Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Menara-Menara Merpati di Isfahan

Selasa 01 Okt 2019 10:15 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Agung Sasongko

Menara Merpati Masjid Katara

Menara Merpati Masjid Katara

Foto: katara.net
Menara merpati khas Isfahan berbentuk silinder, dan dibuat dari bata lumpur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jika melihat menara menjulang di tengah lahan atau ladang yang luas, kira-kira apakah yang terlintas di benak Anda? Sangat mungkin, Anda akan mengira itu adalah tempat penyimpanan hasil panen.

Begitu pula yang terlintas di benak Eric Hansen, penulis sekaligus fotografer asal California, AS, saat ia melihat lima menara kuno menjulang di tengah ladang terbuka di pinggiran Kota Isfahan, Iran. Namun, setelah ia amati secara saksama, menara dari batu bata itu memiliki bentuk yang berbeda dibandingkan tempat penyim panan gandum atau hasil bumi lainnya.

Menara setinggi sembilan hingga 12 meter itu memiliki ratusan lubang yang membuatnya mirip sarang lebah. Apakah menara-menara itu merupakan benteng pertahanan, dan lubang-lubang itu ber fung si sebagai celah untuk mengintai sekaligus menembak? Jika itu yang ada di benak Anda, pertanyaan lain layak pula diajukan, yakni mengapa benteng pertahanan dibangun di tengah ladang terbuka?

Setelah dilihat lebih dekat, rupanya menara-menara itu bukanlah tempat penyimpananan, dan bukan pula benteng pertahanan. Hansen, setelah membaca buku karangan Adam Olearius tentang keunggulan dan sejarah benteng Isfahan pada abad 17, akhirnya tahu bahwa menara itu merupakan menara merpati kuno, dan lubang-lubang pada dinding menara adalah tempat tinggal bagi 5.000 hingga 7.000 merpati.

Pada abad ke-17, lahan-lahan terbuka di Isfahan penuh dengan menara merpati. Jum lahnya mencapai sekitar 3.000 menara. Dalam bukunya, Olearius menulis kan, menara merpati mulai dibangun pada masa pemerintahan Shah Abbas (1571-1629) ketika Isfahan menjadi ibu kota. Menara-menara itu dibangun untuk menarik ka wan an besar burung merpati liar, dan melindungi populasi merpati dari perbu ruan.

Pada kurun waktu sebelumnya, Ghazan Khan (1271-1303), penguasa ketujuh Di nasti Ilkhaniyah, juga melarang perburuan merpati. Menara dinilai sebagai tempat ter baik untuk melindungi merpati, terutama dari pemangsa di malam hari.

Namun, keberadaan menara merpati di Isfahan, terus berkurang dari waktu ke waktu. Kini, hanya tersisa sekitar 250 hingga 300 menara. Menara merpati khas Isfahan berbentuk silinder, dan dibuat dari bata lumpur, plester kapur dan gipsum, dengan diameter 10 meter hingga 22 meter dan tinggi 18 me ter atau lebih.

Di Isfahan, menara merpati memang umumnya dibangun di dataran terbuka, dan bukan dataran tinggi. Hal ini karena dataran tinggi dinilai kurang cocok untuk membuat menara merpati.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA