Jumat 11 Oct 2019 11:00 WIB

Amil Zakat Harus Siap Hadapi Era 4.0

OPZ juga harus siap menghadapi revolusi industri 4.0

Rep: Febryan A/ Red: Agung Sasongko
Zakat
Foto: Antara
Zakat

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Arus revolusi industri 4.0 tak lagi bisa dibendung. Perubahan akan terjadi dalam banyak sisi kehidupan manusia Indonesia, termasuk perubahan dalam gerakan zakat di Indonesia. Untuk itu, para amil zakat harus beradaptasi agar tetap lincah dalam mengembangkan potensi zakat.

Hal itu adalah pokok bahasan dalam buku 'Amil Zakar Easy Going - Pemikiran dan Inisiatif Zakat Era 4.0'. Buku tersebut adalah karya dari Nana Sudiana, Direktur Pendayagunaan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), yang baru diluncurkan pada Rabu (9/10) di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Nana, dalam pemaparannya, mengatakan bahwa buku itu dibuat guna menjadi referensi bagi amil zakat untuk menghadapi era 4.0. Selain itu, buku itu juga disusun guna memberikan acuan strategi dan landasan moral dalam mengahadapi era disruptive innovation yang sudah di depan mata.

Nana mengatakan, buku yang ia tulis itu dibuat dengan sangat sederhana sehingga pembaca bisa memahami tantangan gerakan zakat di tengah gelombang revolusi industri 4.0 yang akan mewujud dalam bentuk digital economy, artificial intelligence, big data dan robotic. "Buku ini dibuat dengan simpel, tidak banyak ornamen. Kita ingin menampilkan kesederhanaan," ujar Nana.

Kecakapan amil zakat dalam menghadapi revolusi industri 4.0 tidak hanya karena gelombang itu ada di depan mata, tapi juga karena besarnya potensi zakat yang bisa digarap organisasi pengola zakat atau filantropi Islam. Yakni dengan terus tumbuhnya kelas menengah muslim yang sangat potensial untuk menyalurkan zakatnya.

Dalam buku setebal 242 halaman tersebut, Nana mengutip data Bank Dunia yang menyebut jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia telah mencapai 57 persen atau 134 juta orang pada tahun 2013. Jumlahnya pun akan terus meningkat dengan perkiraan mencapai 141 juta orang pada 2030 mendatang.

"Karena Indonesia ini dihuni mayoritas Muslim, logis saja bila komposisi kelas menengah didominasi umat Islam. Dan keunikan lain kelas menengah Indonesia adalah justru mobilitas vertikal dari sisi ekonomi ternyata dibarengi dengan kenaikan sisi religiusitas," tulis Nana.

Selain mempersiakan diri untuk mewadahi kelas menengah muslim yang tumbuh pesat, Nana juga menekankan bahwa pertumbuhan itu juga diiringi dengan penggunan teknologi yang semakin meluas. Kelas menengah muslim menurut Nana adalah kalangan melek teknologi.

"Dari hasil survei data digital 2019 oleh Hootsuite dan We Are Social disebutkan bahwa Indonesia memiliki 150 juta pengguna internet, ternyata terbesarnya adalah mereka yang berkategori kelas menengah Muslim Indonesia," papar Nana.

Nana pun berharap agar organisasi pengelola zakat (OPZ) agar bisa ikut merevolusi diri mengikuti perkembangan zaman. "OPZ sudah seharusnya meningkatkan kemampuan teknologi digital agar semakin mudah bersosialisasi dan berkampanye," katanya, masih dalam buku dengan sampul hijau terang itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement