Ahad 13 Oct 2019 15:10 WIB

Memahami Islam dan Jawa, Memahami Indonesia

Memahami Islam dan Jawa, Memahami Indonesia

Raja Pakubuwono X ketika berkunjung ke Masjid Luar Batang 1920
Foto: Gahetna.nil
Raja Pakubuwono X ketika berkunjung ke Masjid Luar Batang 1920

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

Mengapa mengkaji dan memahami  Islam dan Jawa Penting? Pertanyaan ini berkelebat di banyak orang, mungkin tak terlalu dihiraukan generasi ‘zaman now’ yang sibuk berpikiran dan menulis pendek ada ciutan di medsos atau sibuk membuat video yang hanya beberapa menit di instrgram dan media sosial. Alhasil, menulis dan mengkaji serta membolak-balik buku kini terkesan sebagai kebiasaan yang dianggap mulai kuno alias 'jadul’.

Tapi apa benar begitu? Tentu jawabannya sama sekali tidak. Bahkan ada ujaran mengatakan semakin baik literasi sebuah bangsa maka semakin susah bangsa itu dibodohi. Dalam arti yang lain semakin menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan sebuah bangsa maka dia akan paham seperti apa sosok dirinya.

Hal itu juga di dalam kaitanya dengan memahami hubungan Islam dan Jawa. Hal ini penting sebab sadar atau tidak, agama Islam dan suku Jawa adalah mayoritas dari bangsa Indonesia. Bahkan, sekarang bisa dikatakan 60 persen penduduk luar Jawa adalah ‘orang Jawa’. Dan agama Islam dalam statistik masih dianut oleh 80 persen penduduk Indonesia. Alhasil, menyikirkan pembahasan Islam dan Jawa beserta budayanya adalah hal yang mustahil bagi bangsa ini.

Cermin itu terdapat pada sebuah tulisan pakar sekarah Jawa asal Australia, MC Ricklefs. Dalam sebuah artikel yang membahas perlunya membaca karya bukunya yang bertajuk  ‘Mengislamkan Jawa: : Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang' terdapat pesan mengena pentingnya Islam dan Jawa dipahami untuk mengerti Indonesia secara utuh. Buku ini sudah di-launching beberapa tahun silam. Tulisannya begini:

Islamisasi Jawa? Mengapa tema ini sangat penting? Antara lain karena suku Jawa merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di dunia muslim. Dengan sekitar 100 juta dari hampir 250 juta penduduk Indonesia, etnis Jawa sekaligus merupakan suku terbesar di Indonesia. Karena itu, etnis Jawa memainkan peran penting dalam berbagai dinamika Indonesia sejak dari sosial, budaya, agama, ekonomi, dan politik dalam periodisasi sejarah nusantara.

Meski demikian, banyak kalangan, di dalam maupun luar negeri, melihat sebagian besar Muslim Jawa hanyalah abangan atau “Islam KTP”. Masih absahkah anggapan tersebut?

Sejarawan terkemuka Ricklefs membantah anggapan itu secara meyakinkan dalam karya mutakhirnya ini. Islamisasi masyarakat Jawa terus berlanjut sejak kemunculan Islam dalam masyarakat Jawa pada abad ke-14. Ia menunjukkan bahwa tanah Jawa kini makin “hijau”: Islamisasi mengalami pendalaman dan proses ini tak bisa dibalikkan.

Buku kaya data (dari beragam literatur, primer dan sekunder, juga wawancara, sensus dan survei) ini mengupas bagaimana masyarakat Muslim Jawa melewati masa sulit sejak awal penyebaran Islam, penjajahan kolonialisme Belanda dan Jepang, periode kemerdekaan, pemerintahan Presiden Soekarno yang kacau, totalitarianisme Presiden Soeharto, dan demokrasi kontemporer. Bagaimana masyarakat Muslim Jawa menempuh berbagai perubahan itu, kini menjadi contoh luar biasa dalam hal peningkatan religiusitas keislaman.

Tentu saja, proses Islamisasi itu tidak bergerak lurus (linear), tapi panjang dan berliku. Selamat menikmati kisah tentang terang-pudar Islam di Tanah Jawa sejak abad ke-14 sampai sekarang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement