Keempat, menghindari dengki dan iri hati. Kedengkian berujung kepada lupa dengan dosa. Kelima, shalat tepat waktu dan membaca Alquran. Shalat sebagai penghapus dosa dan menambah pahala. Setiap orang rajin shalat maka hati itu akan bersih terkecuali dia melakukan lagi kejahatannya setelah shalat. Keenam, menyelaraskan hati dan perilaku.

Apa yang dalam hati maka tampak dalam perilaku. Namun, kadang antagonis, isi hati berkata lain, tapi perilaku tampak tak sesuai dengan isi hati meski perilaku tanpa hati terus mengitari kehidupan kita. Para koruptor tega memakan harta rakyat. Sedangkan, para pembunuh masih tersebar sehingga hati tadi sudah mati.

Bahkan, perilaku membunuh hewan dengan membakar hutan termasuk aksi tanpa hati. Meskipun demikian, masih pula tersebar titik asap sebagai bukti hati tadi sudah mulai redup kepada lingkungan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA